Semuanya telah ada yang mengatur di alam ini, layaknya sebuah sandiwara yang dimainkan oleh para pemainnya. Akan arti keadaan bersama, yang saling membutuhkan segalanya dan saling mempercayai akan arti kenyamanan, itu pun juga sudah ada yang mengaturnya. Semuanya -segala ketidaknyamanan ini, berawal ketika manusia merasa dirinya inferior dibanding segala yang ada termasuk sesamanya. Inilah penggalan cerita yang akan saya bagi.
Dua hari yang lalu aku merasa bahwa semua ini berawal dari satu titik yang kita sendiri tidak tahu dari mana titik ini berawal, tapi aku sangat meyakini akan kehadiran titik awal yang merajut semua ini kedalam satu pusaran aktivitas yang menuntut segalanya berbeda dan berbeda. Ketika aku menyadarinya, seperti sebuah de Javu aku seperti terbawa masuk ke dalam pusaran itu. Bahwa hidup ini telah sebegitu hebat dan jelasnya, mengartikan keseimbangan (balancia) ke dalam ranah kehidupan manusia. Sadari atau tidak kita dipaksa menerimanya sadar atau diluar kesadaran kita. Semuanya telah sebegitu jelas dipampangkan dihadapan kita. Tangan kita dua, kiri dan kanan. Mata kita juga. Semuanya ada alur yang mengaturnya. Ada atas, ada bawah. Ada tinggi ada rendah. Inilah pemahaman awal bagi kita tentang keseimbangan secara sederhana.
Lalu apa fisolofinya?
Di dalam waktu itu -ketika kesadaraan saya akan pemahan keseimbangan mencuat, saya sangat meyakini bahwa inilah alur kehidupan, seperti layaknya sebuah kopi yang memang nampak sangat buruk jika dilihat sekilas, karena hanya pekat tapi dalam pekat yang mencekat itu terdapat buliran cita rasa manis dan sesuatu yang membuat kita berhenti sekejap untuk memikirkan apa rasa itu.
Layaknya sebuah kehidupan, dalam pemahaman keseimbangan bahwa dalam pekat kopi terdapat suatu rasa yang menggantikan keadaan pekat itu ke dalam suatu fenomena lahiriah akan makna kepahitan itu.
Kembali lagi kita dihadapkan kepada dua inersia keseimbangan, Pekat dan Manis. Sepertinya memang pemahaman ini sudah ada dalam segala ranah kehidupan kita, tinggal bagaimana kita memolesnya dan bagaimana kita mengambil sudut persepsi akan pemahaman tersebut.
Suatu ketika saya menghadiri sebuah upacara, momen ketika semua kebisingan tergantikan dengan kesunyian dan kekhidmatan para pesertanya dalam memahami arti sebuah perjuangan dan momen heroisme, saya sangat takjub. Suatu ketika itu, sang Pencerah dalam upacara itu -menyebut demikian untuk merepresentasikan seseorang yang memberikan wejangan dalam forum itu, menyajikan sebuah kopi lewat bulir kata- katanya. Akan arti dua sisi pemahaman hidup, yang kemudian saya adopi kedalam pemahan keseimbangan.
Dia mengatakan tentang pentingnya posisi kita dalam setiap pemahaman masalah. Satu kalimat yang memang sangat saya imani benar adalah penempatan posisi kita dalam menyikapi masalah, tempatkan diri kita pada satu posisi yang kita bisa melihat segalanya dari berbagai sisi. Dalam pemahaman konsep ini, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang bisa melihat segalanya seperti dua jalur yang membagi suatu wilayah ke dalam dua bidang yang pada akhirnya menyatukan dua bidang itu menjadi satu.
Dan ini benar adanya. Sesuatu akan terlihat sangat sempurna jika kita melihatnya dari satu perspektif saja. Akan sangat disayangkan jika kita tidak bisa melihatnya dari satu sisi lain yang mungkin kita bisa lihat. Ada kalanya yang bagus tampak bagus dari satu sudut saja. Tanpa bisa menganalisa dari sudut lain yang bisa menyadarkan akan arti sudut pandang.
Masalah adalah masalah. Masalah akan terselesaikan jika pemahaman akan hal itu kita posisikan seperti dua mata uang. Gambar dan Angka.
Terimakasih.