Saturday, 6 October 2012

Simply, Do What You Love

Selamat datang Oktober, dan selamat datang harapan baru untuk setiap langkah barumu. O ya, saat saya menulis post ini, baru saja hujan turun dan suasananya masih adem, dan saya sangat suka dengan aroma tanah basah yang selesai diguyur hujan.

Back to the propose, saya sekarang ini sedang menyelesaikan buku dari Alanda Kariza yang Dream Catcher. Buku ini sebenarnya sudah lama ingin saya miliki. Teman saya sering merekomendasikan buku ini untuk saya yang sering kali haus akan motivasi untuk membangun mimpi saya.

So, it's gonna be right to say a big thank for Pipit who always gives me a strength to stand up and be steady!

Saat saya membaca bagian- bagian awal buku ini, saya sudah sangat yakin bahwa saya akan sangat jatuh cinta dengan buku ini. Karena Alanda Kariza sangat sederhana mengemas buku ini sehingga bagi orang awampun akan sangat  mudah untuk memahami apa yang ingin dia sampaikan lewat bukunya, tapi juga tidak sesederhana itu. Buku yang sarat akan makna hidup itu sudah selayaknya dibaca, bukan promosi but believe it! It works crazing you always with its emotional and motivational quotes inside.

Sedikit bercerita, saya sangat ingat pada salah satu halaman yang ada di buku tersebut. Ada salah satu quotes yang sangat saya sekali dan saya yakin banyak orang pun akan berkata sama.
"DO something you LOVE and you will NEVER have to work a day in your life." 
Confucius

Itulah yang membuat saya terhenti beberapa saat pada halaman tersebut. Sudah lama saya memahami hal tersebut. Saya sangat meyakini bahwa semuanya akan sangat 'menjadi lebih mudah' ketika semua itu berawal dan berangkat dari hati.

Bukan sembarangan saya berkata demikian. Mungkin kalau meminta untuk pembuktian secara logis dan ilmiah, hal ini tentunya akan sangat sulit untuk dibuktikan. Semuanya jika berurusan dengan masalah hati dan segenap rasa ingin untuk melakukannya dengan ikhlas dan tulus tentunya akan sangat sulit untuk menunjukkannya.

Saya sering berkata kepada beberapa orang yang dekat dengan saya bahwa lakukanlah apapun yang kamu lakukan dengan cinta dan rasa sadar bahwa kamu memang benar- benar ingin melakukannya, meskipun itu berat. Tidak mudah memang mewujudkannya karena kadang kita memang berada dalam kondisi terdesak untuk melakukannya. Kadang dan bahkan kita sering merasa tidak sepenuh hati dalam menjalankan tugas yang kita emban. Sederhana memang, sering karena kita memang tidak ingin melakukannya atau kita memang tidak memiliki passion untuk melakukannya.

Tapi alangkah bijaknya jika kita melakukannya dengan sincerely and lovely. 

~Osy~

Wednesday, 26 September 2012

Reaching Out Of Our Zone


Sometimes it needs more than just once checking whether you are ready enough to let yourself out of the common way you step on. The big consideration is that you are already feeling too much comfortable with the way it goes. 

Saat- saat seperti inilah yang sedang dan bahkan mungkin akan kita hindari. Saat kita benar- benar terlalu nyaman in a particular position or even situation in which it leads us into what we are eager to have. Sangat sayang sekali meninggalkan what we are right now rather than choosing to be someone else or to be what we may would be. 

Saya pernah mendengar sebuah istilah tentang comfort zone. Dan saya mengalami itu. Untuk saat ini, exactly I possess what people say about comfort zone. Apparently, I'm enjoying my life whenever it would go leading me to somewhere or nowhere but exactly, the thing's, I enjoy to be what I am now.

Saya bisa hidup dengan kondisi seperti saat ini adalah sebuah nilai positif yang harus saya akui bahwa saya memiliki confort zone saya. I ,once, talked to my friend, discussing about this point of view, and we agreed that both of us have already had our comfort zone, meaning that we could support what we wanna from what we are now, seperti sekedar mempertahankan gaya hidup kita yang sebenarnya juga hampir dekat dengan yang namanya jiwa konsumtif. Tapi at least, kita masih bisa memenuhi semuanya dengan apa yang kita peroleh dari apa yang kita kerjakan sehari- harinya. Dan kita sepantasnya bersyukur terhadap semua itu.

Tapi kembali lagi ke konsep awal. Apakah kita hanya sekedar akan bertahan pada status kita yang memiliki zona aman kemudian lantas menikmatinya tanpa berani keluar dari zona yang sudah mengamankan kita dari segala macam keadaan termasuk mempertahankan gaya hidup kita?

Well, I personally, belum berani untuk melangkah keluar dari zona tersebut. Belum berani hanya untuk sekedar menjenguk keluar lalu melangkah lagi ke dalam zona tersebut kemudian menikmatinya seperti sebelumnya.

Dari obrolan saya dengan salah seorang teman saya, ada banya pertimbangan kalau kita memang definitely ingin get out form our comofrt zone and reaching another zone which may need more than just an ordinary endeavor. Salah satunya adalah persoalan bahwa sebagian besar hidup kita bergantung pada zona aman tersebut dan jika we decide to take ourself out of that zone, kita akan mengalami ketimpangan hidup. Simply, it deals on financial supporting and other case. So how would we maintain the rest of our lives when we still need the main support for our finance?

Itulah yang menjadi pertimbangan besar saya.

Honestly, I wanna someday, get out of what zone I am in, but then when almost 80% of our lives supported by that zone could we just easily reach out another zone?

For some reasons, some people decide to get this condition. And I really appreciate the way they do that thing. As always, I just could clarify bahwa ini bukan sekedar pertaruhan mau atau tidak, bukan sekedar persoalan apakah hidup akan sesimple ketika kita punya the previous zone. Ini adalah persoalan komitmen. Komitmen untuk bangkit dan berusaha lagi dari awal, dari permulaan. Kemudian kita akan tahu bagaimana it would go as we may have experienced another way before.

~Osy~

Friday, 31 August 2012

I am Happy and You?


Saya bingung ingin memulai dari mana, tapi yang jelas saya merasa bahwa semua orang berhak memiliki dan menikmati kebahagiaan mereka masing- masing, tidak peduli bagaimana kerasnya mereka harus meraihnya, yang jelas ketika kebahagiaan mereka itu sudah menjadi satu hal yang real, akan sangat memungkinkan bagi mereka untuk menikmati kebahagiaan mereka itu.

Sadar atau tidak tapi saya merasa bahwa ini benar. 

Saya pun juga tidak begitu tahu kenapa saya tiba- tiba ingin sekali menuliskan tentang ini. Jujur saja, saat ini saya sedang bingun, kalau boleh meminjam istilahnya Cherry Belle saya sedang dilema, dan galau. Bukan lantaran saya harus memilih manakah yang akan menjadi pasangan hidup saya, tapi lebih ke arah harus memilih provider manakah dompet saya akan bertambat karena saya merasa akhir- akhir ini tarif internet bulanan semakin mencekik leher saya, padahal bagi saya modem adalah hal yang paling intense dekat dengan saya. Bagaimana tidak coba, ketika saya harus mengirimkan email ke Dosen saya, akan sangat repot sekali kalau saya harus mencari warnet, apalagi kalau saya harus menyusun tugasnya wah bisa berabe kalau saya harus jauh dengan koneksi internet. 

Saya merasa internet sangat memahami saya dengan baiknya. Bayangkan saja ketika saya butuh soal- soal untuk latihan murid- murid saya, dengan lapangnya internet memberikan saya untuk berbagi. Ketika saya sedang galau atau bahkan sedang jenuh, saya bisa menuangkannya melalui blog saya ini no matter what they are going to say about my writing. Just that!

Tapi akhir- akhir ini provider internet tempat saya berlangganan kok saya rasa semakin mahal saja. Saya jadi bingung. Saya sempat browsing ke sana sini dan menemui bahwa tarifnya bahkan malah sudah naik. Wah, ini jadi sangat merugikan sekali bagi saya. Oke, saya memang pelanggan yang kurang berterimakasih kali ya. Padahal dengan tarif yang memang agak dinaikkan dan mencekik dompet saya yang sudah berkali- kali berteriak, saya akan mendapatkan banyak kemudahan dan kelonggaran. Jujur ya, saya sangat menyukai provider yang satu ini, karena jaringan dan koneksinya sangat juara, tapi mahalnya juga juara deh. 


Mungkin ini yang namanya hukum keseimbangan. When you want to get something, at least you've gotta give something in return. 


Jadi semuanya akan berjalan dengan indahnya.  Masalahnya adalah ini soal biaya dan keadaan finansial saya yang kadang melepuh dan kadang mengembang yang tak tentu musimnya. Memikirkan pilihan manakah saya akan berlabuh, maksudnya pada provider seluler manakah, sangat sulit sekali. Seperti layaknya mau memasukkan anak kita ke perguruan tinggi favorit kita. Maklumlah, keinginan sangat tinggi, tapi ketika melihat kenyataan seperti layaknya dijatuhkan dari tebing bahkan mungkin langit yang tinggi kemudian masih diinjak- injak dengan ganasnya.

Tapi inilah yang disebut dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Kalau kemudian saya pikir- pikir lagi wajarlah ketika tarif internet seluler dinaikkan. Pasalnya, sekarang ini demand-nya sangat tinggi juga. Jadi tidak heranlah ketika harganya naik karena pasar banyak yang memintanya. Inilah yang kemudian disebut dengan hukum permintaan. Kalau dibuat kurvanya akan semakin menaik mungkin kali ya, sayang saya bukan mahasiswa ekonomi, tapi sedikit- sedikit saya masih ingat pelajaran ekonomi ketika saya SMA.

Dan sangat wajar sekali ketika kita sedang anget- angetnya dengan gadget dan sedang panas- panasnya memanfaatkan internet tapi kemudian kita banyak mengumpat karena tarif internet yang melambung tinggi karena kita mungkin harus menghadapi kenyataan bahwa we're no longer could touch the internet service as usual. 

Termasuk saya juga. Saya sekarang ini sedang gentar- gentarnya memikirkan manakah expense yang harus dipangkas sehingga saya masih bisa menikmati koneksi internet dengan modem saya itu. 

Kemudian saya bertanya- tanya, kenapa ya internet itu mahal bagi saya? 

Wajar mungkin ya mahal, karena semuanya ada di internet. Kita tidak usah direpotkan dengan semua hal ketika kita bisa mengakses internet. Kebahagiaan bagi kita inilah.

Saya merasa kebanyakan orang akan sangat bahagia ketika telah berteman dengan yang namanya internet. Baru saja saya membuka akun Facebook saya. Dan voi la. Banyak rupa dan karakter muncul di sana. Gara- gara internet juga semuanya. Saya merasa orang- orang di Facebook sangat bahagia dan bersyukur bisa berkenalan dengan internet, karena semuanya dipermudah. Bisa pasang foto baru yang sangat eksis kadang terlalu narsis juga, bisa lebih merasa rapuh sekali dengan statusnya yang seolah sinetron sekali, sangat tersiksa dan sangat meronta- ronta padalah biasa saja mungkin.

Dengan internet kita juga bisa berkenalan dengan orang baru yang sepenuhnya belum pernah kita temui, kemudian kita ajak kenalan. Berawal dari sekedar kenalan yang kemudian menjalar menjadi lebih dekat sedekat kopi darat dan lebih mendalam lagi sampai diajak kencan. Sangat fantastis sekali ya.

Bahkan ada juga yang menuai hasil di sana. Berawal dari sekedar hobby bernyanyi yang kemudian dipajang di youtube yang kemudian dilihat oleh jutaan pasang mata dan seketika itu juga membuka peluang lain untuk berkenalan dengan orang lain yang berkecimpung di dunia bisnis entertainment yang berjanji akan melambungkan namanya dan berhasil. Ada banyak aktris sampai penyanyi yang juga jebolan salah satu situs sosial di internet yang laris manis itu.

Terserah orang mau berkomentar apa, tapi inilah kebahagiaan mereka. Sepenuhnya mereka berhak untuk mendapatkannya. Sepenuhnya mereka pantas, karena ada usaha dibalik semua itu. Bayangkan saja, untuk bisa meng-upload foto kita, harus ada pengorbanan yang harus diambil. Mulai dari pose kita yang harus 100% cute dan narsis. Sampai usaha besar untuk mengkoneksikan komputer kita dengan jaringan internet sehingga foto kisa bisa terpajang dengan narsisnya di Facebook. Jadi, sudah sewajarnya mereka bahagia karena ada berbagai tahapan yang harus ditempuh, dan inilah mungkin kebahagiaan mereka. 

Kalau mereka kemudian berteriak lantang merasakan kebahagiaan mereka wajarlah ini. 

Saya sering mendengar teman- teman saya merasa bahagia dengan semua pencapaian mereka saat ini. Mulai dari cerita teman saya yang sangat bahagia sekali bisa menapakkan kakinya di puncak gunung, atau cerita teman saya yang senang sekali karena telah mendapatkan pekerjaan dan gajinya lumayan. Atau cerita lainn dari teman saya yang sedang kasmaran dengan gebetannya yang baru padahal sudah memiliki pasangan, atau hanya sekedar cerita teman saya tentang kuliahnya yang sudah mau selesai. Semuanya kedengarannya bagus dan enak di dengar. Jadi dari semua itu saya simpulkan. Semua cerita yang berbau kebahagiaan pasti enak di dengar dan disimak. 

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan itu. Saya sendiri berkata demikian. Kalau kebahagiaan yang kamu rasakan itu adalah hasil jerih payahmu untuk meraihnya, itu sangat wajar. Dan sudah sepantasnya kamu merasakannya. Jadi ketika ada yang bercerita tentang kebahagiaannya di saat- saat dia menjalani pekerjaannya saat ini, saya sangat bersyukur sekali. Kenapa? Karena itu artinya dia menjalankan profesinya dan kegiataannya dengan sepenuh hati. Tidak peduli dengan apa yang akan dia dapat. 

Saya berkeyakinan satu hal. Mungkin nilai 7 di ulangan Matematika kita pada saat kita dulu sekolah adalah nilai yang pas pasan saja. Bagus iya, tapi kurang cukup untuk dibilang indah. Tapi akan jauh sempurna sekali ketika nilai yang hanya sekedar 7 yang mungkin sangat mepet sekali dengan KKM kita di sekolah dulu, tapi nilai tersebut kita peroleh dengan perjuangan yang panjang, dan kita jalani dengan penuh keikhlasan. Jadi ketika hasilnya keluar kita akan merasa sangat bersyukyur karena walau pun hanya 7 yang ketika disejajarkan dengan nilai 9 akan jauh lebih terpuruk tapi kalau prosesnya berawal dari ikhlas dan jujur saya rasa ini sebuah kebahagiaan.

Semuanya pantas berbahagia. Tinggal bagaimana saja kita menapaki dan menikmatinya.

Jadi, ketika saya sedang bingung seperti sekarang ini dengan provider apa yang akan saya pilih, mungkin akan menjadi kebahagiaan bagi orang lain untuk membuat saya galau dan bingung untuk memilih. Bagi providernya akan sangat bahagia sekali melihat saya bingung. Tapi ada juga yang bahagia di lain pihak, seperti para penjual voucher pulsa isi ulang yang laris manis saat ini. Tapi itulah kebahagiaan mereka untuk menikmatinya, dan ini juga kebimbangan saya.

Thanks for reading!

Salam
~Osy~

Wednesday, 29 August 2012

It's Time to See YOU!


It's may be more than just a couple days since I'd posted my last post on my blog. How are you guys anyway? I'm feeling good here when I let myself be in front of my netbook enjoying the WiFi in my office. It was so much interesting ya know!!

Well, beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke rumah salah satu teman saya yang ada di Temanggung, in fact I'm living in Temanggung too, but it's lil bit out of town, so when I miss one of my greatest friend, I've gotta move to the centre, sometimes it sounds silly.

Seperti biasanya, saya menikmati momen ini karena saya akan bertemu dengan teman lama saya, berbagi cerita atau hanya berkumpul saja, dan kadang berkuliner. Well, untuk yang terakhir tadi rasanya sangat bersyukur sekali ketika saya masih bisa menikmati kuliner di Temanggung, dan saya merasa bahwa hampir semua orang terlalu mencintai hal yang satu tadi. Culinary brings us more than just happiness but also something good else, sharing, stories, or even just gathering - just to see that we have someone else on this earth! :)

Dan dari pertemuan saya itu, saya terlampau sangat bersyukur hingga saat ini, karena terbukti walau hanya dengan sekedar bertemu ternyata it brings joy and excitement. Saya akhirnya bisa mendapatkan satu pencerahan dari kuliah singkat Ayah dari teman saya tersebut. Dan saya sudah menduganya. Sering dari sekedar obrolan biasa kemudian dengan tiba- tiba Ayah teman saya mengeluarkan jurusnya -mengeluarkaan kalimat puitis kadang bernada sinis atau romantis, untuk membumbui obrolan kami agar lebih hangat dan lebih menggigit saja.

Well, kalau kemarin saya mendapatkan sebuah cerita yang memang sangat bermanfaat. Kisah tentang dua ekor burung yang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup di bumi. Yang satu adalah burung malas sementara yang satunya lagi adalah burung bodoh. Dua- duanya dianugrahi kesempurnaan sebagai salah satu ciptaan Tuhan yaitu sayap karena mereka adalah burung. Jadi, sudah barang mutlak ketika kita melihat dua ekor burung tersebut. Tidak ada yang kurang, semuanya perfect. 

Tapi amat sangat disayangkan. Both of them have their own wings, this means it'd possible for them to see the beauty of the world. Instead of being stucked on earth without knowing what to do or what you gotta do. 

Sama halnya dengan dua burung tersebut. Physically they are perfetc. Sayap ada, dan bisa digunakan untuk terbang. Mata juga ada yang bisa digunakan untuk melihat dan mengamati dunia, atau bahkan untuk melihat keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya sudah ada pada mereka. Jadi bukan barang mustahil lagi kalau mereka ingin terbang dan tinggal kepakkan sayap saja dan semuanya voi la!

Tapi semua hal yang ada di dunia memang kelihatannya sempurna dan indah, tapi belum tentu yang indah- indah dan sempurna itu bakalan menjadi sempurna dan indah di sisi lainnya. Let's see. Kedua burung itu memang sudah sempurna secara fisik, tapi burung yang satu adalah burung yang bodoh. Dia memiliki sayap, mata, kaki, dal lainnya tapi dia adalah burung yang bodoh. Dia adalah burung yang tidak tau bagaimana cara menggunakan apa yang melekat pada dirinya. Terlebih dia bahkan tidak tahu juga kalau dia adalah seekor burung. Hasilnya apa? Dia tidak bisa terbang, dan selamanya dia hanya berpijak saja pada kakinya. Tidak ada manfaaat yang dia bisa ambil dari takdirnya sebagai seekor burung. Jadi semua hal yang ada padanya -semua kesempurnaan fisik yang melekat padanya bakalan tidak berguna alias nothing untuknya karena dia sendiri tidak memahami takdirnya sebagai seekor burung.

Yang kedua adalah burung yang malas. Dia adalah burung yang secara fisik dan kasat mata sempurna. Fisik mendukung untuknya untuk terbang dan melihat indahnya dunia. Tapi sayang sekali, dia bukanlah kategori burung yang mau mengerti keadaan juga. Berbeda dengan burung yang pertama, burung yang kedua ini adalah burung yang tahu bagaiaman cara mengepakkan saya sehingga dia bisa melayang dan terbang. Dia tahu bagaimana cara menggunakan sayapnya, matanya bahkan juga kakinya. Jadi sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak terbang karena semuanya ada. Yang disayangkan hanyalah satu. Dia adalah burung yang pemalas. Burung yang tahu semuanya tapi malas untuk memanfaatkan apa yang dipunya.Dia mengerti bagaimana caranya untuk terbang. Dia tahu bagaimana caranya untuk melihat dunia, tapi lagi- lagi karena dia malas, jadinya tidak ada yang perlu diambil dari semuanya. Alhasil, dia juga stuck in a moment. Tidak ada progress yang berarti dari dia.

Saya cukup terkesima dengan cerita burung tersebut. Kedengarannya memang simple dan sederhana saja, tapi setelah kita kaji lebih dalam semuanya sangat berguna. 

Dari dua kisah burung tersebut saya sendiri bisa menyimpulkan, bahwa ada banyak tipe makhluk di bumi ini sebagai ciptaan dari Sang Khalik. Dua cerita burung dan dua karakter burung di atas sudah mewakili salah satu dari banyak karakter manusia yang ada di bumi. Ada banyak dari kita yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sehingga dari potensi tersebut akan tercipta sebuah hal lain yang sama besarnya yang kedepannya akan membuka peluang lain yang jauh lebih besar. Tapi sayangnya kita terlalu bodoh dan naif untuk melihatnya, kita terlalu merunduk sehingga segala potensi yang ada tersebut berasa sia- sia saja dan kelihatannya jauh di bawah sempurna, padahal kalau kita mau melihatnya lebih dalam akan menjadi berbeda ceritanya. Sama halnya dengan burung yang bodoh tadi, kalau saja dia tahu dan mengerti bagaimana caranya mengepakkan sayapnya, mungkin ketika dia dihadapkan pada predatornya, dia akan memiliki kesempatan besar untuk bisa menghindarinya dan menyelamatkan dirinya.

Sementara dari kisah kedua yang ada, kita bisa mengambil pemahaman bahwa banyak dari kita yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, dan masing- masing dari kita juga tahu bahwa kita bisa untuk menjadi besar dengan potensi itu. Sayang sekali, kita terlalu malas untuk move on. Terlalu mudah untuk merasa kecil sehingga untuk sedikit berpikir dan bergerak. Hasilnya sama dengan yang pertama, dia tidak memiliki progress yang besar untuk melihat dunia, untuk menjadi yang baru dan menjadi a brand new one. 

Dua karakter itu sudah sangat mewakili dari berjuta pasang mata yang ada di dunia. Ada dari kita yang terlalu malas untuk bergerak sehingga ketika yang lainnya sudah bergerak jauh kita masih stuck saja dan tidak ada perubahan berarti yang maksimal padahal anadai saja kita mau sedikir memikir lagi, kita masih bisa mengambil langkah baru lagi untuk bisa menjadi berbeda.

Maka dari itu, kenalilah diri kamu, temuilah potensi yang ada padamu, dan menjadilah orang pertama yang sangat memahami kamu sehingga segala yang ada pada kamu dapat dengan mudah kamu dekati dan kamu kembangkan. Tidak ada yang terlahir dengan tidak ada potensi yang melekat padanya. Semua yang lahir dan menginjakkan kaki di bumi, memiliki bakat dan potensi lebih untuk bisa dikembangkan, hanya masalahnya kita terlalu bodoh atau kita terlalu malas saja.

Thanks for visiting,

~Osy~



Wednesday, 22 August 2012

Antara Kebebasan dan Kesendirian

Welcome back Holiday when all the time feel so ambitious. Serasa semuanya berasa indah saja saat- saat seperti ini, karena jujur saya lebih merasa bebas dan lepas. Saya bisa memilih untuk menjadi diri saya yang senang tidur dan menikmati hari. Itu saja. Sederhana  mungkin kelihatannya, tapi ya mau bagaimana lagi karena hanya itulah yang sering saya suka. Well, Holiday means so much for me. Karena kebiasaan setiap hari saya habiskan di tempat kerja yang sangat menyita waktu dan energi saya, jadi moment seperti ini berasa seperti golden moment untuk saya, karena saya merasa menjadi diri saya sendiri. No matter what they're gonna say.

Saya sekarang semakin menyadari saja, kalau saya memang suka moment seperti ini. Bukan hanya soal Lebaran dan Liburan yang momentnya selalu bersama. Tidak hanya sekedar ketupat dan memohon lepat (maaf) tapi juga tentang waktu yang sangat berharga luangnya untuk mencipatkan me-time. 

Jujur, akhir- akhir ini saya lebih suka mengamati orang lain yang serba sibuk di saat lebaran ini. Yang sering sliweran dan wara wiri di mana- mana, yang sering sekali ketemu dengan orang itu lagi lebih dari sekali. Hingga hanya sekedar menghabiskan bensin di motor saya hanya sekedar untuk mencari spot yang bagus untuk saya abadikan dengan kamera pocket saya. Hasilnya nihil sekali. Impian saya saat akan berangkat adalah menemukan tempat yang lumayan sepi dan saya bisa menikmati hari itu sendiri ditemani dengan lagu di play list saya, dan sempurna!

Mungkin orang- orang yang dekat dengan saya kebanyakan akan banyak bertanya- tanya tentang hobby saya yang suka menyendiri itu. Banyak yang akan bertanya "Buat apa kamu pergi sendirian?"

Well, it's a silly question so far. But, OK I'm trying to be honest to loosen your curiosity.

Saya lebih suka sendiri. Kedengarannya aneh ya. Orang yang sudah mengenal saya akan mudah sekali menerka bahwa saya adalah orang yang suka dengan keramaian dan suka membuat suasana menjadi ramai. Tapi kenapa saya kemudian lebih mencintai moment indah sendirian? 

Sederhana saja, saya lebih mencintai suasana sendiri. Mau bagaimana lagi, kalau memang saya suka dengan moment sendiri. Saya lebih merasa saya bisa menikmatinya 200% bahkan lebih mungkin. Jadi semisal ada orang lain yang menemani saya, bukan berarti saya akan berpikir bahwa dia merecoki suasana saya, bukan! Tapi saya hanya merasa bahwa ada banyak perenungan yang mungkin akan terlintas dalam imaji saya saat saya sendiri dan saya mampu menikmati semuanya dengan apa adanya.

Jujur saja, saya adalah seorang penikmat perjalanan. Bahkan saya sering memilih mengambil jalan yang lebih memutar hanya untuk menikmati jalan. Hanya untuk menikmati suasana saja. Menikmati sore. Menikmati suasana di saat saya mengendarai sepeda motor saya. Menikmati indahnya bisa melihat ramianya jalan. Dan itu sebuah sensasi. Dan saya menyukainya. Orang lain? Belum tentu mereka akan berpikiran sama dengan saya, tapi untuk apalah diributkan, toh mereka kan mempunyai cara mereka sendiri untuk menikmati kebahagiaan mereka, dan mungkin saya hanya akan berpendapat bahwa itu cara mereka untuk menikmatinya. Banyak cara menikmati kebahagiaan dan keindahan. Haruskah keindahan dan kebahagiaan diperdebatkan?

Bahkan ketika saya pergi ke beberapa mall atau sekedar supermarket saya pun memilih sendiri, jadi saya tidak merasa terpaksa pergi saat tak ada orang lain yang bersedia menemani saya untuk pergi. Toh, saya juga merasa saya masih OK- OK saja saat harus sendiri. Bukan berarti saya tidak mau ditemani, tapi daripada saya harus memaksa orang lain untuk menemani saya, lebih baik saya sendiri saja, kan juga tidak ada bedanya kan?

Setelah semua itu saya sedikit menarik kesimpulan atas apa yang sering saya lakukan. Kedengarannya memang sedikit selfish mungkin, tapi ya inilah saya. Tapi saya belajar memahami. Saya mungkin seseorang yang introvert, yang lebih menyukai kesendirian dan me-time, hanya sekedar untuk menikmati setiap moment yang saya lewati, menikmati setiap saat yang saya anggap ini adalah moment sempurna yang saya sangat sering meidam-idamkannya. Jadi saya hanya merasa bahwa ini adalah normal saja ketika saya menikmati moment itu dan saya tidak beranggapan saya salah apalagi aneh selama saya merasa bahwa ini sah- sah saja. Bahkan ketika ada orang yang melihat saya yang sendiri dengan pandangan agak sedikit sinis terhadap saya, bagi saya itu biasa saja. Kebebasan untuk berpendapat dan menyatakan ekspresi bagi saya adalah prioritas tertinggi yang saya junjung, selama dalam ranah dan wajah yang masih bisa diterima.

Saya memang serba aneh mungkin kali ya, sampai- sampai salah satu teman kerja saya berpendapat bahwa saya adalah orang yang sedikit hedonis. 

Pertama ketika mendengar dia berkelakar semacam itu, saya berpikir sejenak, separah itukah saya? Sampai- sampai teman saya saja mengatakan bahwa saya adalah orang yang suka mencari kesenangan semata. Yang salah dari saya apa ya, kok kemudian saya dianggap orang yang mengincar kesenangan saja. Mungkin salah satunya adalah kegemaran saya yang sering plesir, begitu mungkin ya. Mungkin baginya saya terlalu meroyalkan diri hanya pada kesenangan saja, termasuk saat saya lebih memilih sendiri untuk pergi. 

Bahkan ada yang lebih parah lagi, saat saya bercerita tentang pengalaman saya pergi- pergi tersebut yah walaupun perginya juga tidak jauh- jauh amat, hanya disekitaran gunung saja, kemudian ada yang berkomentar "Mbok jangan sendiri to, sama siapa gitu, cari pacar lah."

Kalau yang satu ini sangat menohok sekali. Saya memang terbiasa menyendiri. Dan mungkin inilah yang saya akui sebagai salah satu kebebasan berargumen. Sah- sah saja ketika dia mengatakan itu, dan ini tidak masalah bagi saya. Tapi bagi saya, selama saya masih enjoy dan tidak ada masalah tentang hal ini, ya saya menganggapnya ini wajar saja. Dan soal pasangan, bukan berarti saya tidak mencari, saya hanya merasa, bahwa Tuhan memiliki rencana untuk saya. Yang menjadi 'teman hidup' saya mungkin sudah digariskan oleh Tuhan, sudah disiapkan, sudah disediakan, tinggal waktu saja yang akan mempertemukan saya dan dia. 

Sedikit egois mungkin, atau malah terlalu hedonis lagi. Well, everything goes alright. Saya masih senang dengan keadaan saya saat ini. Ibarat kata saya sedang menikmati kebebasan saya, kebebasan untuk menjadi diri saya, kebebasan untuk menikmati setiap moment yang ada pada diri saya, dan saat- saat indah yang mungkin hanya akan saya nikmati saat ini.

Tentang kebebasan dan kesendirian, saya hanya memaknainya satu. Sebuah keterikatan yang maha sempurna yang menuntun kita menjadi dewasa dan bijaksana. Dewasa untuk mencoba menerima apa pun yang ada, dewasa untuk berusaha memahami situasi saat ini dan berusaha menjadi bijaksana untuk menerimanya dan menikmatinya dengan cara kita. Tidak ada yang salah dengan pendapat orang lain untuk berkelakar apa adanya dan semaunya, karena mereka diberkahi mulut dan ide. Jadi, what's wrong, as long as, I do enjoy with what I did and everything seems OK nothing bothers me, and I honestly do not want to disgust what they do, I do normally, and these are my life. 

Terimakasih telah mampir, 
Salam

~Osy~

Thursday, 9 August 2012

My Life's So Jazzy


Saya mungkin terlalu keranjingan saja, tapi baiklah tak apa. Anda boleh berkata. Toh itu hak Anda. Saya hanya ingin berkelakar. Kalau Anda tak sudi saya mampir, silahkan tutup saja laman ini. Dan nikmati dunia Anda, saya hanya parasit mungkin. Jujur, karena modem saya sedang hangat- hangatnya terisi pulsa jadi izinkan saya menikmati kemerdekaan tanpa beban dalam menikmati salah satu cobaan terberat dalam dunia yang fana ini, internet.

Apa yang akan saya tulis ini mungkin saja terlihat basi dan biasa saja, tidak berbobot atau malah terlihat sampah saja. Tapi saya hanya ingin bercerita saja. 

Oke, jujur saya sedang jatuh cinta dengan lagu- lagunya Abang Tulus ( @tulusm ). Saya sebenarnya sudah sering melihatnya di time line Twitter saya dari beberapa account radio di Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Bali dan juga Bandung. Sepertinya untuk kota yang terakhir itu, dari sanalah suaranya yang Jazzy Pop itu muncul. 

Well, saya adalah salah satu penggila musik jazz. Even, saya sendiri bukanlah orang yang piawai dalam bermusik, tapi bagi saya, saya sangat bersyukur masih bisa menikmati alunan musik yang indah dari musisi- musisi yang luar biasa dalam bermusik. Dan membuat saya semakin iri saja, coba ya saya bisa bernyanyi, pasti akan sangat lengkaplah dunia saya ini. 

Pertama saya mendengarkan lagu Jazzy adalah saat saya mulai mengenal Maliq and D'Essentials ( @maliqmusik ). Saat pertama mendengarkan lagunya mereka, saya seperti diombang- ambingkan oleh lagu mereka. Semuanya komplit dan membawa sesuatu yang baru. Sepertinya saya mulai keracunan dengan lagu Pop Jazz sejak saat itu. Apalagi banyak lagi musisi yang semakin ke sini semakin membawakan lagu- lagu Jazz yang menyodoki perasaan saya saat dimainkan, saya menjadi semakin keranjingan. 

Bahkan ada juga yang lebih energetic dan lebih pop lagi, RAN ( @RANforyourlife ) yang booming dengan lagu perdana mereka, Pandangan Pertama. Saya semakin galau dan meracau. Semuanya membuat saya gila. Dan saya semakin suka dengan jazz.  

Saya merasa terbang saja, saat semua alat musik bersatu. Membentuk satu alunan indah bernadakan jazz. Saya serasa melambung di angkasa saat semuanya membaur menjadi satu. Entah saya tahu atau tidak nadanya, tapi saya bersyukur sangat bersyukur bahwa jazz mendamaikan dunia saya. Saya merasa mengalir saja saat musik jazz membawa saya ke dalam dunianya. Memelintir perasaan kadang dengan liriknya, atau sekedar penghibur semata. 

Yang jelas saya bersyukur mengenal mereka, walau bahkan mereka tidak mengenal saya, tapi saya merasa berterimakasih. At least, saya merasai hidup saya. Memberi sedikit warna, pada hidup saya, memberi sedikit arti pada kehadiran saya. 

Satu hal baru yang mungkin saya tahu, Tulus juga akan main di Java Soulnation 2012 bulan September mendatang. Sebuah kebahagian melihatnya, mungkin saya harus berkesempatan untuk menikmatinya juga.

Bahkan saat ada Java Jazz Festival, saya sangat antusias walau pun itu sepertinya mustahil untuk bisa menikmatinya, Sangat WOW sekali mungkin saat bisa melihat mereka langsung, tapi lewat lagunya saja saya pun sudah cukup bersyukur bisa mengenal mereka lebih dekat. 


Wednesday, 8 August 2012

Mimpi dan Hidup


Sebenarnya apa pencapaian Anda dalam hidup ini?
Sederhana dan memikat. Sebuah pertanyaan jitu yang dilontarkan oleh siapa pun orangnya dan untuk siapapun dia. Satu saja pertanyaan sederhana yang kemudian menuntun kita pada sebuah perjalanan berarah maupun tanpa arah yang telah kita lalui sepanjang usia kita. 

Baiklah, coba sekarang Anda membayangkan dan mengingat-ingat. Apa saja yang telah Anda lakukan pada diri Anda sepanjang usia Anda sekarang ini. Untuk ukuran saya yang saat ini saya mencapai usia berkepala 2 dan berekor 2 juga, saya merasa saat ini saya merasa sangat kecil, sangat lemah dan kadang hilang arah. Saya tidak bermaksud mengakomodir orang lain untuk kemudian meminta mereka semua untuk menghakimi saya yang sampai pada saat ini saya belum memiliki pencapaian berarti.

Saya jelas masih ingat sekali, ketika itu dia bertanya kepada saya lewat messaging. Sebenarnya simple saja. Dia bertanya, kalau sudah lulus kuliah mau jadi apa?

Saya kemudian membalasnya dengan penuh rasa bangga. Ya pengen tetep ngajar. Terus kalau bisa pengen kerja di Radio yang udah punya reputasi bagus. Saya senang dengan pertanyaan semacam ini, karena memicu saya untuk kembali mengingat-ingat lagi apa saja mimpi saya dan betapa saya ingin mencapainya, apa pun yang terjadi.

Tapi bagi saya, entah itu mimpi akan terwujud atau tidak, bagi saya dan teman- teman saya, saya cukup bersyukur dengan semuanya yang ada. Pernah teman saya kemudian berkelakar tentang mimpinya yang banyak sekali, kemudian teman saya yang lainnya berujar, baginya mimpi adalah mimpi. Sebuah batas pencapaian dan pembeda manusia dengan ciptaanNya yang lain, pembeda yang menjadi indikator kita untuk berlabel manusia, jadi entah mau terjadi atau tidak yang jelas kita sudah bermimpi, bermimpi untuk memiliki mimpi bukanlah hal yang mudah.

Kembali lagi ke pertanyaan teman saya yang menanyakan mau jadi apa saya ke depannya dan tentang jawaban saya itu dia cuman berkomentar satu hal. Standar banget mimpimu.

Saya jadi berpikir agak lama. Benarkah saya terlalu standar dalam bermimpi? Bukankah beberapa yang saya ujarkan itu sudah sangat WOW bagi saya. 

Saya jadi lebih bertanya lagi. Apakah semua yang saya miliki ini terlalu standar? Mimpi saya saja dibilang standar. Jangan- jangan muka saya juga terlalu standar?

Tapi terlepas dari itu, kemudian saya belajar satu hal, dan memahami banyak hal. Saya mungkin melihat ke depan itu terlalu sederhana dan sangat real. Baiklah orang boleh berkelakar dengan sejuta argumennya tentang hal ini. Tapi saya sangat mengerti sekarang, bahwa hidup tidak serba mudah dan serba instan. Semuanya butuh yang namanya usaha keras untuk memulainya. Baginya mungkin mimpi- mimpi saya ini terlau umum dan biasa. Baginya mungkin saya masih harus memiliki sebuah rencana pencapaian yang lebih tinggi agar saya mampu memiliki daya saing di pasaran global ini. Yah, baiklah kalau begitu. Saya rasa memang ada benarnya.

Akan tetapi, bukan merupaka sebuah rahasia jika saya dan kebanyakan orang di dunia ini lebih memilih untuk going flow on the stream. Mengikuti arus hidup yang memang seperti ini. Untuk saat ini saya memilih mengikuti arus saja. Boleh dikata kemudian saya adalah orang yang pasif saja. Tapi well, this is it. Hidup sudah penuh dengan kejutan, bagi saya, kejutan- kejutan dalam hidup seperti layaknya kembang api di pentas malam tahun baru. 

Saya sangat menikmati kemana hidup membawa saya. Ke sebuah tantangan baru yang sebelumnnya belum pernah saya coba, ataupun kembali mengingatkan saya akan kisah lalu yang pahit. Bagi saya itulah taste hidup, ketika kamu hidup berarti ada satu kontrak tak tertulis antara kita dengan Tuhan bahwa kita memang harus beresiko untuk jatuh berulang- ulang maupun untuk menyunggingkan senyum. 

Dan saya merasa selama saya berada di aliran hidup saya benar- benar hidup dan saya mengerti kenapa saya hidup. Tapi, saya pun harus paham. Untuk mengikuti arus hidup itu bukanlah hal yang mudah. Saat hidup menempa kita dengan karang, berarti kita harus memiliki quality control untuk mengjalaunya.

Bahaigalah ketika Anda bermimpi dan berbahagialah ketika Anda mencapai mimpi Anda sebagai sebuah pencapaian dan ketegaran!

Baiklah, selamat menempuh hidup Anda dan bermimpilah! Karena kata Andrea Hirata dalam Edensornya, Tuhan akan memeluk mimpi kita! Selamat bermimpi dan berjuang!


Salam,

~Osy~

Thursday, 10 May 2012

Dear Someone

Melihatmu sama seperti menikmati senja di sore hari. Meresapi setiap teriknya. Memandang halus setiap bulir cinta sore matahari. Dan itu canduku.


Seperti saat ini. Berdiri di antara orang-orang yang memesan satu paket makanan cepat saji yang menu utamanya ayam goreng, aku menghempaskan pikirku sejenang ke selayang senja yang menggelitik perhatianku. Wajar saja jika aku merindukanmu. Senja adalah canduku. Canduku yang mengisap sepiku dan menggantikannya dengan amukan rindu akan kamu. Sudah aku empas jauh-jauh rindu ini. Tapi seiring dengan semakin berderunya sinar senja menghujani setiap sudut tempat makan ini, bahkan sinar temaram sorenya menyentuh lantai-lantainya menciptakan bayang panjang sore, aku jadi semakin yakin bahwa kau adalah sinar soreku. Tapi biarlah toh aku juga menikmatinua.


Tiba giliranku sekarang. Aku meneasan satu paket nasi lengkap dengan ayamnya dan juga coke. Semuanya lengkap untuk mengusir sore ini. Apalagi ingatanku akan kamu. Oh lupakan-lupakan. Sudah ayo segera bergegas membawa nampan ini dan mencari tempat makan yang seru.


Pikirku sekilas tertuju pada jam di cashier tadi. 17.17. Lucu juga ya. Pengulangan angka yang sama. Sama seperti dulu. Sering juga aku dan kamu berlomba mencari pengulangan waktu seperti sore ini. Dan kamu selalu jadi yang pertama. Kamu lebih dahulu menemukan kombinasi angka yang sama pada jam digitalmu. Aku mencemburui itu.


Akhirnya aku mendapatkan satu kursi di ujung yang sepertinya akan menjadi penghabisanku sore ini. Senja itu telah menyita perhatianku, membuat tingkat kelaparanku lebih tinggi dari biasanya. Memang benar. Sekali kau menyita aku, sekalian juga aku merasa lapar. Mungkin ini bodh. Tapi ini natural. Dan aku berterimakasih akan hal itu, karena dengan begitu aku akan menjadi lebih gemuk sedikit.


Tanganku terasa lebih cepat tanggap kali ini. Buktinya nervosaku baru saja memberikan stimuli sekejap, tanganku sudah meremas ayam goreng itu. Dan yang terjadi kemudian adalah pembantaian di meja makan ini. Tapi biarlah. Toh aku lagi-lagi menikmatinya.


Senja semakin merendah. Aku diuntungkan. Karena musim kemarau ini membuatku lebih ganas menikmatinya. Tanpa ampun. Langut semakin keemasan. Aku semakin berniat menghabisi makananku.


Sesaat aku ragu.


Tiba-tiba ini menyeruap.


Kamu begitu jelas. Dan aku semakin tersiksa. Berulabng kali aku katakan dan aku kuatkan. Sekali kau membayangiku. Aku bertekuk lutut. Sepertinya kamu memang lebuh tangguh dari aku.


Nasiku sudah habis. Tapi siksaanmu lebih dalam. Menusuk lebih dalam. Ah.. Kau. Senja semakin turun. Aku semakin yakin bahwa saat ini langit kebih keemasan lqgi. Tapi aku memilih untuk tidak melihatnya.


Kamu memang lebih jago dari aku. Kamu lebih bisa membuatku tersiksa saat harus merindumu. Dan ini sudah meyiksaku.


Pukul 18.00


Maghrib telah lewat. Dan aku belum beranjak. Semakin aku menikmati senja, disatu sisi aku terbakar akan nasibku sebagai tukang rindu.  Di sisi lain aku merasa senja bersahabat. Emasnya lebuh terasa sampai Ke dalam.


Sejenak aku hendak beranjak. Dalam kebesaran hati menerima kekalahan ini. Aku mencoba menyikapinya dengan dewasa. Tapi lagi-lagi aku harus kalah.


Kembali aku dudukan aku yang kalah ini. Menikmatinya. Sakitnya.


Pada akhirnya aku merasai. Kesepian ini membunuhku. Tapi sudahlah. Karena pada dasarnya aku harus mengalah. Mengalah pada rindu akan keberadaanmu. Tapi itu hanya sebuah stigma belaka. Kali ini aku benar- benar beranjak dari tempatku duduk. Meninggalkan piring kosong dan sisa- sisa tulang ayam. Gelas coke-ku sudah kosong. Dan aku berangkat.


Sesaat aku menengok jam digital di cashier tadi. Pas.


18:18


***

Pukul 18:18

Di saat yang sama ...


Dear kamu,

Aku tahu. Kali ini aku menang lagi. Tak bisa kau pungkiri lagi. Karena aku selali kebih beruntung dari kamu. Angka ini mewakili perhelatan kita. Kamu kalah. Aku menang.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Wednesday, 2 May 2012

Dear Someone,

Sesaat,
setelah semuanya terkumpul.
Pada sebuah ujung penampungan.
Dan kala tidak dapat lagi menebak,
semuanya sungguh. Tidak terobati. Tidak juga 
merasa perlu dipungkiri.

Aku merasa
merasakan betapa nikmatnya semua itu. Sesaat.
Mengalir dalam aliran darah. Membeku dalam setiap sudut nadi.
Semuanya natural dan apa adanya.
(05.03.12 11.54)



Untuk kali yang kesekian kalinya. Semuanya berjalan dengan lancar dan biasa saja. Sepertinya ini semua bersahaja, karena tidak ada skenario pengatur segala rupa. Untuk itu aku bersyukur bahwa semuanya masih biasa saja. Sudahlah, tidak usah dipikirkan dengan kening penuh kerut. Apakah dia tahu atau tidak. Yang jelas hanya satu hal saja kok. Bahwa kamu memangdanginya, dalam dan penuh harap. Penuh harapan akan kesadaran bahwa dia tahu kalau kamu memandanginya dengan penuh harap, tidak selayaknya saat kamu memandang orang lain, termasuk yang sekarang ini ada di sampingmu.

Baiklah, tidak usah munafik. Akui sajalah, bahwa sebenarnya kamu merasa dia memiliki sesuatu yang kamu inginkan. Well, simply saying, mungkin dialah yang selama ini kamu cari. Dia lumayan di mata kamu. Yang jelas, dia juga memberikanmu efek dag dig dug yang lebih berasa ketimbang ketemu dengan orang lain, yang mungkin untuk merangsang detak jantungmu saja itu mustahil. Fine, kita analisa sajalah coba. Dia punya mata yang indah. Mata yang sedikit sendu yang setiap kali kamu menatapnya membutakan pandanganmu. Apalagi. Sebut saja. Bibirnya. Oh My Goodness. Dia sempurna. Dan semuanya semakin membuatmu jadi tambah berada di atas awan. 

Normal sih bagi setiap orang untuk mengaguminya. Tapi, yakin kalau kamu benar- benar sudah menuju satu destinasi yang kamu berkeyakinan penuh bahwa dia adalah yang terbaik. Apa? Kamu mengangguk, dan itu artinya ya. Baiklah, aku akui seleramu high class deh sekarang. Tapi bisa tidak coba kamu sedikit berpikir sebentar, tapi agak lama juga boleh, karena biasanya orang yang berbicara soal asmara, dijamin, dua jam tiga jam tidak hanya cukup untuk saling berbagi. Semua arah dan sudut dia cari, usahakan selenyap mungkin.  Tapi yakin kamu mau bercerita? Yakin? Oh  come on! Jangan cuma mengangguk saja. Ceritakan semuanya. Mmmm.. sebentar, aku siapin yang diperlukan. Telinga? OK. Makanan? Ah itu mah tidak penting. Yang lebih essential kan cerita kamu iya bukan? Apa?? Aku banyak bicara? Well fine, let it goes ...

***

Aku berusaha memilikimu. Setiap kamu bernafas, itu artinya aku berada. Aku berada pada satu titik beku, di mana aku menjadi beku saat matamu menatap mataku. Tidak ada dusta. Aku akui aku ini bodoh. Kenapa aku bisa selemah ini, Tapi inikan manusiawi. Artinya bahwa sah- sah saja bagiku untuk  bisa menjadi salah satu makhluk terbodoh karena mengagumimu dengan berlebih.

Tapi lihatlah!
Betapa lemahnya aku saat kau melayangkan jurus saktimu. Melumpuhkan setiap sendiku. Mengikatku pada sebuah buaian lemah bahwa aku adalah manusia tak bernyawa saat kau menatapku seperti itu. Sungguh, aku mati rasa saat itu. 

Sering, dan sering. Ku curi- curi pandang untuk mencari tatapanmu. Sendu. Dalam. Dan tenang. Itu yang aku mau. Aku mau itu. Aku mau memintanya darimu. Memintanya tanpa ampun agar kau lelah untuk berkata tidak, dan memberikannya kepadaku. Ingat, hanya untukku. Jangan kau siksa aku lagi dengan tatapanmu yang aku sendiri tak dapat menghindarinya. Aku merasa addicted dengan tatapanmu.

Oh, inilah kelemahanku. Melihatmu dari sudut pandangku saja. Melihat hanya dari satu perspektif yang memabukkan. Menjelajah dala gelap untuk menemukan terang. Tapi oh, aku tak sanggup menemukan setitik cahaya pencerah yang mampu mengangkatku dari keterpurukan ini. Ataukah aku harus membiarkan diriku sendiri jatuh, jatuh lebih dalam dan dalam sehingga aku tak bisa bangkit hanya karena tatapanmu. Well, fine if I  deserve to get that why I should wait for a couple days or weeks?

Dear someone,
Sadari bahwa kamu adalah aku. Dan biarkan aku menjadi kamu. 

Bukankah ini indah, aku tak bisa menghindar dari candumu. Semuanya natural dan aku tak bisa menghindar. Kamu lihat tidak betapa aku tak berdaya saat itu. Sungguh. Bagiku kamu adalah canduku. Tapi biarlah, toh aku menikmatinta.

Pada akhirnya aku bersyukur, bahwa kamu dan aku akhirnya bisa bersama, walau hanya dalam sebuah persahajaan jamuan yang aku sendiri sudah memimpikan. Sadarkah kamu, bahwa aku menikmati setiap detik kebersamaan itu. Saat kamu berjalan. Saat kamu berbicara. Saat kamu hanya memandangi hand phone kamu. Saat kamu hanya tertarik untuk berbicara saat ada topik yang memang kamu ingin menimpalinya. Dan kamu tidak menyadarinya. 

Aku memilih untuk diam saat kamu berada 3 meter di depanku. Hanya terpaut lima langkah kaki ke depan, Tapi aku memilih mematung dan melihat wajahmu dari pantulan cermin di sampingku yang merefleksikan wajahmu. Tidak ada satu atau hanya dua, ribuan yang jelas saat aku terbisu tak bisa mendeskripsikan semua itu.  

Walau kamu ada, dan aku melihatmu, itu hanya sebatas sebuah pengharapan tak berujung. 

Bukannya aku egois, tapi izinkanlah aku menilai semuanya. Ini sungguh berbeda. Ini sebuah pengakuan. Tidak ada yang salah dari pengakuanku atas semua yang aku lihat. Tapi, ini sebuah kepura-puraan sahaja. Aku sadar. 

Biarkan semuanya semata- mata mengalir apa adanya. Tidak ada yang perlu merisaukan itu. Karena aku berkata di saat yang sama aku mengerti bahwa kamu cukup untuk tidak tahu. Izinkan aku yang mengerti keberadaan kesempurnaanmu di saat aku merasa biasa terbunuh atas tatatapanmu. Dan aku menikmati pembunuhanmu atas diriku ...

***

Ah, kamu jahat sekali. Sesaat aku bersemangat untuk membiarkanmu meneruskan ceritamu. Membaginya bersama, sehingga aku mempunyai alasan yang lebih kuat untuk meyakinkanmu bahwa kamu itu benar, dan kamu harus bisa ...

Ayo lah...
Lanjutkanlah...
Aku menunggu ...

***

Aku memohon kamu untuk tidak menunggu. Karena aku hanya berada pada sebuah batas. Batas yang aku sendiri yang menciptakannya. Batas yang sebermula aku melangkah, aku mengetahui di mana langkahku harus berhenti. Jadi aku tidak menyesal menghempaskan semuanya, keinginanku untuk memilikinya seutuhnya, tidak hanya tatapannnya tapi juga seutuhnya dirinya. Aku hanya merasa aku bukanlah mesin komputer, yang menyimpan semua berkasnya dengan placement dan location yang sempurna, hanya saja, aku mencoba berbagi. Karena berbagilah yang aku bisa ...

***

kala burung berkicau
mentari pagi akan datang lagi
menghangatkan hati yang sedang
dimabuk asmara
yang dilanda lara ...

di manakah 
akan kucari pengganti dirimu
entah di mana ...
oh di mana ... di mana...
di mana lagi...
 harus ku cari...

mengapakah...
diri ini harus tersiksa lagi.
entah mengapa
oh mengapa 
oh mengapa 
tersiksa lagi

(Wilson ft Tohpati - Tersiksa Lagi)



Wednesday, 25 April 2012

Sunset Catcher


I start this writing with the open minded on what the nature shares its knowledge in beauty. I consciously understand how it is and the beauty which is transferred directly onto the viewer every second we may take. Well, it's hard to understand without saying what I am gonna straight to.

As my friend told me, several months ago, or if I am not mistaken, it was about last year. She said that I am a freaky traveler. For some reason, I would say a big YES as I can. She said like that after she gotta see what I wrote on the previous postings on my blog. I put some photographs on my way home. And I called it as my little travelling.

I love the way I enjoy I am enjoying my way. This seems that I own the way, and I am the only man who dares to push the dangerous and take the risk. I said it is true. And that is me. Since I am enjoying my way there is no more big worries for me to be independent. I am just felling when I do enjoy the way I have, I pursue my self that there is none even would spoils my way, I am just feeling I am the only one owning the way, so it's gonna shit man when you see me talking loudly, and sometimes I scream, and singing more on my way during I am taking the time on way home. It's gonna be rock man!! \m/

Over all, I love the time when the sun goes down. Sunset is more than just an oasis in the desert. No more big compromise to handle it. I am pursuing my self trusting this. After having a time on my googling time I found a big saying about sunset, as I put as the only one I concern about, and everyone knows that it has to be a good time to feel the time when it goes down after a day breezing us with its glory. It is said that,

"Peace... is seeing a sunset, and knowing who to thank. "
Unknown 

Believe it or not, I feel a big speechless when I am facing that moment.  Sunset is just a sunset, but it is a peace. Feeling and realizing, sometimes it also guides us to feel and see what we have done along that day. So far, personally, sunset sets me onto the unpredictable moment to see how bitchy I am seeing that day, and I know how I should appreciate the way God creates the exciting time. It is one of capturing time on my sunset, and everyone has to say it. That sunset belongs to each you. Feel that, and see that, how dirty you are, and you will see to whom you gotta say thank you :)




 

Saturday, 14 April 2012

When SINCERITY Names in Our Way

Beberapa malam yang lalu, kalau tidak salah ketika malam Kamis, saya dan adik serta ibu saya menonton sebuah acara di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia yang dipandu oleh Deddy Corbuzier. Bagi saya acara- acara talk show semacam ini sangatlah memberikan impact yang luar biasa bagi saya, bukan hanya sekedar ngobrol ngalur ngidul saja, tapi tekhnik bercerita tanpa dibuat-buat ini mengandung suatu kejujuran akan kisah yang dibagikan, dan saya sangat menggemarinya. 

Pada saat itu yang menjadi bintang tamu adalah seorang artis dan calon suaminya (pada saat itu, karena kabarnya resepsi pernikahannya akan digelar beberapa hari lagi) yaitu Soraya Larasati dan Doni Amaldi, serta satu lagi bintang tamu yang diajak ngobrol oleh magician yang kondang itu, Robin Lim.

Inilah yang membuat saya merasa tergugah untuk kemudian menuliskan sebuah postingan sederhana diblog pribadi saya. Yang membuat saya merasa kagum dengan orang yang satu itu adalah (lagi-lagi) warga asing merasa sangat peduli dengan kita, sementara kita (kebanyakan dan sering) kurang mempedulikan Indonesia, sebuah negara yang kaya akan penduduknya dan kaya akan kekayaan alam, tapi menurut saya, kita sangat miskin akan kepercayaan diri dan saling memahami satu sama lain (maaf). 

Mother Robin


Robin Lim adalah seorang warga Amerika yang saat ini menetap di Bali, Indonesia. Beliau adalah founder dari Yayasan Bumi Sehat (Healthy Mother Earth Foundation) yang sudah menangani banyak kasus mengenai kelahiran. Seorang sosok yang patut diberikan lebih dari sekedar penghargaan dari CNN.com di tahun 2011, karena pada perhelatan itu Ibu Robin atau Mother Robin memenangkan penghargaan CNN's Heroes of the Year yang membuatnya semakin dikenal dan semakin mengagumkan.

Sebuah pengorbanan dan kerja keras yang seharusnya Indonesia lebih bisa mencontohnya ketimbang harus merasa seolah-olah saya menang dan kamu salah dimata orang banyak yang hanya sekedar ingin mencari political image saja. Saya pribadi sangat menyayangkan ketika para anggota parlemen yang terhormat harus berselisih paham yang merujuk kepada sebuah intrik politik yang ditutup-tutupi sehingga memberikan kesan mendalam bagi rakyatnya yang membuat kita terbuai akan sikapnya yang seolah-olah membela rakyat padahal nonsense. Cukup!

Indonesia harus banyak belajar pada Ibu Robin, akan arti sebuah ketulusan (sincerity) kepada sesama terutama mereka yang masih sangat mebutuhkan uluran tangan kita. Seperti yang telah banyak diberitakan di media bahwa Ibu Robin tidak pernah meminta ongkos persalinan yang telah mereka lakukan. Dia adalah sosok yang sangat mengerti keadaan. Beliau tidak bergabung dengan komunitas elit sosialita tapi beliau bersama- sama membangun sebuah kepercayaan akan arti kebersamaan dan saling mengulurkan tangan untuk semua warga yang membutuhkan bantuan tanpa mengharap sebuah timbal balik berupa materi berlebih.

Ibu Robin  sangat merasa khawatir terhadapa tingginya kasus kematian ibu hamil dan bayinya yang baru saja dilahirkan di Indonesia. Banyak kasus kematian pendaharan yang terjadi pada ibu-ibu hamil yang kurang mendapat perawatan setelah proses kelahiran. Tindakannya juga merupakan sebuah protes sosial menurut saya, ketika proses persalinan di rumah sakit sudah dikomersilkan dan membuat banyak ibu-ibu harus berpikir dua kali ketika akan melahirkan. Tapi, salut bagi Kementerian Kesehatan yang saat ini telah memberikan asuransi kelahiran. 

Semua yang telah beliau lakukan adalah sebuah proses yang panjang, tapi bagi saya ini merupakan sebuah proses naluri alami bahwa manusia masih memiliki hati nurani yang bersih dan masih bisa mengasihi orang lain, sekalipun Anda bukan orang yang dekat dengan mereka. Bayangkan saja, Ibu Robin menjual rumahnya yang berada di Hawaii dan berpindah ke Indonesia. 

Sunggug sebuah kepedulian yang saat ini sudah jarang. Saya tidak bermaksud untuk menghujat siapa pun, tapi marilah kita bersama bergandengan tangan. Melebur bersama dalam kondisi yang saling memahami satu sama lain dan menunjukkan bahwa kita manusia yang beradab dan bertanggung jawab pada sosialita di sekitar kita. Lupakan semua urusan pribadi Anda dan sisihkan semua itu ketika Anda dipanggil oleh masyarakat untuk bantuan Anda. Karena kita adalah manusia sosial.

Terakhir, sebuha quotes dari Ibu Robin ketika menerima penghargaan dari CNN,

"Every baby's first breath on Earth could be one of peace and love. Every mother should be healthy and strong. Every birth could be safe and loving. But our world is not there yet," 

Salam Indonesia yang Hangat,


~Osy~

Tuesday, 10 April 2012

Cerita Perjalanan #2

Bagi saya bulan Maret seperti sebuah perjalanan wisata bagi saya, dan saya mencintainya :) Bagaimana tidak, di bulan ketiga itu saya berkesempatan untuk mengunjungi beberapa venue yang sangat menggoda untuk dikunjungi lagi. Saya sangat bersyukur ketika memasuki bulan April ini, bukan karena saya bisa berkata April Mop kepada teman- teman tapi saya berharap saya bisa mengunjungi beberapa tempat baru lagi yang belum saya singgahi sehingga cakrawala wisata saya menjadi luas :) 

Tempat- tempat itu adalah beberapa tempat di sekitar Magelang dan Temanggung, yakni:
  1. Posong, Kledung, Temanggung :  Sebuah destinasi lokal yang membawa saya untuk menikmati gunung lagi karena daerah ini tepat berada di lembah Gunung Sindoro, Anda pasti akan sangat menykainya karena akses jalan menuju sana cukup lumayan walau berupa jalanan tatanan batu yang lumayan rapi, mobil pun bisa sampai atas. Anda bisa menikmati sunrise di sana, jadi berangkatlah pagi-pagi habis subuh, ada gazebo juga di sana, dan kalau Anda beruntung bisa menikmati kopi dan gorengan panas di sana.
  2. Taman Kiai Langgeng : terakhir saya mengunjungi taman bermain ini ketika SD, jadi sekalian membuka kenangan dan mengerjakan tugas Tourism saya berandai- anda menjadi anak kecil yang diajak bermain ke taman ini. O ya, di bagian belakang cukup asri dan rindang, mengobati kangen pada gunung :)
  3. Puncak Telomoyo : adalah impian saya untuk bermalam di gunung, dan saya berhasil walau hanya di puncak Telomoyo. Bagi saya tak ada yang lebih indah selain menikmati malam di gunung, melihat lampu kota dan menikmati dinginnya :)
  4. Candi Borobudur, bermodal tugas Tourism lagi, akhirnya bisa menikmati candi dengan suasana yang lebih enak, pas di siang menuju sore, dijamin lebih nyaman apalagi pas agak mendung walau harus basah- basahan :(

Ini beberapa photo yang saya ambil semoga Anda tertarik untuk mengunjunginya :)
I LOVE INDONESIA
Sunrise di Kledung, Temanggung


Posong, Kledung, Temanggung

Sunrise di Posong

@ Posong

@ Taman Kiai Langgeng

Sunrise di Telomoyo (Tertutup Kabut)

@ Telomoyo

















          

Wednesday, 28 March 2012

Hidup dan Marketable

Saya menang orang yang senang melihat orang lain memperoleh kesuksesan, dan ini manusiawi. Saya juga adalah orang yang mudah kagum terhadap apa yang orang lain bisa lakukan dan sukses, kemudian diam- diam tanpa bercerita ke orang lain, saya mulai bercita- cita untuk bisa menjadi seperti mereka. Seperti sebuah bait lirik lagu dari Vierra yang berbunyi "Jadi apa yang kau inginkan'. Saya hanya ingin menjadi seperti yang kau dapatkan.

Saya sangat bersyukur, dan berterimakasih kepada Tuhan, karena saya memiliki teman- teman dan orang- orang di sekeliling saya yang penuh dengan talenta dan prestasi, hingga membuat saya ngiler sendiri melihat prestasi- prestasi mereka. Dan, sudah seperti biasa, saya mulai berencana untuk menjadi seperti mereka, dan ini wajar dan manusiawi.

Oh sudahlah, memang biasa sajakan, ketika kita ingin menjadi seperti orang lain. Tapi ada satuhal yang saya tetap getol dan keukeuh meyakini prinsip saya, bahwa saya tidak ingin menjadi teman saya yang pernah menjuarai ajang pemilihan model. Saya sangat yakin dan bersungguh- sungguh terhadap ini. Walau dengan kedok yang bermacam- macam saya tetap tidak setuju dengan adanya ajang pemilihan seperti itu.
Silahkan Anda menganggap saya berpikiran dangkal dan whatever itu. Saya salah? Okey, fine. Saya hanya mengajukan sebuah pembelaan terhadap saya saja. Kalau Anda merasa saya kacau dalam berpikir well tutup saja blog ini dan selesai!

Bagi saya, ajang- ajang semacam itu hanyalah sebuah pembenaran klasikal terhadap sebuah kesan sesaat. Bagi saya yang namanya kecantikan, kemolekan, dan keindahan tidak terbatas, dan bersifat subyektif. Kalau Anda menganggap itu adalah pola pemikiran yang obyektif bagaimana Anda bisa meracuni kita dengan pola pandang dan pola pikir Anda tentang estetika tersebut. Orang banyak yang menganggap bahwa sun set adalah sebuah moment yang indag dan perlu dirasakan bahkan diabadikan keindahannya. Tapi tidak sedikit juga yang menyangkal keindahan sun set. Ini hanyalah permainan pemikiran saja. Jadi, entah orang itu cantik atau indah di mata juri, bagi saya mereka adalah anugerah dan karunia dan menurut saya kita tidak sepantasnya mengedepankan sebuah pencercaan terhadap mereka yang tidak memiliki kualifikasi- kualifikasi untuk dianggap genic dalam berbagai hal sehingga mereka tidak dapat dikategorikan sebagai cantik dengan cara pandang yang kuno ini melalui ajang- ajang tersebut.

Kalau memang ajang- ajang itu mengedepankan otak alias brain sebagai motor utama untuk emnarik masa sehingga mereka berbondong- bondong mengikuti ajang tersebut, sangat disayangkan ketika orang itu sedang bodoh pada saat itu. Bagi saya, semoga saya banyak salahnya, otak adalah sebuah gulungan benang, yang satu saat mungkin berada pada satu fase ketika gulungan itu masih kecil, akan tetapi suatu saat gulungan itu akan berubah menjadi sebuah bola bahkan mungkin lebih besar dari bola ketika kita menambahkan benang di dalamnya. Well, dangkal mungkin bagi saya untuk berkata seperti ini, tapi at least saya hanya memberikan sebuah argumentasi dan cara pandang saya bahwasanya otak dan pemikiran orang bisa berubah- ubah dan sampai saat ini saya belum bisa menemukan sebuah pengukuran general akan kepintaran seseorang. 

Saya boleh saja tidak menyetujui hal- hal semacam itu karena saya mengimami bahawa kecantikan dan kepintaran tidak terpaut hanya dari kaca mata juri- juri tersebut. 

Tapi, kemudian saya belajar akan arti marketable. Dikatakan demikian bahwa kita harus memiliki daya jual atau setidaknya potensi untuk mampu dikategorikan sebagai manusia berpotensi untuk layak dipasarkan, sehingga kita memiliki daya saing yang tinggi untuk tetap bertahan hidup. Kalau kita tidak berdaya saing seperti yang diharapkan oleh hidup, silahkan Anda lepas sandal Anda dan hengkang dari peradaban dan itu artinya Anda selesai.

Sayangnya kebanyakan orang mengedepankan citraan luar untuk menganggap bahwa orang itu marketable atau tidak. Physically, kalau Anda genic dari segala sudut dan kesan pertama ketika dilihat orang Anda cantik atau tampan, selamat Anda adalah yang mereka cari. Pahamilah, bahwa daya saing dalam hidup tidak hanya diukur dari segi wajah Anda, dari postur tubuh Anda; apakah Anda gitar Spanyol atau Kendang Jawa? Bukan hanya itu. Saya adalah penyiar radio, dan saya tidak bekerja dengan wajah saya. Silahkan Anda mencerca wajah saya, tapi sekali lagi sebagai orang yang bekerja tanpa visualisasi saya merasa saya menang akan pembelaan saya, karena penyiar radio tidak dibutuhkan wajah yang aduhai melainkan bagaimana dia mengolah suara dan memainkan emosi pendengar. Jadi, silahkan lempari saya dengan telor dan tepung, tapi saya akan melempari Anda dengan cara saya sendiri melalui siaran saya.

Jadi, buat saya marketable atau tidak seseorang bukanlah sebuah refleksi penampilan fisik semata. Saya yakin, Anda- Anda yang mampir ke blog saya dan membacanya adalah orang yang berpemikiran lebih terbuka, yang berpendapat tidak hanya kecantikan dan gelar semata yang mengukur derajat kita. Tapi saya yakin ukuran itu akan terbantahkan dengan sebagaiman besar Anda memperjuangkan hidup Anda, dan menghidupi hidup Anda. I LIVE MY LIFE


Salam
~Osy~