Thursday, 27 October 2011

Dua Sisi :: Pembelajaran Akan Arti Keseimbangan

Semuanya telah ada yang mengatur di alam ini, layaknya sebuah sandiwara yang dimainkan oleh para pemainnya. Akan arti keadaan bersama, yang saling membutuhkan segalanya dan saling mempercayai akan arti kenyamanan, itu pun juga sudah ada yang mengaturnya. Semuanya -segala ketidaknyamanan ini, berawal ketika manusia merasa dirinya inferior dibanding segala yang ada termasuk sesamanya. Inilah penggalan cerita yang akan saya bagi.

Dua hari yang lalu aku merasa bahwa semua ini berawal dari satu titik yang kita sendiri tidak tahu dari mana titik ini berawal, tapi aku sangat meyakini akan kehadiran titik awal yang merajut semua ini kedalam satu pusaran aktivitas yang menuntut segalanya berbeda dan berbeda. Ketika aku menyadarinya, seperti sebuah de Javu aku seperti terbawa masuk ke dalam pusaran itu. Bahwa hidup ini telah sebegitu hebat dan jelasnya, mengartikan keseimbangan (balancia) ke dalam ranah kehidupan manusia. Sadari atau tidak kita dipaksa menerimanya sadar atau diluar kesadaran kita. Semuanya telah sebegitu jelas dipampangkan dihadapan kita. Tangan kita dua, kiri dan kanan. Mata kita juga. Semuanya ada alur yang mengaturnya. Ada atas, ada bawah. Ada tinggi ada rendah. Inilah pemahaman awal bagi kita tentang keseimbangan secara sederhana.

Lalu apa fisolofinya?
Di dalam waktu itu -ketika kesadaraan saya akan pemahan keseimbangan mencuat, saya sangat meyakini bahwa inilah alur kehidupan, seperti layaknya sebuah kopi yang memang nampak sangat buruk jika dilihat sekilas, karena hanya pekat tapi dalam pekat yang mencekat itu terdapat buliran cita rasa manis dan sesuatu yang membuat kita berhenti sekejap untuk memikirkan apa rasa itu.
Layaknya sebuah kehidupan, dalam pemahaman keseimbangan bahwa dalam pekat kopi terdapat suatu rasa yang menggantikan keadaan pekat itu ke dalam suatu fenomena lahiriah akan makna kepahitan itu. 

Kembali lagi kita dihadapkan kepada dua inersia keseimbangan, Pekat dan Manis. Sepertinya memang pemahaman ini sudah ada dalam segala ranah kehidupan kita, tinggal bagaimana kita memolesnya dan bagaimana kita mengambil sudut persepsi akan pemahaman tersebut.

Suatu ketika saya menghadiri sebuah upacara, momen ketika semua kebisingan tergantikan dengan kesunyian dan kekhidmatan para pesertanya dalam memahami arti sebuah perjuangan dan momen heroisme, saya sangat takjub. Suatu ketika itu, sang Pencerah dalam upacara itu -menyebut demikian untuk merepresentasikan seseorang yang memberikan wejangan dalam forum itu, menyajikan sebuah kopi lewat bulir kata- katanya. Akan arti dua sisi pemahaman hidup, yang kemudian saya adopi kedalam pemahan keseimbangan. 

Dia mengatakan tentang pentingnya posisi kita dalam setiap pemahaman masalah. Satu kalimat yang memang sangat saya imani benar adalah penempatan posisi kita dalam menyikapi masalah, tempatkan diri kita pada satu posisi yang kita bisa melihat segalanya dari berbagai sisi. Dalam pemahaman konsep ini, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang bisa melihat segalanya seperti dua jalur yang membagi suatu wilayah ke dalam dua bidang yang pada akhirnya menyatukan dua bidang itu menjadi satu.

Dan ini benar adanya. Sesuatu akan terlihat sangat sempurna jika kita melihatnya dari satu perspektif saja. Akan sangat disayangkan jika kita tidak bisa melihatnya dari satu sisi lain yang mungkin kita bisa lihat. Ada kalanya yang bagus tampak bagus dari satu sudut saja. Tanpa bisa menganalisa dari sudut lain yang bisa menyadarkan akan arti sudut pandang. 
Masalah adalah masalah. Masalah akan terselesaikan jika pemahaman akan hal itu kita posisikan seperti dua mata uang. Gambar dan Angka.

Terimakasih.

Sunday, 2 October 2011

DIAM

Layaknya sudah seperti biasa, dia datang di saat yang sungguh aku tak ingin memalingkan wajahku pada layar monitor laptopku karena tugas yang memang menuntutku harus lebih kreatif dan dipaksa untuk sedikit nampak intelligent. Sangat heran. Dia kemudia duduk di sebelahku. Dan aku masih saja asyik dengan segala yang ditampilkan oleh layar itu. Satu dua paragraf mulai selesai aku ketik. Lagi, lagi aku membenci situasi ini. Aku bukanlah tipikal orang yang benar-benar mampu memaksakan semua yang ada di pikiranku dengan mudahnya, aku benci fakta ini.
Dan dia masih berada di sebelahku. Entah apa yang sedang dia kerjakan, sepertinya tidak menarik perhatianku akan hal itu.
Aku kembali meneruskan kegiatanku untuk mengetik makalah ini, sebuah makalah yang aku coba gali buat dengan segala daya upaya yang aku bisa. Sebuah ide yang aku tuangkan adalah mengenai perubahan status sosial dalam masyarakat dalam kaitannya dengan penggunaan ragam bahasa dalam kesehariannya dan juga gaya hidupnya. Mungkin bukan sesuatu yang cemerlang, tapi sungguh demi semuanya konsep ini adalah konsep terbaik yang aku punya. Dasar otak pas-pasan mungkin.
Yah, daripada mulai manyun dengan kondisi ini, lebih baik aku mulai cari lagu yang bisa sedikit mengompres pikiranku yang dari tadi masih sibuk dengan segaka teori dan perencanaan metode penelitian. Ini mungkin yang dinamakan kuliah. Berangkat gak berangkat yang jelas otak sama kurus keringnya. Kebanyakan berkutat dengan hal-hal yang mungkin belum sepantasnya dimuali bagiku.
Dia mulai menggeser tempat duduknya, mencoba lebih mendekat kepadaku. Mendeklarasikan keberadaannya mungkin, yang ya mungkin belum terlalu 'istimewa' buatku. 
 Sungguh, saat ini tidak ada yang lebih istimewa selain menyelesaikan makalah ini secepatnya, sebelum Dosen yang benar-benar cantik luar dalam itu pergi ke Amerika. Akupun menjadi semakin yakin, kalau kamu mau menjadi dosen minimal kamu harus sibuk dan harus banyak deadline dan harus sering pergi ke luar kota, malah boleh kalau ke luar negeri.
Hanya bunyi tuts keypad dari laptopku serta lagu yang kuputar dari winamp. Saat ini, lagu dari Chris Daughtry yang I'm going home mengalun dari speaker laptoku. Sungguh, paduan yang luar biasa. Kata orang inilah fatamorgana, ketika kau dihadapkan pada sesuatu yang unreal  tapi seolah-olah berasa real. Aku sudah ingin pulang, tapi tugas ini berkata tidak. Oh...
Pukul 15.55
Biasanya aku jam segini di hari Jum'at sudah berada di rumah. Apalagi minggu-minggu belakangan ini, rumah sepertinya menjadi pelampiasan paling mujarab. Pertama, aku sudah jenuh dengan kuliah ini, walau baru semester tiga saja sudah seperti, apa jadinya nanti kalau sudah mau lulus, bisa-bisa cepat tua aku. Tapi, apa mau dikata lagi, Ayah sudah bersikeras kalau aku harus lulus empat tahun saja. Ayah sudah berencana akan segera mengakhiri masa pensiunnya dan segera ingin menikmati masa pensiunnya di Denpasar. Dan, sekali lagi aku benci ini. Aku sudah mulai tertarik dengan Magelang ini. Dengan segala keterbatasan dan kelebihannya bagiku sudah cukup. Ohhh...
Dia bangkit dari duduknya, dan aku tidak peduli. Dia berdiri sebentar, seolah-olah memohon perhatianku, tapi bagiku sepertinya sama saja. Sudahlah, kalau mau pergi-pergi, kalau masih mau di sini, ya sudah duduk saja. Cukup. Diam. Aku sibuk.
Dua halaman baru aku selesaikan. Lagu sudah kembali berputar dan kali ini ada lagu dari Glee Cast yang mericycle lagu dari The All American Reject yang Gives You Hell. Aku tertawa dalam hati, walau dia sudah tidak ada di sebelahku, tapi rasanya ini laguku hari ini. Aku berikan dia 'neraka' hari ini karena aku tidak membuka mulut sedikitpun. Bahkan untuk menengoknya saja aku sorry.
Perasaan aku mulai mengetik jam satu tadi, kenapa sekarang yang hampir jam setengah lima sore baru terselesaikan dua halaman saja. Aduh, ini kenapa pikiranku sedang manja sekali sih. Harusnya aku bisa lebih maksimal dari ini. Harusnya aku mulai masuk ke bab dua, tapi kenapa ini masih di bab pertama. Oh, ayolah otak!! Aku mulai frustasi. Kenapa juga masih sama? Ayolah bertambahlah halamanku. Please! Apa ini jangan-jangan karena ada dia, dan aku merasa terganggu, ah! Apalagi ini, kenapa dia lagi- dia lagi. Apa sih maunya dia. Kalau dia berani kembali awas ya!
Sudahlah! Aku mau mulai konsentrasi lagi dengan pekerjaanku. Mari segela selesaikan dan langsung pulang. Aku tidak mau lagi naik becak dari jalan depan sampai depan rumah. Bukan karena tidak terlalu baik dengan Pak Tukang Becak, tapi ini musim hujan, dan aku tidak mau basah lagi. 
Sepintas, ku lihat di atas. Masih cerah. Semoga seperti itu sampai nanti.
Mulai masuk halaman tiga, ah lega, bertambah juga. 
Seperti yang sudah aku duga, ini pasti karena dia. Benar!
Lihat saja, aku sudah sampai halaman tiga. Bukankah ini sebuah pencapaian yang luar biasa?
Kemudian semuanya berubah. Beberapa anak keluar dari kelas mereka. Karena kuliah mereka sudah berakhir. Dan ini buruk. Sulit berpikir. Menyiksa.
Memang tidak menyenangkan bekerja di depan Gedung C. Biasanya tempat itu paling sepi, tapi hanya sampai jam empat saja. Selebihnya? Akan seperti pasar malam dengan komedi putarnya.
Tiba-tiba dia datang.
Dia tidak sendiri. Dengan dua botol air mineral di tangannya.
Dan aku masih cuek saja.
Peduli apa coba? Memangnya dia pikir aku onta apa. Sampai dibawakan dua botol air mineral. Harga diriku dilecehkan dengan sangat tragis! Semakin membuat aku yakin dia memang berniat jahat! Tak peduli dengan lagunya Joss Stone yang berduet dengan Jason Mraz yang Love, Love, Love. Memangnya ini cinta?
Aku tak peduli. Aku tetap mengetik. Dia duduk di sebelahku. Lagi. Dia membuka tasnya, sepertinya. Karena ku dengar bunyi kasak kusuk dari tasnya. Lalu dengan segera dia memasukkan satu botol tadi ke tasnya, dan mengganti tempat air mineral tadi dengan secarik kertas. Lalu dia bangkit. 
Ih, apa maksudnya coba. Dia pikir aku bisu apa. Ihhh... makin geram saja. Makin panas. Dia pikir aku gak bisa beli minum apa? Tidak manusiawi sekali. Besok liat ya. Aku bawakan dia satu bahkan lima kalau mau, galon aja kalau begitu. Ya, LIMA GALON AIR MINERAL.
Apa sih maunya dia. Sok baik. Sok peduli, sok manja, sok minta diperhatikan, dan dia memang SOK..SOK..SOk..
Apasih dia itu!! Panas aja...
dan segalanya berubah.
Tiba-tiba angin kencang,
semuanya terbang, daun, plastik, kertas, ya.. kertas yang tadi dia sisipkan itu..
dan di atas, semakin gelap saja.
Pertanda buruk ini. Aku bangkit dan merapikan segalanya. Dalam benakku hanya satu, semoga tidak ada yang tertinggal, karena aku tidak mau naik becak lagi. Dia pasti senang melihatku basah kuyup. Dia pasti sedang tertawa membayangkan aku yang masih di sini. Sementara hujan sepertinya segera datang. Dan aku panik. Panik sekali.
Kulirik sebentar botol itu. Dan aku lalu pergi.
ketika angin membawanya pergi, tertulis dalam kertas itu...
Sebentar lagi hujan, cepat pulang!
 02.10.11
21.17
 

Wednesday, 7 September 2011

Segalanya Sudah Ada

Ketika angin berhembus, sebenarnya segalanya
telah ada peraturannya.
Semuanya telah berawal dan akan menuju ke sebuah akhir.
Di mana awal berawal, di situ akhir bermulai.
Awal dan Akhir hanyalah sebuah intuisi, ketika semuanya berasa,
Di situlah itu adanya.
[080911 13.08]




Saya mempercayai yang namanya sebuah pertanda. Sebuah petunjuk untuk memulai segala sesuatu. Sebuah petunjuk yang nantinya juga akan membawa kita kepada suatu kisah yang akan kita selesaikan, atau dengan bahasa yang mudah, Pertanda akan membawamu dan menunjukkan kepadamu kejadian apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Entah ini sebuah kebodohan atau sebuah kelebihan, tapi saya meyakini bahwa suatu kejadian yang kita alami ternyata memiliki koneksi dengan kejadian lain yang kita alami, tanpa kita sadari secara naluri. 

Semuanya itu seperti sebuah Firasat, sebuah petunjuk, sebuah intuisi yang kemudian pada selanjutnya akan membimbing kita untuk melangkah selanjutnya. Sebenarnya semua orang memiliki pertanda itu dan juga firasat itu. Sederhana saja, ketika kita dihadapkan pada suatu kondisi, secara langsung otak kita akan merespon segala sesuatunya dengan sangat mendalam dan luar biasa. Misalnya saja, ada seseorang yang baru saja menemukan dompet di jalan, secara cepat otaknya akan bereaksi. Otak akan memproses kejadian yang ada di depannya dengan segala pertimbangan dan kemungkinan selanjutnya. Inilah yang saya sebut sebagai Firasat dan Pertanda sebagai hasil dari proses berpikir. Jika orang itu mengambil dompet tersebut, tentunya banyak kemungkinan kejadian yang akan dia alami. Otaklah yang pertama menyajikan kemungkinan- kemungkinan tersebut. Jadi bukanlah hal yang tidak mungkin jika sebenarnya semua orang mampu mengoptimalkan otaknya untuk kemudian menemukan sebuah jembatan penghubung antar kejadian yang dia alami.

Hubungan kausalitas mungkin juga ada kaitannya dengan pembahasan ini. Ketika ada sebab disitulah akibat akan bermassa. Semuanya sepertinya singkat. Tapi saya yakin, ada sebuah linking yang menarik suatu kejadian ke kejadian berikutnya. 

Walaupun nampaknya hal ini mustahil, tapi sepertinya segalanya telah ada. Bukan tak heran ketika kita merasa ada de javu yang kita alami terhadao sebuah vision yang akan kita alami pada kemudian hari, ini seolah-olah menunjukkan bahwa sebenarnya ketika kita memulai suatu kejadian, kita sebenarnya menarik kejadian lain yang akan kita alami, atau secara tak langsung ketika kita memulai sesuatu, kita sedang membuka lembaran selanjutnya pada buku tulis yang masih kosong untuk kita tulis.

Apakah kemudian ini hanyalah sebuah kebetulan semata? Saya rasa tidak, mungkin inilah sebuah intuisi. Dari Wikipedia saya kutipkan intuisi pada pengertian ranah pengetahuan, 
Intuition is the ability to acquire knowledge without inference or the use of reason.[1] "The word 'intuition' comes from the Latin word 'intueri', which is often roughly translated as meaning 'to look inside'’ or 'to contemplate'."
Seperti yang dikatakan di atas, bahwa intuisi terjadi tanpa adanya inference dugaan dan hanya berlangsung pada waktu yang tepat. Tepat di sini maksudnya adalah saat-saat dimana ketika kejadian yang kita alami benar-benar memiliki pengaruh terhadap kejadian yang lain. Memang semua kejadian memiliki pengaruh terhadap kejadian yang lain, akan tetapi intuisi akan muncul ketika kejadian yang kita alami pengaruhnya akan sangat hebat terhadap kejadian selanjutnya. Juga, intuisi muncul karena adanya sebuah contemplation atau sebuah rasio pikiran yang sangat mendalam terhadap segala sesuatu, dan rasanya itu memang benar. Jika kita berpikir secara serius, link terhadap kejadian selanjutnya akan mudah terlihat visionnya. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kita akan mengoptimalkan pikrian kita tersebut?

Tuesday, 6 September 2011

This is My Story

When friends come on you, 
Never be worried about it.
It gives you a light,
Not only just a guidance.

This is my life, and it's my own, when life gives us a chance to feel what it has, lets pray since life's so generous to get us inside, be yours, be yours and be yours!
( 060911 19:30)

Manusia memang sebuah koloni, ketika dia bergerak, segelintir anggota akan segera mengawalnya untuk membuat sebuah koloni baru. Sama halnya ketika kita dihadapkan pada situasi yang baru, sebuah koloni -perkataan singkat untuk sebuah pertemanan baru yang akan terbentuk, akan segera menyambutnya dengan tangannya yang hangat.
Sudah lebih dari  dua semester, akhirnya saya menemukan a little thing called FRIENDSHIP, hehehe.. sedikit mengutip sebuah judul film yang tadi secara tidak sengaja, atau emang disengaja diceletukkan oleh teman saya, si Pipit. Ya, kami memang sudah berteman sejak semester 2, hingga kini mau menginjak semester 5. Hampir dalam segala hal kita sejalan, dan mapan. Hahaha.. bahasa yang terlalu berlebihan untuk dikatakan. Kadang, kita keasyikkan dengan dunia kita masing-masing, sehingga membuat sebuah pertemuan saja, menjadi hal yang luar biasa, karena waktu adalah musuh kami yang teristimewa. Tapi, kadang ketika pertemuan ini sudah terjalankan, ini menjadi sebuah moment dimana saya, dan mereka, menjadi  sebuah hal yang lebih dari sekedar istimewa, mungkin jika dikatakan dengan Gaya Bahasa Alaynya, mungkin seperti mahalnya konser Michael Jackson jika dia masih hidup.
Dari semuanya saya sangat bersyukur kepada mereka. Bisa dikatakan mereka lebih dari sekedar baik, saya senang ketika moment bersama itu bisa dijadikan ajang bersilaturahmi dan juga berbagi rejeki masing-masing, hahaha... sungguh, tak ada yang akan menolaknya.
Baiklah kalau begitu kita akan mereview sebentar tentang mereka, coba kita check::

Dia adalah Cindy Cyrus, itu mah nama palsunya ajah, biar dia tenar, hahahaha... tapi dari semua sikap buruknya, -karena yang paling baik adalah saya dong, hahahaha... dia adalah teman yang paling gokil banget. Hal yang paling positif yang bisa dia banggakan dari dirinya adalah tulisannya yang bagus, dan dia rapi sekali. Tapi sayang, rambutnya akhir-akhir ini tidak rapi, bahkan tidak hanya saya yang berkata demikian temen-temennya juga ada yang bilang malah lebih parah lagi, sampe bilang gini::
"Mbak Pit, Mbak Pit, aku tuh ngiri sama tulisan mbak Pit yang bagus dan rapi, tapi sayang rambut mbak Pit gak serapi tulisannya"
Hahhhaahha... tapi dia sangat DOWN TO EARTH....

Yang kedua adalah si Arum yang agak-agak gimanaaaa gitu ya, aduh kalo dia mau jadi artis, pasti udah banyak sekali pria yang dia tolak, hahahaha.. just kidding with your own story, hehehe.. sangat pintar dianya, dan agak aneh, dan terlalu polos. Tapi justru dengan segala kepolosannya yang ala kadarnya itu menjadikan setiap bertemuan berasa istimewa dan tak ada duanya. Saluuuttt...

Ya, that's life, when it must go on, it still gives us a taste of friendship. Sepertinya itu harapan masyarakat banya, ketika kita meneruskan hidup, harus ada pembelajaran dan kenangan yang kita bawa, salah satunya tadi, a little thing called FRIENDSHIP! Jangan sampai jadi The Rolling Stone yang Gather No Moss, okey, sekian dulu ya Jamaahh, nanti kita lanjut lagiii....





Friday, 18 March 2011

Mencoba Mem-Posting Yang Berguna

Kemarin malam, baru saja menyelesaikan tontonan paling berharga dan paling amazing untuk ke sekian kalinya, yah walau pun udah terbilang jamak, bukan singular lagi, tapi masih oke untuk dikatakan bahwa film yang satu ini inspiring sekali. Film yang dirilis di tahun 1998 di Indonesia, kalau tidak salah di bulan September.
Dari judulnya sih, sepertinya film yang diambil dari nama sebuah reruntuhan gunung di Yunani ini, akan berkisah sekitar doomsday, tapi ketika ditelaah bukan itu. Ada pesan implicit yang ingin disampaikan sang Michael Bay (sutradara) adalah sebuah pesan universal yang sangat manis, menggigit, dan meninggalkan kesan manis yang sulit dilupakan oleh penonton film ini, seperti rasa pahit yang tertinggal setelah minum jamu. (Sungguh, metafora yang luar biasa dahsyatnya!!)
Ya, Film berjudul "ARMAGEDDON" yang dibintangi oleh Bruce Willis,Billy Bob Thornton, Ben Affleck dan lainnya sungguh menyita perhatian saya, dan penonton pada umumnya untuk tidak meninggalkan layar kaca mereka. Memang film yang satu ini tidak ada tandingannya. Film yang sebenarnya berkisah tentang the end of the world lantaran bumi akan dihantam oleh asteroid yang lumayan besar dan apabila sampai menghantam bumi di bagian mana pun itu, hasilnya akan dipastikan bisa mengulang the iced age ketika dinosaurs punah kemudian. Apakah manusia yang sudah dewasa dalam memahami bumi akan mengizinkannya terjadi kembali? Lalu apa gunanya NASA?
Semuanya terjawab kemudian, ketika NASA bersikeras melalui dua tim (Independence dan juga Freedom) yang berusaha menaklukkan asteroid tersebut melalui rencana gila, kalau dipikir-pikir, dengan cara mengebor asteroid tersebut dan meletakkan bom yang akhirnya mampu menghilangkan kesempatan bercumbunya (bahasanya???) asteroid tersebut dengan bumi. Tim yang harus mampu mengerjakannya adalah tim pilihan, dan mereka adalah tim yang sudah berpengalaman dalam hal mengebor (jangan berandai-andai seperti layaknya Inul Daratista). Ini adalah pekerjaan yang berat karena mereka hanya mempunyai satu kesempatan saja.
Mereka memang berhasil sampai di asteroid tersebut, dan mereka juga berhasil mendarat, tapi kendala terjadi. Pesawat Ulang- Alik untuk tim Freedom harus berakhir tragis tapi tidak begitu dengan A.J. dan dua temannya yang berhasil selamat dan akhirnya bergabung dengan tim yang satunya lagi.
Bgaian paling mengharukan adalah bagian ketika tim harus pasrah kepada tim pilihan di bumi yang menyatakan bahwa tim di angkasa gagal, dan mereka berniat melakukan penembakan terhadap asteroid tersbeut dengan bom nuklir yang dengan bahasa orang awam, mereka yang ada di asteroid tersebut harus menerima kenyataan bahwa mereka akan diledakkan dari bumi. Tapi, tak semudah itu mereka menyerah. Mereka berhasil mengebor asteroid itu walaupun betapa kerasnya usaha mereka karena asteroid itu tebentuk dari logam keras, dan walau mereka harus kehilangan anggota tim.
Part paling menyentuh adalah ketika A.J. harus merelakan dirinya mengorbankan dirinya karena ternyata ada kesalahan teknis yang menyebabkan bom tidak dapat berfungsi dengan normal kecuali dinyalakan secara manual. Itu artinya, harus ada yang tertinggal dan menyalakan bom itu, dan artinya mengorbankan dirinya. Sungguh menyentuh ketika Harry- ayah dari Grace yang merupakan pacar dari A.J. ternyata tanpa sepengetahuan yang lainnya, menggantikan tugas A.J. dan membiarkan A.J. tetap hidup, dan berharap bisa menikahi putrinya dan menjaganya.
Paling membuat mewek adalah bagian ketika Harry berbicara kepada Grace di menit- menit terakhir sebelum dia menyalakan bom tersebut. Sungguh menyentuh.... T.T


satu hal lagi yang membuat film ini berkesan adalah original movie soundtracknya, lagu Aerosmith yang berjudul "I Don't Wanna Miss A Thing" yang jadi soundtrack utamanya, lirik ini yang paling ngeh banget..
"Don't want to close my eyes,
I don't want to fall asleep,
cause I'd miss you babe,
and I don't want to miss a thing,
cause even when I dream of you,
the sweetest dream will never do,
I'd still miss you babe,
and I don't want to miss a thing"


sungguh menyentuh apalagi pas akhir dari film ini.
aku rekomendasikan deh untuk menonton film ini...
Lima Bintang deh buat Film ini.. *****


Yang mau lihat trailernya ini dia...


<iframe title="YouTube video player" width="640" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/Y0tFOuCoT8c" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>


Selamat Menonton..