Thursday, 27 October 2011

Dua Sisi :: Pembelajaran Akan Arti Keseimbangan

Semuanya telah ada yang mengatur di alam ini, layaknya sebuah sandiwara yang dimainkan oleh para pemainnya. Akan arti keadaan bersama, yang saling membutuhkan segalanya dan saling mempercayai akan arti kenyamanan, itu pun juga sudah ada yang mengaturnya. Semuanya -segala ketidaknyamanan ini, berawal ketika manusia merasa dirinya inferior dibanding segala yang ada termasuk sesamanya. Inilah penggalan cerita yang akan saya bagi.

Dua hari yang lalu aku merasa bahwa semua ini berawal dari satu titik yang kita sendiri tidak tahu dari mana titik ini berawal, tapi aku sangat meyakini akan kehadiran titik awal yang merajut semua ini kedalam satu pusaran aktivitas yang menuntut segalanya berbeda dan berbeda. Ketika aku menyadarinya, seperti sebuah de Javu aku seperti terbawa masuk ke dalam pusaran itu. Bahwa hidup ini telah sebegitu hebat dan jelasnya, mengartikan keseimbangan (balancia) ke dalam ranah kehidupan manusia. Sadari atau tidak kita dipaksa menerimanya sadar atau diluar kesadaran kita. Semuanya telah sebegitu jelas dipampangkan dihadapan kita. Tangan kita dua, kiri dan kanan. Mata kita juga. Semuanya ada alur yang mengaturnya. Ada atas, ada bawah. Ada tinggi ada rendah. Inilah pemahaman awal bagi kita tentang keseimbangan secara sederhana.

Lalu apa fisolofinya?
Di dalam waktu itu -ketika kesadaraan saya akan pemahan keseimbangan mencuat, saya sangat meyakini bahwa inilah alur kehidupan, seperti layaknya sebuah kopi yang memang nampak sangat buruk jika dilihat sekilas, karena hanya pekat tapi dalam pekat yang mencekat itu terdapat buliran cita rasa manis dan sesuatu yang membuat kita berhenti sekejap untuk memikirkan apa rasa itu.
Layaknya sebuah kehidupan, dalam pemahaman keseimbangan bahwa dalam pekat kopi terdapat suatu rasa yang menggantikan keadaan pekat itu ke dalam suatu fenomena lahiriah akan makna kepahitan itu. 

Kembali lagi kita dihadapkan kepada dua inersia keseimbangan, Pekat dan Manis. Sepertinya memang pemahaman ini sudah ada dalam segala ranah kehidupan kita, tinggal bagaimana kita memolesnya dan bagaimana kita mengambil sudut persepsi akan pemahaman tersebut.

Suatu ketika saya menghadiri sebuah upacara, momen ketika semua kebisingan tergantikan dengan kesunyian dan kekhidmatan para pesertanya dalam memahami arti sebuah perjuangan dan momen heroisme, saya sangat takjub. Suatu ketika itu, sang Pencerah dalam upacara itu -menyebut demikian untuk merepresentasikan seseorang yang memberikan wejangan dalam forum itu, menyajikan sebuah kopi lewat bulir kata- katanya. Akan arti dua sisi pemahaman hidup, yang kemudian saya adopi kedalam pemahan keseimbangan. 

Dia mengatakan tentang pentingnya posisi kita dalam setiap pemahaman masalah. Satu kalimat yang memang sangat saya imani benar adalah penempatan posisi kita dalam menyikapi masalah, tempatkan diri kita pada satu posisi yang kita bisa melihat segalanya dari berbagai sisi. Dalam pemahaman konsep ini, kita dituntut untuk menjadi sesuatu yang bisa melihat segalanya seperti dua jalur yang membagi suatu wilayah ke dalam dua bidang yang pada akhirnya menyatukan dua bidang itu menjadi satu.

Dan ini benar adanya. Sesuatu akan terlihat sangat sempurna jika kita melihatnya dari satu perspektif saja. Akan sangat disayangkan jika kita tidak bisa melihatnya dari satu sisi lain yang mungkin kita bisa lihat. Ada kalanya yang bagus tampak bagus dari satu sudut saja. Tanpa bisa menganalisa dari sudut lain yang bisa menyadarkan akan arti sudut pandang. 
Masalah adalah masalah. Masalah akan terselesaikan jika pemahaman akan hal itu kita posisikan seperti dua mata uang. Gambar dan Angka.

Terimakasih.

Sunday, 2 October 2011

DIAM

Layaknya sudah seperti biasa, dia datang di saat yang sungguh aku tak ingin memalingkan wajahku pada layar monitor laptopku karena tugas yang memang menuntutku harus lebih kreatif dan dipaksa untuk sedikit nampak intelligent. Sangat heran. Dia kemudia duduk di sebelahku. Dan aku masih saja asyik dengan segala yang ditampilkan oleh layar itu. Satu dua paragraf mulai selesai aku ketik. Lagi, lagi aku membenci situasi ini. Aku bukanlah tipikal orang yang benar-benar mampu memaksakan semua yang ada di pikiranku dengan mudahnya, aku benci fakta ini.
Dan dia masih berada di sebelahku. Entah apa yang sedang dia kerjakan, sepertinya tidak menarik perhatianku akan hal itu.
Aku kembali meneruskan kegiatanku untuk mengetik makalah ini, sebuah makalah yang aku coba gali buat dengan segala daya upaya yang aku bisa. Sebuah ide yang aku tuangkan adalah mengenai perubahan status sosial dalam masyarakat dalam kaitannya dengan penggunaan ragam bahasa dalam kesehariannya dan juga gaya hidupnya. Mungkin bukan sesuatu yang cemerlang, tapi sungguh demi semuanya konsep ini adalah konsep terbaik yang aku punya. Dasar otak pas-pasan mungkin.
Yah, daripada mulai manyun dengan kondisi ini, lebih baik aku mulai cari lagu yang bisa sedikit mengompres pikiranku yang dari tadi masih sibuk dengan segaka teori dan perencanaan metode penelitian. Ini mungkin yang dinamakan kuliah. Berangkat gak berangkat yang jelas otak sama kurus keringnya. Kebanyakan berkutat dengan hal-hal yang mungkin belum sepantasnya dimuali bagiku.
Dia mulai menggeser tempat duduknya, mencoba lebih mendekat kepadaku. Mendeklarasikan keberadaannya mungkin, yang ya mungkin belum terlalu 'istimewa' buatku. 
 Sungguh, saat ini tidak ada yang lebih istimewa selain menyelesaikan makalah ini secepatnya, sebelum Dosen yang benar-benar cantik luar dalam itu pergi ke Amerika. Akupun menjadi semakin yakin, kalau kamu mau menjadi dosen minimal kamu harus sibuk dan harus banyak deadline dan harus sering pergi ke luar kota, malah boleh kalau ke luar negeri.
Hanya bunyi tuts keypad dari laptopku serta lagu yang kuputar dari winamp. Saat ini, lagu dari Chris Daughtry yang I'm going home mengalun dari speaker laptoku. Sungguh, paduan yang luar biasa. Kata orang inilah fatamorgana, ketika kau dihadapkan pada sesuatu yang unreal  tapi seolah-olah berasa real. Aku sudah ingin pulang, tapi tugas ini berkata tidak. Oh...
Pukul 15.55
Biasanya aku jam segini di hari Jum'at sudah berada di rumah. Apalagi minggu-minggu belakangan ini, rumah sepertinya menjadi pelampiasan paling mujarab. Pertama, aku sudah jenuh dengan kuliah ini, walau baru semester tiga saja sudah seperti, apa jadinya nanti kalau sudah mau lulus, bisa-bisa cepat tua aku. Tapi, apa mau dikata lagi, Ayah sudah bersikeras kalau aku harus lulus empat tahun saja. Ayah sudah berencana akan segera mengakhiri masa pensiunnya dan segera ingin menikmati masa pensiunnya di Denpasar. Dan, sekali lagi aku benci ini. Aku sudah mulai tertarik dengan Magelang ini. Dengan segala keterbatasan dan kelebihannya bagiku sudah cukup. Ohhh...
Dia bangkit dari duduknya, dan aku tidak peduli. Dia berdiri sebentar, seolah-olah memohon perhatianku, tapi bagiku sepertinya sama saja. Sudahlah, kalau mau pergi-pergi, kalau masih mau di sini, ya sudah duduk saja. Cukup. Diam. Aku sibuk.
Dua halaman baru aku selesaikan. Lagu sudah kembali berputar dan kali ini ada lagu dari Glee Cast yang mericycle lagu dari The All American Reject yang Gives You Hell. Aku tertawa dalam hati, walau dia sudah tidak ada di sebelahku, tapi rasanya ini laguku hari ini. Aku berikan dia 'neraka' hari ini karena aku tidak membuka mulut sedikitpun. Bahkan untuk menengoknya saja aku sorry.
Perasaan aku mulai mengetik jam satu tadi, kenapa sekarang yang hampir jam setengah lima sore baru terselesaikan dua halaman saja. Aduh, ini kenapa pikiranku sedang manja sekali sih. Harusnya aku bisa lebih maksimal dari ini. Harusnya aku mulai masuk ke bab dua, tapi kenapa ini masih di bab pertama. Oh, ayolah otak!! Aku mulai frustasi. Kenapa juga masih sama? Ayolah bertambahlah halamanku. Please! Apa ini jangan-jangan karena ada dia, dan aku merasa terganggu, ah! Apalagi ini, kenapa dia lagi- dia lagi. Apa sih maunya dia. Kalau dia berani kembali awas ya!
Sudahlah! Aku mau mulai konsentrasi lagi dengan pekerjaanku. Mari segela selesaikan dan langsung pulang. Aku tidak mau lagi naik becak dari jalan depan sampai depan rumah. Bukan karena tidak terlalu baik dengan Pak Tukang Becak, tapi ini musim hujan, dan aku tidak mau basah lagi. 
Sepintas, ku lihat di atas. Masih cerah. Semoga seperti itu sampai nanti.
Mulai masuk halaman tiga, ah lega, bertambah juga. 
Seperti yang sudah aku duga, ini pasti karena dia. Benar!
Lihat saja, aku sudah sampai halaman tiga. Bukankah ini sebuah pencapaian yang luar biasa?
Kemudian semuanya berubah. Beberapa anak keluar dari kelas mereka. Karena kuliah mereka sudah berakhir. Dan ini buruk. Sulit berpikir. Menyiksa.
Memang tidak menyenangkan bekerja di depan Gedung C. Biasanya tempat itu paling sepi, tapi hanya sampai jam empat saja. Selebihnya? Akan seperti pasar malam dengan komedi putarnya.
Tiba-tiba dia datang.
Dia tidak sendiri. Dengan dua botol air mineral di tangannya.
Dan aku masih cuek saja.
Peduli apa coba? Memangnya dia pikir aku onta apa. Sampai dibawakan dua botol air mineral. Harga diriku dilecehkan dengan sangat tragis! Semakin membuat aku yakin dia memang berniat jahat! Tak peduli dengan lagunya Joss Stone yang berduet dengan Jason Mraz yang Love, Love, Love. Memangnya ini cinta?
Aku tak peduli. Aku tetap mengetik. Dia duduk di sebelahku. Lagi. Dia membuka tasnya, sepertinya. Karena ku dengar bunyi kasak kusuk dari tasnya. Lalu dengan segera dia memasukkan satu botol tadi ke tasnya, dan mengganti tempat air mineral tadi dengan secarik kertas. Lalu dia bangkit. 
Ih, apa maksudnya coba. Dia pikir aku bisu apa. Ihhh... makin geram saja. Makin panas. Dia pikir aku gak bisa beli minum apa? Tidak manusiawi sekali. Besok liat ya. Aku bawakan dia satu bahkan lima kalau mau, galon aja kalau begitu. Ya, LIMA GALON AIR MINERAL.
Apa sih maunya dia. Sok baik. Sok peduli, sok manja, sok minta diperhatikan, dan dia memang SOK..SOK..SOk..
Apasih dia itu!! Panas aja...
dan segalanya berubah.
Tiba-tiba angin kencang,
semuanya terbang, daun, plastik, kertas, ya.. kertas yang tadi dia sisipkan itu..
dan di atas, semakin gelap saja.
Pertanda buruk ini. Aku bangkit dan merapikan segalanya. Dalam benakku hanya satu, semoga tidak ada yang tertinggal, karena aku tidak mau naik becak lagi. Dia pasti senang melihatku basah kuyup. Dia pasti sedang tertawa membayangkan aku yang masih di sini. Sementara hujan sepertinya segera datang. Dan aku panik. Panik sekali.
Kulirik sebentar botol itu. Dan aku lalu pergi.
ketika angin membawanya pergi, tertulis dalam kertas itu...
Sebentar lagi hujan, cepat pulang!
 02.10.11
21.17