Monday, 23 December 2013

Selamat Menikmati Perjalananmu!

Add caption

Banyak yang saya pikirkan belakangan ini. Mulai dari memikirkan apa yang sebenarnya ingin saya raih di beberapa tahun ke depan, sampai dengan memikirkan apa yang ingin saya lakukan esok hari. 

Dari beberapa sumber yang saya baca, memang pikiran manusia sangat dipenuhi dengan berbagai macam pemikiran. Mungkin kemacetan ibu kota masih terlalu sederhana untuk merefleksikan betapa padatnya otak kita. Tapi, bersyukurlah. Karena dengan adanya semua itu, kita masih bisa berbagi dengan orang lain, walau hanya sekedar ide.

Suatu ketika saya memiliki pemikiran yang cukup sederhana tentang hidup saya. Ini terkait dengan status saya yang telah diwisuda di kampus. Semenjak saat itu saya menjadi bingung. Kebingungan tersebut muncul lantaran saya tidak tahu akan posisi saya saat ini. 

Kalau ditanya apakah saya menikmati kehidupan yang saya miliki saat ini, saya justru akan bertanya balik kepada si penanya. Konsep ‘menikmati’ yang diinginkan sebagai jawaban itu seperti apa? Apakah sesederhana saya menikmati proses menulis tulisan ini di depan laptop saya sambil memutarkan lagunya Afgan dan Maudy Ayunda? Kalau sesederhana itu saya akan menjawab ya.

Tapi tentunya tidak sesederhana itu. Kembali ke pemikiran saya mengenai status saya tadi. Ada beberapa hal yang saya risaukan belakangan ini. Saya memang telah lulus. Tapi bukankah orang- orang menerjemahkannya sebagai sebuah pemikiran baru dan juga awal baru untuk proses yang lebih panjang? Dan saya setuju itu. Kalau boleh jujur, lulus itu tidak enak. Pertama saya masih bingung saya akan menjadi apa. Kedua karena saya tidak memiliki kesempatan lebih banyak untuk bertemu teman- teman saya. Ketiga, saya hampir kehilangan 70% waktu ngobrol saya dengan teman- teman gila saya.

Yang lebih penting lagi adalah saya kehilangan kesempatan untuk belajar lagi. Entah ini menimbulkan kontroversi atau tidak, tapi saya merasa ketika saya sudah tidak dibebani dengan berbagai macam tugas kuliah, saya justru lebih malas untuk mencari kesempatan belajar. 

Di atas semua itu, sebenarnya saya masih ragu mengenai apa yang sebenarnya saya cari dalam perjalanan cerita saya. Banyak sekali yang ingin saya raih dalam hidup saya. Mulai dari mendapatkan kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan, mencari kesempatan untuk belajar bidang baru, hingga mencoba lahan baru yang sebelumnya belum pernah saya coba.

Dan semuanya itu harus melalui proses lulus terlebih dahulu. 

Pada akhirnya saya kembali ke kesadaran awal bahwa semua ini adalah proses. Proses ini membawa saya ke dalam sebuah wahana baru dalam hidup saya. Saya menyebutnya sebagai wahana transisi hitam putih. Di tempat inilah saya akan mengambil langkah dan di sini jugalah saya menemui kegelapan antara hitam dan putih. Wajar saja. Ini adalah proses transisi.

Tidak ada yang lebih indah dari menikmati proses dan perjalanan yang ingin saya ambil. Dan proses ini berawal dari kelulusan saya. Satu hal yang ingin menjadi prioritas saya dalam beberapa bulan ke depan adalah menentukan titik tumpu untuk melangkah lebih jauh. Tapi, saya harus berjanji pada diri saya bahwa segelap apapun jalan yang akan saya ambil saya masih punya satu cahaya yang menguatkan. Tuhan. 

Tidak ada yang lebih indah selain menikmati perjalananmu.

Selamat menikmati perjalananmu.

~Osy~


Tuesday, 19 March 2013

Make A Change!



Good afternoon People?

How’s your life there? Is everything you own working on the right track as you expect too? If it is so, I hope everything will go on the right way for the next day and again and again.

Somehow, it is too long for me not to see you again through this way. I’m not kinda person who gets much attention to something that I do forget at a time. Several days (not only days I guess, it’s almost months), my attention got on something big that I gotta decide as soon as I could. As a result, it’s pretty hard for me to get on my blogger account but the thing that I got to see is I can’t hinder my own passion in sharing something lil bit I feel or I think.

Talking about something related to my past, it was one of my achievements, I guess. I personally come to a new phase where I can honestly do and be someone I want to do. For simply; I decided to resign from my work. It was my first job where I spent almost every day there. If I’m not mistaken, I worked there for about 4 years, and it’s almost five years there, I mean next August this 2013.

As I expected before, people were lil bit shocked knowing that it was my own option to do. I see this. They couldn’t expect about this before. They might think that I was fine doing my job there. Exactly, I am. There was nothing to be countered as not so good thing there. Honestly, I was doing fine there until I decided to resign. They are friendly, and humble, and I felt that I found my own home there. Just for informing, I worked as a teacher there and I love my students too. No compromise for this. 100% true! When I decided to express this, first they were upset and lil bit disappointed with my decision. I realize this. It was normal that they did this so far. I know that they love me too as I love them always. I know that exactly they didn’t want me out of their reach and I felt sorry for this. I gotta choose.

My consideration to take this way to grow mine up is about my final paper. This year I gotta conduct my final paper. It is my final fight my own paper. This is the last war that I have to take. I don’t want doing this without big consideration and big effort to take in. I want to do focus on my own paper. For me it is another big bag to support my journey for the next level. I have to win this war as I want to take another big journey then. It was hard at that time to decide which way I gotta take. I consciously know what effects that I have to see and I realize this.

We are human. We live with our own life and dream. Every day we do normal doing what we are in our life. Deepest on us we build our dream from a little. We know that we may fail completing the puzzle; the dream puzzle! But at least we have our own hands to bring our dreams in, so it will be warm and we will notice that we have something good to do then. My final paper will be my stepping point reaching another dream in my life. Though I don’t really know whether I could be succeed or not, I will try. Nothing gonna be something bad beside let your dream behind as if that you don’t know them at all.

I wanna take it, I wanna make my own story! Reaching our dream is another passionate thing to do!

The other reason is it was my comfort zone. Somebody’s ever talked to me that we may have our own zone. It is the zone where we completely feel successful with what we do and we have. We may have the safe phase where we easily do whatever we like. That was my zone, my comfort zone. I’ve found my own comfort zone the next phase that I may have to take is going out of my zone and see what I can see out there. I do this cause I know that I will not grow tough and strong if I don’t take this chance. You have to move your feet where you step to see the other beauty of this earth!

So why don’t you take your own story to get the next zone you have. You deserve to get better. 
If the next zone that I take doesn’t give me something good or something what I want, it doesn’t matter since I’m ready enough to take another journey because I will be well grown up. Life gives you experience and it is the key for the sake of another journey!

Finally, I just want you know that your life is not only about your surrounding! There are so much awesome things out there! See that they may deserve on you! Happy enjoying your days then 



Saturday, 6 October 2012

Simply, Do What You Love

Selamat datang Oktober, dan selamat datang harapan baru untuk setiap langkah barumu. O ya, saat saya menulis post ini, baru saja hujan turun dan suasananya masih adem, dan saya sangat suka dengan aroma tanah basah yang selesai diguyur hujan.

Back to the propose, saya sekarang ini sedang menyelesaikan buku dari Alanda Kariza yang Dream Catcher. Buku ini sebenarnya sudah lama ingin saya miliki. Teman saya sering merekomendasikan buku ini untuk saya yang sering kali haus akan motivasi untuk membangun mimpi saya.

So, it's gonna be right to say a big thank for Pipit who always gives me a strength to stand up and be steady!

Saat saya membaca bagian- bagian awal buku ini, saya sudah sangat yakin bahwa saya akan sangat jatuh cinta dengan buku ini. Karena Alanda Kariza sangat sederhana mengemas buku ini sehingga bagi orang awampun akan sangat  mudah untuk memahami apa yang ingin dia sampaikan lewat bukunya, tapi juga tidak sesederhana itu. Buku yang sarat akan makna hidup itu sudah selayaknya dibaca, bukan promosi but believe it! It works crazing you always with its emotional and motivational quotes inside.

Sedikit bercerita, saya sangat ingat pada salah satu halaman yang ada di buku tersebut. Ada salah satu quotes yang sangat saya sekali dan saya yakin banyak orang pun akan berkata sama.
"DO something you LOVE and you will NEVER have to work a day in your life." 
Confucius

Itulah yang membuat saya terhenti beberapa saat pada halaman tersebut. Sudah lama saya memahami hal tersebut. Saya sangat meyakini bahwa semuanya akan sangat 'menjadi lebih mudah' ketika semua itu berawal dan berangkat dari hati.

Bukan sembarangan saya berkata demikian. Mungkin kalau meminta untuk pembuktian secara logis dan ilmiah, hal ini tentunya akan sangat sulit untuk dibuktikan. Semuanya jika berurusan dengan masalah hati dan segenap rasa ingin untuk melakukannya dengan ikhlas dan tulus tentunya akan sangat sulit untuk menunjukkannya.

Saya sering berkata kepada beberapa orang yang dekat dengan saya bahwa lakukanlah apapun yang kamu lakukan dengan cinta dan rasa sadar bahwa kamu memang benar- benar ingin melakukannya, meskipun itu berat. Tidak mudah memang mewujudkannya karena kadang kita memang berada dalam kondisi terdesak untuk melakukannya. Kadang dan bahkan kita sering merasa tidak sepenuh hati dalam menjalankan tugas yang kita emban. Sederhana memang, sering karena kita memang tidak ingin melakukannya atau kita memang tidak memiliki passion untuk melakukannya.

Tapi alangkah bijaknya jika kita melakukannya dengan sincerely and lovely. 

~Osy~

Wednesday, 26 September 2012

Reaching Out Of Our Zone


Sometimes it needs more than just once checking whether you are ready enough to let yourself out of the common way you step on. The big consideration is that you are already feeling too much comfortable with the way it goes. 

Saat- saat seperti inilah yang sedang dan bahkan mungkin akan kita hindari. Saat kita benar- benar terlalu nyaman in a particular position or even situation in which it leads us into what we are eager to have. Sangat sayang sekali meninggalkan what we are right now rather than choosing to be someone else or to be what we may would be. 

Saya pernah mendengar sebuah istilah tentang comfort zone. Dan saya mengalami itu. Untuk saat ini, exactly I possess what people say about comfort zone. Apparently, I'm enjoying my life whenever it would go leading me to somewhere or nowhere but exactly, the thing's, I enjoy to be what I am now.

Saya bisa hidup dengan kondisi seperti saat ini adalah sebuah nilai positif yang harus saya akui bahwa saya memiliki confort zone saya. I ,once, talked to my friend, discussing about this point of view, and we agreed that both of us have already had our comfort zone, meaning that we could support what we wanna from what we are now, seperti sekedar mempertahankan gaya hidup kita yang sebenarnya juga hampir dekat dengan yang namanya jiwa konsumtif. Tapi at least, kita masih bisa memenuhi semuanya dengan apa yang kita peroleh dari apa yang kita kerjakan sehari- harinya. Dan kita sepantasnya bersyukur terhadap semua itu.

Tapi kembali lagi ke konsep awal. Apakah kita hanya sekedar akan bertahan pada status kita yang memiliki zona aman kemudian lantas menikmatinya tanpa berani keluar dari zona yang sudah mengamankan kita dari segala macam keadaan termasuk mempertahankan gaya hidup kita?

Well, I personally, belum berani untuk melangkah keluar dari zona tersebut. Belum berani hanya untuk sekedar menjenguk keluar lalu melangkah lagi ke dalam zona tersebut kemudian menikmatinya seperti sebelumnya.

Dari obrolan saya dengan salah seorang teman saya, ada banya pertimbangan kalau kita memang definitely ingin get out form our comofrt zone and reaching another zone which may need more than just an ordinary endeavor. Salah satunya adalah persoalan bahwa sebagian besar hidup kita bergantung pada zona aman tersebut dan jika we decide to take ourself out of that zone, kita akan mengalami ketimpangan hidup. Simply, it deals on financial supporting and other case. So how would we maintain the rest of our lives when we still need the main support for our finance?

Itulah yang menjadi pertimbangan besar saya.

Honestly, I wanna someday, get out of what zone I am in, but then when almost 80% of our lives supported by that zone could we just easily reach out another zone?

For some reasons, some people decide to get this condition. And I really appreciate the way they do that thing. As always, I just could clarify bahwa ini bukan sekedar pertaruhan mau atau tidak, bukan sekedar persoalan apakah hidup akan sesimple ketika kita punya the previous zone. Ini adalah persoalan komitmen. Komitmen untuk bangkit dan berusaha lagi dari awal, dari permulaan. Kemudian kita akan tahu bagaimana it would go as we may have experienced another way before.

~Osy~

Friday, 31 August 2012

I am Happy and You?


Saya bingung ingin memulai dari mana, tapi yang jelas saya merasa bahwa semua orang berhak memiliki dan menikmati kebahagiaan mereka masing- masing, tidak peduli bagaimana kerasnya mereka harus meraihnya, yang jelas ketika kebahagiaan mereka itu sudah menjadi satu hal yang real, akan sangat memungkinkan bagi mereka untuk menikmati kebahagiaan mereka itu.

Sadar atau tidak tapi saya merasa bahwa ini benar. 

Saya pun juga tidak begitu tahu kenapa saya tiba- tiba ingin sekali menuliskan tentang ini. Jujur saja, saat ini saya sedang bingun, kalau boleh meminjam istilahnya Cherry Belle saya sedang dilema, dan galau. Bukan lantaran saya harus memilih manakah yang akan menjadi pasangan hidup saya, tapi lebih ke arah harus memilih provider manakah dompet saya akan bertambat karena saya merasa akhir- akhir ini tarif internet bulanan semakin mencekik leher saya, padahal bagi saya modem adalah hal yang paling intense dekat dengan saya. Bagaimana tidak coba, ketika saya harus mengirimkan email ke Dosen saya, akan sangat repot sekali kalau saya harus mencari warnet, apalagi kalau saya harus menyusun tugasnya wah bisa berabe kalau saya harus jauh dengan koneksi internet. 

Saya merasa internet sangat memahami saya dengan baiknya. Bayangkan saja ketika saya butuh soal- soal untuk latihan murid- murid saya, dengan lapangnya internet memberikan saya untuk berbagi. Ketika saya sedang galau atau bahkan sedang jenuh, saya bisa menuangkannya melalui blog saya ini no matter what they are going to say about my writing. Just that!

Tapi akhir- akhir ini provider internet tempat saya berlangganan kok saya rasa semakin mahal saja. Saya jadi bingung. Saya sempat browsing ke sana sini dan menemui bahwa tarifnya bahkan malah sudah naik. Wah, ini jadi sangat merugikan sekali bagi saya. Oke, saya memang pelanggan yang kurang berterimakasih kali ya. Padahal dengan tarif yang memang agak dinaikkan dan mencekik dompet saya yang sudah berkali- kali berteriak, saya akan mendapatkan banyak kemudahan dan kelonggaran. Jujur ya, saya sangat menyukai provider yang satu ini, karena jaringan dan koneksinya sangat juara, tapi mahalnya juga juara deh. 


Mungkin ini yang namanya hukum keseimbangan. When you want to get something, at least you've gotta give something in return. 


Jadi semuanya akan berjalan dengan indahnya.  Masalahnya adalah ini soal biaya dan keadaan finansial saya yang kadang melepuh dan kadang mengembang yang tak tentu musimnya. Memikirkan pilihan manakah saya akan berlabuh, maksudnya pada provider seluler manakah, sangat sulit sekali. Seperti layaknya mau memasukkan anak kita ke perguruan tinggi favorit kita. Maklumlah, keinginan sangat tinggi, tapi ketika melihat kenyataan seperti layaknya dijatuhkan dari tebing bahkan mungkin langit yang tinggi kemudian masih diinjak- injak dengan ganasnya.

Tapi inilah yang disebut dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Kalau kemudian saya pikir- pikir lagi wajarlah ketika tarif internet seluler dinaikkan. Pasalnya, sekarang ini demand-nya sangat tinggi juga. Jadi tidak heranlah ketika harganya naik karena pasar banyak yang memintanya. Inilah yang kemudian disebut dengan hukum permintaan. Kalau dibuat kurvanya akan semakin menaik mungkin kali ya, sayang saya bukan mahasiswa ekonomi, tapi sedikit- sedikit saya masih ingat pelajaran ekonomi ketika saya SMA.

Dan sangat wajar sekali ketika kita sedang anget- angetnya dengan gadget dan sedang panas- panasnya memanfaatkan internet tapi kemudian kita banyak mengumpat karena tarif internet yang melambung tinggi karena kita mungkin harus menghadapi kenyataan bahwa we're no longer could touch the internet service as usual. 

Termasuk saya juga. Saya sekarang ini sedang gentar- gentarnya memikirkan manakah expense yang harus dipangkas sehingga saya masih bisa menikmati koneksi internet dengan modem saya itu. 

Kemudian saya bertanya- tanya, kenapa ya internet itu mahal bagi saya? 

Wajar mungkin ya mahal, karena semuanya ada di internet. Kita tidak usah direpotkan dengan semua hal ketika kita bisa mengakses internet. Kebahagiaan bagi kita inilah.

Saya merasa kebanyakan orang akan sangat bahagia ketika telah berteman dengan yang namanya internet. Baru saja saya membuka akun Facebook saya. Dan voi la. Banyak rupa dan karakter muncul di sana. Gara- gara internet juga semuanya. Saya merasa orang- orang di Facebook sangat bahagia dan bersyukur bisa berkenalan dengan internet, karena semuanya dipermudah. Bisa pasang foto baru yang sangat eksis kadang terlalu narsis juga, bisa lebih merasa rapuh sekali dengan statusnya yang seolah sinetron sekali, sangat tersiksa dan sangat meronta- ronta padalah biasa saja mungkin.

Dengan internet kita juga bisa berkenalan dengan orang baru yang sepenuhnya belum pernah kita temui, kemudian kita ajak kenalan. Berawal dari sekedar kenalan yang kemudian menjalar menjadi lebih dekat sedekat kopi darat dan lebih mendalam lagi sampai diajak kencan. Sangat fantastis sekali ya.

Bahkan ada juga yang menuai hasil di sana. Berawal dari sekedar hobby bernyanyi yang kemudian dipajang di youtube yang kemudian dilihat oleh jutaan pasang mata dan seketika itu juga membuka peluang lain untuk berkenalan dengan orang lain yang berkecimpung di dunia bisnis entertainment yang berjanji akan melambungkan namanya dan berhasil. Ada banyak aktris sampai penyanyi yang juga jebolan salah satu situs sosial di internet yang laris manis itu.

Terserah orang mau berkomentar apa, tapi inilah kebahagiaan mereka. Sepenuhnya mereka berhak untuk mendapatkannya. Sepenuhnya mereka pantas, karena ada usaha dibalik semua itu. Bayangkan saja, untuk bisa meng-upload foto kita, harus ada pengorbanan yang harus diambil. Mulai dari pose kita yang harus 100% cute dan narsis. Sampai usaha besar untuk mengkoneksikan komputer kita dengan jaringan internet sehingga foto kisa bisa terpajang dengan narsisnya di Facebook. Jadi, sudah sewajarnya mereka bahagia karena ada berbagai tahapan yang harus ditempuh, dan inilah mungkin kebahagiaan mereka. 

Kalau mereka kemudian berteriak lantang merasakan kebahagiaan mereka wajarlah ini. 

Saya sering mendengar teman- teman saya merasa bahagia dengan semua pencapaian mereka saat ini. Mulai dari cerita teman saya yang sangat bahagia sekali bisa menapakkan kakinya di puncak gunung, atau cerita teman saya yang senang sekali karena telah mendapatkan pekerjaan dan gajinya lumayan. Atau cerita lainn dari teman saya yang sedang kasmaran dengan gebetannya yang baru padahal sudah memiliki pasangan, atau hanya sekedar cerita teman saya tentang kuliahnya yang sudah mau selesai. Semuanya kedengarannya bagus dan enak di dengar. Jadi dari semua itu saya simpulkan. Semua cerita yang berbau kebahagiaan pasti enak di dengar dan disimak. 

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan itu. Saya sendiri berkata demikian. Kalau kebahagiaan yang kamu rasakan itu adalah hasil jerih payahmu untuk meraihnya, itu sangat wajar. Dan sudah sepantasnya kamu merasakannya. Jadi ketika ada yang bercerita tentang kebahagiaannya di saat- saat dia menjalani pekerjaannya saat ini, saya sangat bersyukur sekali. Kenapa? Karena itu artinya dia menjalankan profesinya dan kegiataannya dengan sepenuh hati. Tidak peduli dengan apa yang akan dia dapat. 

Saya berkeyakinan satu hal. Mungkin nilai 7 di ulangan Matematika kita pada saat kita dulu sekolah adalah nilai yang pas pasan saja. Bagus iya, tapi kurang cukup untuk dibilang indah. Tapi akan jauh sempurna sekali ketika nilai yang hanya sekedar 7 yang mungkin sangat mepet sekali dengan KKM kita di sekolah dulu, tapi nilai tersebut kita peroleh dengan perjuangan yang panjang, dan kita jalani dengan penuh keikhlasan. Jadi ketika hasilnya keluar kita akan merasa sangat bersyukyur karena walau pun hanya 7 yang ketika disejajarkan dengan nilai 9 akan jauh lebih terpuruk tapi kalau prosesnya berawal dari ikhlas dan jujur saya rasa ini sebuah kebahagiaan.

Semuanya pantas berbahagia. Tinggal bagaimana saja kita menapaki dan menikmatinya.

Jadi, ketika saya sedang bingung seperti sekarang ini dengan provider apa yang akan saya pilih, mungkin akan menjadi kebahagiaan bagi orang lain untuk membuat saya galau dan bingung untuk memilih. Bagi providernya akan sangat bahagia sekali melihat saya bingung. Tapi ada juga yang bahagia di lain pihak, seperti para penjual voucher pulsa isi ulang yang laris manis saat ini. Tapi itulah kebahagiaan mereka untuk menikmatinya, dan ini juga kebimbangan saya.

Thanks for reading!

Salam
~Osy~

Wednesday, 29 August 2012

It's Time to See YOU!


It's may be more than just a couple days since I'd posted my last post on my blog. How are you guys anyway? I'm feeling good here when I let myself be in front of my netbook enjoying the WiFi in my office. It was so much interesting ya know!!

Well, beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke rumah salah satu teman saya yang ada di Temanggung, in fact I'm living in Temanggung too, but it's lil bit out of town, so when I miss one of my greatest friend, I've gotta move to the centre, sometimes it sounds silly.

Seperti biasanya, saya menikmati momen ini karena saya akan bertemu dengan teman lama saya, berbagi cerita atau hanya berkumpul saja, dan kadang berkuliner. Well, untuk yang terakhir tadi rasanya sangat bersyukur sekali ketika saya masih bisa menikmati kuliner di Temanggung, dan saya merasa bahwa hampir semua orang terlalu mencintai hal yang satu tadi. Culinary brings us more than just happiness but also something good else, sharing, stories, or even just gathering - just to see that we have someone else on this earth! :)

Dan dari pertemuan saya itu, saya terlampau sangat bersyukur hingga saat ini, karena terbukti walau hanya dengan sekedar bertemu ternyata it brings joy and excitement. Saya akhirnya bisa mendapatkan satu pencerahan dari kuliah singkat Ayah dari teman saya tersebut. Dan saya sudah menduganya. Sering dari sekedar obrolan biasa kemudian dengan tiba- tiba Ayah teman saya mengeluarkan jurusnya -mengeluarkaan kalimat puitis kadang bernada sinis atau romantis, untuk membumbui obrolan kami agar lebih hangat dan lebih menggigit saja.

Well, kalau kemarin saya mendapatkan sebuah cerita yang memang sangat bermanfaat. Kisah tentang dua ekor burung yang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup di bumi. Yang satu adalah burung malas sementara yang satunya lagi adalah burung bodoh. Dua- duanya dianugrahi kesempurnaan sebagai salah satu ciptaan Tuhan yaitu sayap karena mereka adalah burung. Jadi, sudah barang mutlak ketika kita melihat dua ekor burung tersebut. Tidak ada yang kurang, semuanya perfect. 

Tapi amat sangat disayangkan. Both of them have their own wings, this means it'd possible for them to see the beauty of the world. Instead of being stucked on earth without knowing what to do or what you gotta do. 

Sama halnya dengan dua burung tersebut. Physically they are perfetc. Sayap ada, dan bisa digunakan untuk terbang. Mata juga ada yang bisa digunakan untuk melihat dan mengamati dunia, atau bahkan untuk melihat keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya sudah ada pada mereka. Jadi bukan barang mustahil lagi kalau mereka ingin terbang dan tinggal kepakkan sayap saja dan semuanya voi la!

Tapi semua hal yang ada di dunia memang kelihatannya sempurna dan indah, tapi belum tentu yang indah- indah dan sempurna itu bakalan menjadi sempurna dan indah di sisi lainnya. Let's see. Kedua burung itu memang sudah sempurna secara fisik, tapi burung yang satu adalah burung yang bodoh. Dia memiliki sayap, mata, kaki, dal lainnya tapi dia adalah burung yang bodoh. Dia adalah burung yang tidak tau bagaimana cara menggunakan apa yang melekat pada dirinya. Terlebih dia bahkan tidak tahu juga kalau dia adalah seekor burung. Hasilnya apa? Dia tidak bisa terbang, dan selamanya dia hanya berpijak saja pada kakinya. Tidak ada manfaaat yang dia bisa ambil dari takdirnya sebagai seekor burung. Jadi semua hal yang ada padanya -semua kesempurnaan fisik yang melekat padanya bakalan tidak berguna alias nothing untuknya karena dia sendiri tidak memahami takdirnya sebagai seekor burung.

Yang kedua adalah burung yang malas. Dia adalah burung yang secara fisik dan kasat mata sempurna. Fisik mendukung untuknya untuk terbang dan melihat indahnya dunia. Tapi sayang sekali, dia bukanlah kategori burung yang mau mengerti keadaan juga. Berbeda dengan burung yang pertama, burung yang kedua ini adalah burung yang tahu bagaiaman cara mengepakkan saya sehingga dia bisa melayang dan terbang. Dia tahu bagaimana cara menggunakan sayapnya, matanya bahkan juga kakinya. Jadi sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak terbang karena semuanya ada. Yang disayangkan hanyalah satu. Dia adalah burung yang pemalas. Burung yang tahu semuanya tapi malas untuk memanfaatkan apa yang dipunya.Dia mengerti bagaimana caranya untuk terbang. Dia tahu bagaimana caranya untuk melihat dunia, tapi lagi- lagi karena dia malas, jadinya tidak ada yang perlu diambil dari semuanya. Alhasil, dia juga stuck in a moment. Tidak ada progress yang berarti dari dia.

Saya cukup terkesima dengan cerita burung tersebut. Kedengarannya memang simple dan sederhana saja, tapi setelah kita kaji lebih dalam semuanya sangat berguna. 

Dari dua kisah burung tersebut saya sendiri bisa menyimpulkan, bahwa ada banyak tipe makhluk di bumi ini sebagai ciptaan dari Sang Khalik. Dua cerita burung dan dua karakter burung di atas sudah mewakili salah satu dari banyak karakter manusia yang ada di bumi. Ada banyak dari kita yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sehingga dari potensi tersebut akan tercipta sebuah hal lain yang sama besarnya yang kedepannya akan membuka peluang lain yang jauh lebih besar. Tapi sayangnya kita terlalu bodoh dan naif untuk melihatnya, kita terlalu merunduk sehingga segala potensi yang ada tersebut berasa sia- sia saja dan kelihatannya jauh di bawah sempurna, padahal kalau kita mau melihatnya lebih dalam akan menjadi berbeda ceritanya. Sama halnya dengan burung yang bodoh tadi, kalau saja dia tahu dan mengerti bagaimana caranya mengepakkan sayapnya, mungkin ketika dia dihadapkan pada predatornya, dia akan memiliki kesempatan besar untuk bisa menghindarinya dan menyelamatkan dirinya.

Sementara dari kisah kedua yang ada, kita bisa mengambil pemahaman bahwa banyak dari kita yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, dan masing- masing dari kita juga tahu bahwa kita bisa untuk menjadi besar dengan potensi itu. Sayang sekali, kita terlalu malas untuk move on. Terlalu mudah untuk merasa kecil sehingga untuk sedikit berpikir dan bergerak. Hasilnya sama dengan yang pertama, dia tidak memiliki progress yang besar untuk melihat dunia, untuk menjadi yang baru dan menjadi a brand new one. 

Dua karakter itu sudah sangat mewakili dari berjuta pasang mata yang ada di dunia. Ada dari kita yang terlalu malas untuk bergerak sehingga ketika yang lainnya sudah bergerak jauh kita masih stuck saja dan tidak ada perubahan berarti yang maksimal padahal anadai saja kita mau sedikir memikir lagi, kita masih bisa mengambil langkah baru lagi untuk bisa menjadi berbeda.

Maka dari itu, kenalilah diri kamu, temuilah potensi yang ada padamu, dan menjadilah orang pertama yang sangat memahami kamu sehingga segala yang ada pada kamu dapat dengan mudah kamu dekati dan kamu kembangkan. Tidak ada yang terlahir dengan tidak ada potensi yang melekat padanya. Semua yang lahir dan menginjakkan kaki di bumi, memiliki bakat dan potensi lebih untuk bisa dikembangkan, hanya masalahnya kita terlalu bodoh atau kita terlalu malas saja.

Thanks for visiting,

~Osy~



Wednesday, 22 August 2012

Antara Kebebasan dan Kesendirian

Welcome back Holiday when all the time feel so ambitious. Serasa semuanya berasa indah saja saat- saat seperti ini, karena jujur saya lebih merasa bebas dan lepas. Saya bisa memilih untuk menjadi diri saya yang senang tidur dan menikmati hari. Itu saja. Sederhana  mungkin kelihatannya, tapi ya mau bagaimana lagi karena hanya itulah yang sering saya suka. Well, Holiday means so much for me. Karena kebiasaan setiap hari saya habiskan di tempat kerja yang sangat menyita waktu dan energi saya, jadi moment seperti ini berasa seperti golden moment untuk saya, karena saya merasa menjadi diri saya sendiri. No matter what they're gonna say.

Saya sekarang semakin menyadari saja, kalau saya memang suka moment seperti ini. Bukan hanya soal Lebaran dan Liburan yang momentnya selalu bersama. Tidak hanya sekedar ketupat dan memohon lepat (maaf) tapi juga tentang waktu yang sangat berharga luangnya untuk mencipatkan me-time. 

Jujur, akhir- akhir ini saya lebih suka mengamati orang lain yang serba sibuk di saat lebaran ini. Yang sering sliweran dan wara wiri di mana- mana, yang sering sekali ketemu dengan orang itu lagi lebih dari sekali. Hingga hanya sekedar menghabiskan bensin di motor saya hanya sekedar untuk mencari spot yang bagus untuk saya abadikan dengan kamera pocket saya. Hasilnya nihil sekali. Impian saya saat akan berangkat adalah menemukan tempat yang lumayan sepi dan saya bisa menikmati hari itu sendiri ditemani dengan lagu di play list saya, dan sempurna!

Mungkin orang- orang yang dekat dengan saya kebanyakan akan banyak bertanya- tanya tentang hobby saya yang suka menyendiri itu. Banyak yang akan bertanya "Buat apa kamu pergi sendirian?"

Well, it's a silly question so far. But, OK I'm trying to be honest to loosen your curiosity.

Saya lebih suka sendiri. Kedengarannya aneh ya. Orang yang sudah mengenal saya akan mudah sekali menerka bahwa saya adalah orang yang suka dengan keramaian dan suka membuat suasana menjadi ramai. Tapi kenapa saya kemudian lebih mencintai moment indah sendirian? 

Sederhana saja, saya lebih mencintai suasana sendiri. Mau bagaimana lagi, kalau memang saya suka dengan moment sendiri. Saya lebih merasa saya bisa menikmatinya 200% bahkan lebih mungkin. Jadi semisal ada orang lain yang menemani saya, bukan berarti saya akan berpikir bahwa dia merecoki suasana saya, bukan! Tapi saya hanya merasa bahwa ada banyak perenungan yang mungkin akan terlintas dalam imaji saya saat saya sendiri dan saya mampu menikmati semuanya dengan apa adanya.

Jujur saja, saya adalah seorang penikmat perjalanan. Bahkan saya sering memilih mengambil jalan yang lebih memutar hanya untuk menikmati jalan. Hanya untuk menikmati suasana saja. Menikmati sore. Menikmati suasana di saat saya mengendarai sepeda motor saya. Menikmati indahnya bisa melihat ramianya jalan. Dan itu sebuah sensasi. Dan saya menyukainya. Orang lain? Belum tentu mereka akan berpikiran sama dengan saya, tapi untuk apalah diributkan, toh mereka kan mempunyai cara mereka sendiri untuk menikmati kebahagiaan mereka, dan mungkin saya hanya akan berpendapat bahwa itu cara mereka untuk menikmatinya. Banyak cara menikmati kebahagiaan dan keindahan. Haruskah keindahan dan kebahagiaan diperdebatkan?

Bahkan ketika saya pergi ke beberapa mall atau sekedar supermarket saya pun memilih sendiri, jadi saya tidak merasa terpaksa pergi saat tak ada orang lain yang bersedia menemani saya untuk pergi. Toh, saya juga merasa saya masih OK- OK saja saat harus sendiri. Bukan berarti saya tidak mau ditemani, tapi daripada saya harus memaksa orang lain untuk menemani saya, lebih baik saya sendiri saja, kan juga tidak ada bedanya kan?

Setelah semua itu saya sedikit menarik kesimpulan atas apa yang sering saya lakukan. Kedengarannya memang sedikit selfish mungkin, tapi ya inilah saya. Tapi saya belajar memahami. Saya mungkin seseorang yang introvert, yang lebih menyukai kesendirian dan me-time, hanya sekedar untuk menikmati setiap moment yang saya lewati, menikmati setiap saat yang saya anggap ini adalah moment sempurna yang saya sangat sering meidam-idamkannya. Jadi saya hanya merasa bahwa ini adalah normal saja ketika saya menikmati moment itu dan saya tidak beranggapan saya salah apalagi aneh selama saya merasa bahwa ini sah- sah saja. Bahkan ketika ada orang yang melihat saya yang sendiri dengan pandangan agak sedikit sinis terhadap saya, bagi saya itu biasa saja. Kebebasan untuk berpendapat dan menyatakan ekspresi bagi saya adalah prioritas tertinggi yang saya junjung, selama dalam ranah dan wajah yang masih bisa diterima.

Saya memang serba aneh mungkin kali ya, sampai- sampai salah satu teman kerja saya berpendapat bahwa saya adalah orang yang sedikit hedonis. 

Pertama ketika mendengar dia berkelakar semacam itu, saya berpikir sejenak, separah itukah saya? Sampai- sampai teman saya saja mengatakan bahwa saya adalah orang yang suka mencari kesenangan semata. Yang salah dari saya apa ya, kok kemudian saya dianggap orang yang mengincar kesenangan saja. Mungkin salah satunya adalah kegemaran saya yang sering plesir, begitu mungkin ya. Mungkin baginya saya terlalu meroyalkan diri hanya pada kesenangan saja, termasuk saat saya lebih memilih sendiri untuk pergi. 

Bahkan ada yang lebih parah lagi, saat saya bercerita tentang pengalaman saya pergi- pergi tersebut yah walaupun perginya juga tidak jauh- jauh amat, hanya disekitaran gunung saja, kemudian ada yang berkomentar "Mbok jangan sendiri to, sama siapa gitu, cari pacar lah."

Kalau yang satu ini sangat menohok sekali. Saya memang terbiasa menyendiri. Dan mungkin inilah yang saya akui sebagai salah satu kebebasan berargumen. Sah- sah saja ketika dia mengatakan itu, dan ini tidak masalah bagi saya. Tapi bagi saya, selama saya masih enjoy dan tidak ada masalah tentang hal ini, ya saya menganggapnya ini wajar saja. Dan soal pasangan, bukan berarti saya tidak mencari, saya hanya merasa, bahwa Tuhan memiliki rencana untuk saya. Yang menjadi 'teman hidup' saya mungkin sudah digariskan oleh Tuhan, sudah disiapkan, sudah disediakan, tinggal waktu saja yang akan mempertemukan saya dan dia. 

Sedikit egois mungkin, atau malah terlalu hedonis lagi. Well, everything goes alright. Saya masih senang dengan keadaan saya saat ini. Ibarat kata saya sedang menikmati kebebasan saya, kebebasan untuk menjadi diri saya, kebebasan untuk menikmati setiap moment yang ada pada diri saya, dan saat- saat indah yang mungkin hanya akan saya nikmati saat ini.

Tentang kebebasan dan kesendirian, saya hanya memaknainya satu. Sebuah keterikatan yang maha sempurna yang menuntun kita menjadi dewasa dan bijaksana. Dewasa untuk mencoba menerima apa pun yang ada, dewasa untuk berusaha memahami situasi saat ini dan berusaha menjadi bijaksana untuk menerimanya dan menikmatinya dengan cara kita. Tidak ada yang salah dengan pendapat orang lain untuk berkelakar apa adanya dan semaunya, karena mereka diberkahi mulut dan ide. Jadi, what's wrong, as long as, I do enjoy with what I did and everything seems OK nothing bothers me, and I honestly do not want to disgust what they do, I do normally, and these are my life. 

Terimakasih telah mampir, 
Salam

~Osy~