Friday, 31 August 2012

I am Happy and You?


Saya bingung ingin memulai dari mana, tapi yang jelas saya merasa bahwa semua orang berhak memiliki dan menikmati kebahagiaan mereka masing- masing, tidak peduli bagaimana kerasnya mereka harus meraihnya, yang jelas ketika kebahagiaan mereka itu sudah menjadi satu hal yang real, akan sangat memungkinkan bagi mereka untuk menikmati kebahagiaan mereka itu.

Sadar atau tidak tapi saya merasa bahwa ini benar. 

Saya pun juga tidak begitu tahu kenapa saya tiba- tiba ingin sekali menuliskan tentang ini. Jujur saja, saat ini saya sedang bingun, kalau boleh meminjam istilahnya Cherry Belle saya sedang dilema, dan galau. Bukan lantaran saya harus memilih manakah yang akan menjadi pasangan hidup saya, tapi lebih ke arah harus memilih provider manakah dompet saya akan bertambat karena saya merasa akhir- akhir ini tarif internet bulanan semakin mencekik leher saya, padahal bagi saya modem adalah hal yang paling intense dekat dengan saya. Bagaimana tidak coba, ketika saya harus mengirimkan email ke Dosen saya, akan sangat repot sekali kalau saya harus mencari warnet, apalagi kalau saya harus menyusun tugasnya wah bisa berabe kalau saya harus jauh dengan koneksi internet. 

Saya merasa internet sangat memahami saya dengan baiknya. Bayangkan saja ketika saya butuh soal- soal untuk latihan murid- murid saya, dengan lapangnya internet memberikan saya untuk berbagi. Ketika saya sedang galau atau bahkan sedang jenuh, saya bisa menuangkannya melalui blog saya ini no matter what they are going to say about my writing. Just that!

Tapi akhir- akhir ini provider internet tempat saya berlangganan kok saya rasa semakin mahal saja. Saya jadi bingung. Saya sempat browsing ke sana sini dan menemui bahwa tarifnya bahkan malah sudah naik. Wah, ini jadi sangat merugikan sekali bagi saya. Oke, saya memang pelanggan yang kurang berterimakasih kali ya. Padahal dengan tarif yang memang agak dinaikkan dan mencekik dompet saya yang sudah berkali- kali berteriak, saya akan mendapatkan banyak kemudahan dan kelonggaran. Jujur ya, saya sangat menyukai provider yang satu ini, karena jaringan dan koneksinya sangat juara, tapi mahalnya juga juara deh. 


Mungkin ini yang namanya hukum keseimbangan. When you want to get something, at least you've gotta give something in return. 


Jadi semuanya akan berjalan dengan indahnya.  Masalahnya adalah ini soal biaya dan keadaan finansial saya yang kadang melepuh dan kadang mengembang yang tak tentu musimnya. Memikirkan pilihan manakah saya akan berlabuh, maksudnya pada provider seluler manakah, sangat sulit sekali. Seperti layaknya mau memasukkan anak kita ke perguruan tinggi favorit kita. Maklumlah, keinginan sangat tinggi, tapi ketika melihat kenyataan seperti layaknya dijatuhkan dari tebing bahkan mungkin langit yang tinggi kemudian masih diinjak- injak dengan ganasnya.

Tapi inilah yang disebut dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Kalau kemudian saya pikir- pikir lagi wajarlah ketika tarif internet seluler dinaikkan. Pasalnya, sekarang ini demand-nya sangat tinggi juga. Jadi tidak heranlah ketika harganya naik karena pasar banyak yang memintanya. Inilah yang kemudian disebut dengan hukum permintaan. Kalau dibuat kurvanya akan semakin menaik mungkin kali ya, sayang saya bukan mahasiswa ekonomi, tapi sedikit- sedikit saya masih ingat pelajaran ekonomi ketika saya SMA.

Dan sangat wajar sekali ketika kita sedang anget- angetnya dengan gadget dan sedang panas- panasnya memanfaatkan internet tapi kemudian kita banyak mengumpat karena tarif internet yang melambung tinggi karena kita mungkin harus menghadapi kenyataan bahwa we're no longer could touch the internet service as usual. 

Termasuk saya juga. Saya sekarang ini sedang gentar- gentarnya memikirkan manakah expense yang harus dipangkas sehingga saya masih bisa menikmati koneksi internet dengan modem saya itu. 

Kemudian saya bertanya- tanya, kenapa ya internet itu mahal bagi saya? 

Wajar mungkin ya mahal, karena semuanya ada di internet. Kita tidak usah direpotkan dengan semua hal ketika kita bisa mengakses internet. Kebahagiaan bagi kita inilah.

Saya merasa kebanyakan orang akan sangat bahagia ketika telah berteman dengan yang namanya internet. Baru saja saya membuka akun Facebook saya. Dan voi la. Banyak rupa dan karakter muncul di sana. Gara- gara internet juga semuanya. Saya merasa orang- orang di Facebook sangat bahagia dan bersyukur bisa berkenalan dengan internet, karena semuanya dipermudah. Bisa pasang foto baru yang sangat eksis kadang terlalu narsis juga, bisa lebih merasa rapuh sekali dengan statusnya yang seolah sinetron sekali, sangat tersiksa dan sangat meronta- ronta padalah biasa saja mungkin.

Dengan internet kita juga bisa berkenalan dengan orang baru yang sepenuhnya belum pernah kita temui, kemudian kita ajak kenalan. Berawal dari sekedar kenalan yang kemudian menjalar menjadi lebih dekat sedekat kopi darat dan lebih mendalam lagi sampai diajak kencan. Sangat fantastis sekali ya.

Bahkan ada juga yang menuai hasil di sana. Berawal dari sekedar hobby bernyanyi yang kemudian dipajang di youtube yang kemudian dilihat oleh jutaan pasang mata dan seketika itu juga membuka peluang lain untuk berkenalan dengan orang lain yang berkecimpung di dunia bisnis entertainment yang berjanji akan melambungkan namanya dan berhasil. Ada banyak aktris sampai penyanyi yang juga jebolan salah satu situs sosial di internet yang laris manis itu.

Terserah orang mau berkomentar apa, tapi inilah kebahagiaan mereka. Sepenuhnya mereka berhak untuk mendapatkannya. Sepenuhnya mereka pantas, karena ada usaha dibalik semua itu. Bayangkan saja, untuk bisa meng-upload foto kita, harus ada pengorbanan yang harus diambil. Mulai dari pose kita yang harus 100% cute dan narsis. Sampai usaha besar untuk mengkoneksikan komputer kita dengan jaringan internet sehingga foto kisa bisa terpajang dengan narsisnya di Facebook. Jadi, sudah sewajarnya mereka bahagia karena ada berbagai tahapan yang harus ditempuh, dan inilah mungkin kebahagiaan mereka. 

Kalau mereka kemudian berteriak lantang merasakan kebahagiaan mereka wajarlah ini. 

Saya sering mendengar teman- teman saya merasa bahagia dengan semua pencapaian mereka saat ini. Mulai dari cerita teman saya yang sangat bahagia sekali bisa menapakkan kakinya di puncak gunung, atau cerita teman saya yang senang sekali karena telah mendapatkan pekerjaan dan gajinya lumayan. Atau cerita lainn dari teman saya yang sedang kasmaran dengan gebetannya yang baru padahal sudah memiliki pasangan, atau hanya sekedar cerita teman saya tentang kuliahnya yang sudah mau selesai. Semuanya kedengarannya bagus dan enak di dengar. Jadi dari semua itu saya simpulkan. Semua cerita yang berbau kebahagiaan pasti enak di dengar dan disimak. 

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan itu. Saya sendiri berkata demikian. Kalau kebahagiaan yang kamu rasakan itu adalah hasil jerih payahmu untuk meraihnya, itu sangat wajar. Dan sudah sepantasnya kamu merasakannya. Jadi ketika ada yang bercerita tentang kebahagiaannya di saat- saat dia menjalani pekerjaannya saat ini, saya sangat bersyukur sekali. Kenapa? Karena itu artinya dia menjalankan profesinya dan kegiataannya dengan sepenuh hati. Tidak peduli dengan apa yang akan dia dapat. 

Saya berkeyakinan satu hal. Mungkin nilai 7 di ulangan Matematika kita pada saat kita dulu sekolah adalah nilai yang pas pasan saja. Bagus iya, tapi kurang cukup untuk dibilang indah. Tapi akan jauh sempurna sekali ketika nilai yang hanya sekedar 7 yang mungkin sangat mepet sekali dengan KKM kita di sekolah dulu, tapi nilai tersebut kita peroleh dengan perjuangan yang panjang, dan kita jalani dengan penuh keikhlasan. Jadi ketika hasilnya keluar kita akan merasa sangat bersyukyur karena walau pun hanya 7 yang ketika disejajarkan dengan nilai 9 akan jauh lebih terpuruk tapi kalau prosesnya berawal dari ikhlas dan jujur saya rasa ini sebuah kebahagiaan.

Semuanya pantas berbahagia. Tinggal bagaimana saja kita menapaki dan menikmatinya.

Jadi, ketika saya sedang bingung seperti sekarang ini dengan provider apa yang akan saya pilih, mungkin akan menjadi kebahagiaan bagi orang lain untuk membuat saya galau dan bingung untuk memilih. Bagi providernya akan sangat bahagia sekali melihat saya bingung. Tapi ada juga yang bahagia di lain pihak, seperti para penjual voucher pulsa isi ulang yang laris manis saat ini. Tapi itulah kebahagiaan mereka untuk menikmatinya, dan ini juga kebimbangan saya.

Thanks for reading!

Salam
~Osy~

Wednesday, 29 August 2012

It's Time to See YOU!


It's may be more than just a couple days since I'd posted my last post on my blog. How are you guys anyway? I'm feeling good here when I let myself be in front of my netbook enjoying the WiFi in my office. It was so much interesting ya know!!

Well, beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke rumah salah satu teman saya yang ada di Temanggung, in fact I'm living in Temanggung too, but it's lil bit out of town, so when I miss one of my greatest friend, I've gotta move to the centre, sometimes it sounds silly.

Seperti biasanya, saya menikmati momen ini karena saya akan bertemu dengan teman lama saya, berbagi cerita atau hanya berkumpul saja, dan kadang berkuliner. Well, untuk yang terakhir tadi rasanya sangat bersyukur sekali ketika saya masih bisa menikmati kuliner di Temanggung, dan saya merasa bahwa hampir semua orang terlalu mencintai hal yang satu tadi. Culinary brings us more than just happiness but also something good else, sharing, stories, or even just gathering - just to see that we have someone else on this earth! :)

Dan dari pertemuan saya itu, saya terlampau sangat bersyukur hingga saat ini, karena terbukti walau hanya dengan sekedar bertemu ternyata it brings joy and excitement. Saya akhirnya bisa mendapatkan satu pencerahan dari kuliah singkat Ayah dari teman saya tersebut. Dan saya sudah menduganya. Sering dari sekedar obrolan biasa kemudian dengan tiba- tiba Ayah teman saya mengeluarkan jurusnya -mengeluarkaan kalimat puitis kadang bernada sinis atau romantis, untuk membumbui obrolan kami agar lebih hangat dan lebih menggigit saja.

Well, kalau kemarin saya mendapatkan sebuah cerita yang memang sangat bermanfaat. Kisah tentang dua ekor burung yang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup di bumi. Yang satu adalah burung malas sementara yang satunya lagi adalah burung bodoh. Dua- duanya dianugrahi kesempurnaan sebagai salah satu ciptaan Tuhan yaitu sayap karena mereka adalah burung. Jadi, sudah barang mutlak ketika kita melihat dua ekor burung tersebut. Tidak ada yang kurang, semuanya perfect. 

Tapi amat sangat disayangkan. Both of them have their own wings, this means it'd possible for them to see the beauty of the world. Instead of being stucked on earth without knowing what to do or what you gotta do. 

Sama halnya dengan dua burung tersebut. Physically they are perfetc. Sayap ada, dan bisa digunakan untuk terbang. Mata juga ada yang bisa digunakan untuk melihat dan mengamati dunia, atau bahkan untuk melihat keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya sudah ada pada mereka. Jadi bukan barang mustahil lagi kalau mereka ingin terbang dan tinggal kepakkan sayap saja dan semuanya voi la!

Tapi semua hal yang ada di dunia memang kelihatannya sempurna dan indah, tapi belum tentu yang indah- indah dan sempurna itu bakalan menjadi sempurna dan indah di sisi lainnya. Let's see. Kedua burung itu memang sudah sempurna secara fisik, tapi burung yang satu adalah burung yang bodoh. Dia memiliki sayap, mata, kaki, dal lainnya tapi dia adalah burung yang bodoh. Dia adalah burung yang tidak tau bagaimana cara menggunakan apa yang melekat pada dirinya. Terlebih dia bahkan tidak tahu juga kalau dia adalah seekor burung. Hasilnya apa? Dia tidak bisa terbang, dan selamanya dia hanya berpijak saja pada kakinya. Tidak ada manfaaat yang dia bisa ambil dari takdirnya sebagai seekor burung. Jadi semua hal yang ada padanya -semua kesempurnaan fisik yang melekat padanya bakalan tidak berguna alias nothing untuknya karena dia sendiri tidak memahami takdirnya sebagai seekor burung.

Yang kedua adalah burung yang malas. Dia adalah burung yang secara fisik dan kasat mata sempurna. Fisik mendukung untuknya untuk terbang dan melihat indahnya dunia. Tapi sayang sekali, dia bukanlah kategori burung yang mau mengerti keadaan juga. Berbeda dengan burung yang pertama, burung yang kedua ini adalah burung yang tahu bagaiaman cara mengepakkan saya sehingga dia bisa melayang dan terbang. Dia tahu bagaimana cara menggunakan sayapnya, matanya bahkan juga kakinya. Jadi sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak terbang karena semuanya ada. Yang disayangkan hanyalah satu. Dia adalah burung yang pemalas. Burung yang tahu semuanya tapi malas untuk memanfaatkan apa yang dipunya.Dia mengerti bagaimana caranya untuk terbang. Dia tahu bagaimana caranya untuk melihat dunia, tapi lagi- lagi karena dia malas, jadinya tidak ada yang perlu diambil dari semuanya. Alhasil, dia juga stuck in a moment. Tidak ada progress yang berarti dari dia.

Saya cukup terkesima dengan cerita burung tersebut. Kedengarannya memang simple dan sederhana saja, tapi setelah kita kaji lebih dalam semuanya sangat berguna. 

Dari dua kisah burung tersebut saya sendiri bisa menyimpulkan, bahwa ada banyak tipe makhluk di bumi ini sebagai ciptaan dari Sang Khalik. Dua cerita burung dan dua karakter burung di atas sudah mewakili salah satu dari banyak karakter manusia yang ada di bumi. Ada banyak dari kita yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sehingga dari potensi tersebut akan tercipta sebuah hal lain yang sama besarnya yang kedepannya akan membuka peluang lain yang jauh lebih besar. Tapi sayangnya kita terlalu bodoh dan naif untuk melihatnya, kita terlalu merunduk sehingga segala potensi yang ada tersebut berasa sia- sia saja dan kelihatannya jauh di bawah sempurna, padahal kalau kita mau melihatnya lebih dalam akan menjadi berbeda ceritanya. Sama halnya dengan burung yang bodoh tadi, kalau saja dia tahu dan mengerti bagaimana caranya mengepakkan sayapnya, mungkin ketika dia dihadapkan pada predatornya, dia akan memiliki kesempatan besar untuk bisa menghindarinya dan menyelamatkan dirinya.

Sementara dari kisah kedua yang ada, kita bisa mengambil pemahaman bahwa banyak dari kita yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, dan masing- masing dari kita juga tahu bahwa kita bisa untuk menjadi besar dengan potensi itu. Sayang sekali, kita terlalu malas untuk move on. Terlalu mudah untuk merasa kecil sehingga untuk sedikit berpikir dan bergerak. Hasilnya sama dengan yang pertama, dia tidak memiliki progress yang besar untuk melihat dunia, untuk menjadi yang baru dan menjadi a brand new one. 

Dua karakter itu sudah sangat mewakili dari berjuta pasang mata yang ada di dunia. Ada dari kita yang terlalu malas untuk bergerak sehingga ketika yang lainnya sudah bergerak jauh kita masih stuck saja dan tidak ada perubahan berarti yang maksimal padahal anadai saja kita mau sedikir memikir lagi, kita masih bisa mengambil langkah baru lagi untuk bisa menjadi berbeda.

Maka dari itu, kenalilah diri kamu, temuilah potensi yang ada padamu, dan menjadilah orang pertama yang sangat memahami kamu sehingga segala yang ada pada kamu dapat dengan mudah kamu dekati dan kamu kembangkan. Tidak ada yang terlahir dengan tidak ada potensi yang melekat padanya. Semua yang lahir dan menginjakkan kaki di bumi, memiliki bakat dan potensi lebih untuk bisa dikembangkan, hanya masalahnya kita terlalu bodoh atau kita terlalu malas saja.

Thanks for visiting,

~Osy~



Wednesday, 22 August 2012

Antara Kebebasan dan Kesendirian

Welcome back Holiday when all the time feel so ambitious. Serasa semuanya berasa indah saja saat- saat seperti ini, karena jujur saya lebih merasa bebas dan lepas. Saya bisa memilih untuk menjadi diri saya yang senang tidur dan menikmati hari. Itu saja. Sederhana  mungkin kelihatannya, tapi ya mau bagaimana lagi karena hanya itulah yang sering saya suka. Well, Holiday means so much for me. Karena kebiasaan setiap hari saya habiskan di tempat kerja yang sangat menyita waktu dan energi saya, jadi moment seperti ini berasa seperti golden moment untuk saya, karena saya merasa menjadi diri saya sendiri. No matter what they're gonna say.

Saya sekarang semakin menyadari saja, kalau saya memang suka moment seperti ini. Bukan hanya soal Lebaran dan Liburan yang momentnya selalu bersama. Tidak hanya sekedar ketupat dan memohon lepat (maaf) tapi juga tentang waktu yang sangat berharga luangnya untuk mencipatkan me-time. 

Jujur, akhir- akhir ini saya lebih suka mengamati orang lain yang serba sibuk di saat lebaran ini. Yang sering sliweran dan wara wiri di mana- mana, yang sering sekali ketemu dengan orang itu lagi lebih dari sekali. Hingga hanya sekedar menghabiskan bensin di motor saya hanya sekedar untuk mencari spot yang bagus untuk saya abadikan dengan kamera pocket saya. Hasilnya nihil sekali. Impian saya saat akan berangkat adalah menemukan tempat yang lumayan sepi dan saya bisa menikmati hari itu sendiri ditemani dengan lagu di play list saya, dan sempurna!

Mungkin orang- orang yang dekat dengan saya kebanyakan akan banyak bertanya- tanya tentang hobby saya yang suka menyendiri itu. Banyak yang akan bertanya "Buat apa kamu pergi sendirian?"

Well, it's a silly question so far. But, OK I'm trying to be honest to loosen your curiosity.

Saya lebih suka sendiri. Kedengarannya aneh ya. Orang yang sudah mengenal saya akan mudah sekali menerka bahwa saya adalah orang yang suka dengan keramaian dan suka membuat suasana menjadi ramai. Tapi kenapa saya kemudian lebih mencintai moment indah sendirian? 

Sederhana saja, saya lebih mencintai suasana sendiri. Mau bagaimana lagi, kalau memang saya suka dengan moment sendiri. Saya lebih merasa saya bisa menikmatinya 200% bahkan lebih mungkin. Jadi semisal ada orang lain yang menemani saya, bukan berarti saya akan berpikir bahwa dia merecoki suasana saya, bukan! Tapi saya hanya merasa bahwa ada banyak perenungan yang mungkin akan terlintas dalam imaji saya saat saya sendiri dan saya mampu menikmati semuanya dengan apa adanya.

Jujur saja, saya adalah seorang penikmat perjalanan. Bahkan saya sering memilih mengambil jalan yang lebih memutar hanya untuk menikmati jalan. Hanya untuk menikmati suasana saja. Menikmati sore. Menikmati suasana di saat saya mengendarai sepeda motor saya. Menikmati indahnya bisa melihat ramianya jalan. Dan itu sebuah sensasi. Dan saya menyukainya. Orang lain? Belum tentu mereka akan berpikiran sama dengan saya, tapi untuk apalah diributkan, toh mereka kan mempunyai cara mereka sendiri untuk menikmati kebahagiaan mereka, dan mungkin saya hanya akan berpendapat bahwa itu cara mereka untuk menikmatinya. Banyak cara menikmati kebahagiaan dan keindahan. Haruskah keindahan dan kebahagiaan diperdebatkan?

Bahkan ketika saya pergi ke beberapa mall atau sekedar supermarket saya pun memilih sendiri, jadi saya tidak merasa terpaksa pergi saat tak ada orang lain yang bersedia menemani saya untuk pergi. Toh, saya juga merasa saya masih OK- OK saja saat harus sendiri. Bukan berarti saya tidak mau ditemani, tapi daripada saya harus memaksa orang lain untuk menemani saya, lebih baik saya sendiri saja, kan juga tidak ada bedanya kan?

Setelah semua itu saya sedikit menarik kesimpulan atas apa yang sering saya lakukan. Kedengarannya memang sedikit selfish mungkin, tapi ya inilah saya. Tapi saya belajar memahami. Saya mungkin seseorang yang introvert, yang lebih menyukai kesendirian dan me-time, hanya sekedar untuk menikmati setiap moment yang saya lewati, menikmati setiap saat yang saya anggap ini adalah moment sempurna yang saya sangat sering meidam-idamkannya. Jadi saya hanya merasa bahwa ini adalah normal saja ketika saya menikmati moment itu dan saya tidak beranggapan saya salah apalagi aneh selama saya merasa bahwa ini sah- sah saja. Bahkan ketika ada orang yang melihat saya yang sendiri dengan pandangan agak sedikit sinis terhadap saya, bagi saya itu biasa saja. Kebebasan untuk berpendapat dan menyatakan ekspresi bagi saya adalah prioritas tertinggi yang saya junjung, selama dalam ranah dan wajah yang masih bisa diterima.

Saya memang serba aneh mungkin kali ya, sampai- sampai salah satu teman kerja saya berpendapat bahwa saya adalah orang yang sedikit hedonis. 

Pertama ketika mendengar dia berkelakar semacam itu, saya berpikir sejenak, separah itukah saya? Sampai- sampai teman saya saja mengatakan bahwa saya adalah orang yang suka mencari kesenangan semata. Yang salah dari saya apa ya, kok kemudian saya dianggap orang yang mengincar kesenangan saja. Mungkin salah satunya adalah kegemaran saya yang sering plesir, begitu mungkin ya. Mungkin baginya saya terlalu meroyalkan diri hanya pada kesenangan saja, termasuk saat saya lebih memilih sendiri untuk pergi. 

Bahkan ada yang lebih parah lagi, saat saya bercerita tentang pengalaman saya pergi- pergi tersebut yah walaupun perginya juga tidak jauh- jauh amat, hanya disekitaran gunung saja, kemudian ada yang berkomentar "Mbok jangan sendiri to, sama siapa gitu, cari pacar lah."

Kalau yang satu ini sangat menohok sekali. Saya memang terbiasa menyendiri. Dan mungkin inilah yang saya akui sebagai salah satu kebebasan berargumen. Sah- sah saja ketika dia mengatakan itu, dan ini tidak masalah bagi saya. Tapi bagi saya, selama saya masih enjoy dan tidak ada masalah tentang hal ini, ya saya menganggapnya ini wajar saja. Dan soal pasangan, bukan berarti saya tidak mencari, saya hanya merasa, bahwa Tuhan memiliki rencana untuk saya. Yang menjadi 'teman hidup' saya mungkin sudah digariskan oleh Tuhan, sudah disiapkan, sudah disediakan, tinggal waktu saja yang akan mempertemukan saya dan dia. 

Sedikit egois mungkin, atau malah terlalu hedonis lagi. Well, everything goes alright. Saya masih senang dengan keadaan saya saat ini. Ibarat kata saya sedang menikmati kebebasan saya, kebebasan untuk menjadi diri saya, kebebasan untuk menikmati setiap moment yang ada pada diri saya, dan saat- saat indah yang mungkin hanya akan saya nikmati saat ini.

Tentang kebebasan dan kesendirian, saya hanya memaknainya satu. Sebuah keterikatan yang maha sempurna yang menuntun kita menjadi dewasa dan bijaksana. Dewasa untuk mencoba menerima apa pun yang ada, dewasa untuk berusaha memahami situasi saat ini dan berusaha menjadi bijaksana untuk menerimanya dan menikmatinya dengan cara kita. Tidak ada yang salah dengan pendapat orang lain untuk berkelakar apa adanya dan semaunya, karena mereka diberkahi mulut dan ide. Jadi, what's wrong, as long as, I do enjoy with what I did and everything seems OK nothing bothers me, and I honestly do not want to disgust what they do, I do normally, and these are my life. 

Terimakasih telah mampir, 
Salam

~Osy~

Thursday, 9 August 2012

My Life's So Jazzy


Saya mungkin terlalu keranjingan saja, tapi baiklah tak apa. Anda boleh berkata. Toh itu hak Anda. Saya hanya ingin berkelakar. Kalau Anda tak sudi saya mampir, silahkan tutup saja laman ini. Dan nikmati dunia Anda, saya hanya parasit mungkin. Jujur, karena modem saya sedang hangat- hangatnya terisi pulsa jadi izinkan saya menikmati kemerdekaan tanpa beban dalam menikmati salah satu cobaan terberat dalam dunia yang fana ini, internet.

Apa yang akan saya tulis ini mungkin saja terlihat basi dan biasa saja, tidak berbobot atau malah terlihat sampah saja. Tapi saya hanya ingin bercerita saja. 

Oke, jujur saya sedang jatuh cinta dengan lagu- lagunya Abang Tulus ( @tulusm ). Saya sebenarnya sudah sering melihatnya di time line Twitter saya dari beberapa account radio di Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Bali dan juga Bandung. Sepertinya untuk kota yang terakhir itu, dari sanalah suaranya yang Jazzy Pop itu muncul. 

Well, saya adalah salah satu penggila musik jazz. Even, saya sendiri bukanlah orang yang piawai dalam bermusik, tapi bagi saya, saya sangat bersyukur masih bisa menikmati alunan musik yang indah dari musisi- musisi yang luar biasa dalam bermusik. Dan membuat saya semakin iri saja, coba ya saya bisa bernyanyi, pasti akan sangat lengkaplah dunia saya ini. 

Pertama saya mendengarkan lagu Jazzy adalah saat saya mulai mengenal Maliq and D'Essentials ( @maliqmusik ). Saat pertama mendengarkan lagunya mereka, saya seperti diombang- ambingkan oleh lagu mereka. Semuanya komplit dan membawa sesuatu yang baru. Sepertinya saya mulai keracunan dengan lagu Pop Jazz sejak saat itu. Apalagi banyak lagi musisi yang semakin ke sini semakin membawakan lagu- lagu Jazz yang menyodoki perasaan saya saat dimainkan, saya menjadi semakin keranjingan. 

Bahkan ada juga yang lebih energetic dan lebih pop lagi, RAN ( @RANforyourlife ) yang booming dengan lagu perdana mereka, Pandangan Pertama. Saya semakin galau dan meracau. Semuanya membuat saya gila. Dan saya semakin suka dengan jazz.  

Saya merasa terbang saja, saat semua alat musik bersatu. Membentuk satu alunan indah bernadakan jazz. Saya serasa melambung di angkasa saat semuanya membaur menjadi satu. Entah saya tahu atau tidak nadanya, tapi saya bersyukur sangat bersyukur bahwa jazz mendamaikan dunia saya. Saya merasa mengalir saja saat musik jazz membawa saya ke dalam dunianya. Memelintir perasaan kadang dengan liriknya, atau sekedar penghibur semata. 

Yang jelas saya bersyukur mengenal mereka, walau bahkan mereka tidak mengenal saya, tapi saya merasa berterimakasih. At least, saya merasai hidup saya. Memberi sedikit warna, pada hidup saya, memberi sedikit arti pada kehadiran saya. 

Satu hal baru yang mungkin saya tahu, Tulus juga akan main di Java Soulnation 2012 bulan September mendatang. Sebuah kebahagian melihatnya, mungkin saya harus berkesempatan untuk menikmatinya juga.

Bahkan saat ada Java Jazz Festival, saya sangat antusias walau pun itu sepertinya mustahil untuk bisa menikmatinya, Sangat WOW sekali mungkin saat bisa melihat mereka langsung, tapi lewat lagunya saja saya pun sudah cukup bersyukur bisa mengenal mereka lebih dekat. 


Wednesday, 8 August 2012

Mimpi dan Hidup


Sebenarnya apa pencapaian Anda dalam hidup ini?
Sederhana dan memikat. Sebuah pertanyaan jitu yang dilontarkan oleh siapa pun orangnya dan untuk siapapun dia. Satu saja pertanyaan sederhana yang kemudian menuntun kita pada sebuah perjalanan berarah maupun tanpa arah yang telah kita lalui sepanjang usia kita. 

Baiklah, coba sekarang Anda membayangkan dan mengingat-ingat. Apa saja yang telah Anda lakukan pada diri Anda sepanjang usia Anda sekarang ini. Untuk ukuran saya yang saat ini saya mencapai usia berkepala 2 dan berekor 2 juga, saya merasa saat ini saya merasa sangat kecil, sangat lemah dan kadang hilang arah. Saya tidak bermaksud mengakomodir orang lain untuk kemudian meminta mereka semua untuk menghakimi saya yang sampai pada saat ini saya belum memiliki pencapaian berarti.

Saya jelas masih ingat sekali, ketika itu dia bertanya kepada saya lewat messaging. Sebenarnya simple saja. Dia bertanya, kalau sudah lulus kuliah mau jadi apa?

Saya kemudian membalasnya dengan penuh rasa bangga. Ya pengen tetep ngajar. Terus kalau bisa pengen kerja di Radio yang udah punya reputasi bagus. Saya senang dengan pertanyaan semacam ini, karena memicu saya untuk kembali mengingat-ingat lagi apa saja mimpi saya dan betapa saya ingin mencapainya, apa pun yang terjadi.

Tapi bagi saya, entah itu mimpi akan terwujud atau tidak, bagi saya dan teman- teman saya, saya cukup bersyukur dengan semuanya yang ada. Pernah teman saya kemudian berkelakar tentang mimpinya yang banyak sekali, kemudian teman saya yang lainnya berujar, baginya mimpi adalah mimpi. Sebuah batas pencapaian dan pembeda manusia dengan ciptaanNya yang lain, pembeda yang menjadi indikator kita untuk berlabel manusia, jadi entah mau terjadi atau tidak yang jelas kita sudah bermimpi, bermimpi untuk memiliki mimpi bukanlah hal yang mudah.

Kembali lagi ke pertanyaan teman saya yang menanyakan mau jadi apa saya ke depannya dan tentang jawaban saya itu dia cuman berkomentar satu hal. Standar banget mimpimu.

Saya jadi berpikir agak lama. Benarkah saya terlalu standar dalam bermimpi? Bukankah beberapa yang saya ujarkan itu sudah sangat WOW bagi saya. 

Saya jadi lebih bertanya lagi. Apakah semua yang saya miliki ini terlalu standar? Mimpi saya saja dibilang standar. Jangan- jangan muka saya juga terlalu standar?

Tapi terlepas dari itu, kemudian saya belajar satu hal, dan memahami banyak hal. Saya mungkin melihat ke depan itu terlalu sederhana dan sangat real. Baiklah orang boleh berkelakar dengan sejuta argumennya tentang hal ini. Tapi saya sangat mengerti sekarang, bahwa hidup tidak serba mudah dan serba instan. Semuanya butuh yang namanya usaha keras untuk memulainya. Baginya mungkin mimpi- mimpi saya ini terlau umum dan biasa. Baginya mungkin saya masih harus memiliki sebuah rencana pencapaian yang lebih tinggi agar saya mampu memiliki daya saing di pasaran global ini. Yah, baiklah kalau begitu. Saya rasa memang ada benarnya.

Akan tetapi, bukan merupaka sebuah rahasia jika saya dan kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk going flow on the stream. Mengikuti arus hidup yang memang seperti ini. Untuk saat ini saya memilih mengikuti arus saja. Boleh dikata kemudian saya adalah orang yang pasif saja. Tapi well, this is it. Hidup sudah penuh dengan kejutan, bagi saya, kejutan- kejutan dalam hidup seperti layaknya kembang api di pentas malam tahun baru. 

Saya sangat menikmati kemana hidup membawa saya. Ke sebuah tantangan baru yang sebelumnnya belum pernah saya coba, ataupun kembali mengingatkan saya akan kisah lalu yang pahit. Bagi saya itulah taste hidup, ketika kamu hidup berarti ada satu kontrak tak tertulis antara kita dengan Tuhan bahwa kita memang harus beresiko untuk jatuh berulang- ulang maupun untuk menyunggingkan senyum. 

Dan saya merasa selama saya berada di aliran hidup saya benar- benar hidup dan saya mengerti kenapa saya hidup. Tapi, saya pun harus paham. Untuk mengikuti arus hidup itu bukanlah hal yang mudah. Saat hidup menempa kita dengan karang, berarti kita harus memiliki quality control untuk mengjalaunya.

Bahaigalah ketika Anda bermimpi dan berbahagialah ketika Anda mencapai mimpi Anda sebagai sebuah pencapaian dan ketegaran!

Baiklah, selamat menempuh hidup Anda dan bermimpilah! Karena kata Andrea Hirata dalam Edensornya, Tuhan akan memeluk mimpi kita! Selamat bermimpi dan berjuang!


Salam,

~Osy~