Ketika angin berhembus, sebenarnya segalanya
telah ada peraturannya.
Semuanya telah berawal dan akan menuju ke sebuah akhir.
Di mana awal berawal, di situ akhir bermulai.
Awal dan Akhir hanyalah sebuah intuisi, ketika semuanya berasa,
Di situlah itu adanya.
[080911 13.08]
Saya mempercayai yang namanya sebuah pertanda. Sebuah petunjuk untuk memulai segala sesuatu. Sebuah petunjuk yang nantinya juga akan membawa kita kepada suatu kisah yang akan kita selesaikan, atau dengan bahasa yang mudah, Pertanda akan membawamu dan menunjukkan kepadamu kejadian apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Entah ini sebuah kebodohan atau sebuah kelebihan, tapi saya meyakini bahwa suatu kejadian yang kita alami ternyata memiliki koneksi dengan kejadian lain yang kita alami, tanpa kita sadari secara naluri.
Semuanya itu seperti sebuah Firasat, sebuah petunjuk, sebuah intuisi yang kemudian pada selanjutnya akan membimbing kita untuk melangkah selanjutnya. Sebenarnya semua orang memiliki pertanda itu dan juga firasat itu. Sederhana saja, ketika kita dihadapkan pada suatu kondisi, secara langsung otak kita akan merespon segala sesuatunya dengan sangat mendalam dan luar biasa. Misalnya saja, ada seseorang yang baru saja menemukan dompet di jalan, secara cepat otaknya akan bereaksi. Otak akan memproses kejadian yang ada di depannya dengan segala pertimbangan dan kemungkinan selanjutnya. Inilah yang saya sebut sebagai Firasat dan Pertanda sebagai hasil dari proses berpikir. Jika orang itu mengambil dompet tersebut, tentunya banyak kemungkinan kejadian yang akan dia alami. Otaklah yang pertama menyajikan kemungkinan- kemungkinan tersebut. Jadi bukanlah hal yang tidak mungkin jika sebenarnya semua orang mampu mengoptimalkan otaknya untuk kemudian menemukan sebuah jembatan penghubung antar kejadian yang dia alami.
Hubungan kausalitas mungkin juga ada kaitannya dengan pembahasan ini. Ketika ada sebab disitulah akibat akan bermassa. Semuanya sepertinya singkat. Tapi saya yakin, ada sebuah linking yang menarik suatu kejadian ke kejadian berikutnya.
Walaupun nampaknya hal ini mustahil, tapi sepertinya segalanya telah ada. Bukan tak heran ketika kita merasa ada de javu yang kita alami terhadao sebuah vision yang akan kita alami pada kemudian hari, ini seolah-olah menunjukkan bahwa sebenarnya ketika kita memulai suatu kejadian, kita sebenarnya menarik kejadian lain yang akan kita alami, atau secara tak langsung ketika kita memulai sesuatu, kita sedang membuka lembaran selanjutnya pada buku tulis yang masih kosong untuk kita tulis.
Apakah kemudian ini hanyalah sebuah kebetulan semata? Saya rasa tidak, mungkin inilah sebuah intuisi. Dari Wikipedia saya kutipkan intuisi pada pengertian ranah pengetahuan,
Seperti yang dikatakan di atas, bahwa intuisi terjadi tanpa adanya inference dugaan dan hanya berlangsung pada waktu yang tepat. Tepat di sini maksudnya adalah saat-saat dimana ketika kejadian yang kita alami benar-benar memiliki pengaruh terhadap kejadian yang lain. Memang semua kejadian memiliki pengaruh terhadap kejadian yang lain, akan tetapi intuisi akan muncul ketika kejadian yang kita alami pengaruhnya akan sangat hebat terhadap kejadian selanjutnya. Juga, intuisi muncul karena adanya sebuah contemplation atau sebuah rasio pikiran yang sangat mendalam terhadap segala sesuatu, dan rasanya itu memang benar. Jika kita berpikir secara serius, link terhadap kejadian selanjutnya akan mudah terlihat visionnya. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kita akan mengoptimalkan pikrian kita tersebut?


