Siapa yang akan menyangka kalau terkadang kita yang hanyalah orang yang biasa saja, mampu menangani dan menghandle berbagai macam pekerjaan yang bahkan kita sendiri belum pernah menjamahnya sama sekali. Bukan tidak menimbulkan kontroversi tapi jelas, ini akan membuahkan sebuah euforia bersama dan serentak karena banyak pihak orang dan lembaga yang akan dengan mudah menyalahkan kita pada posisi tersebut. Wajar bagi mereka untuk sekali berucap bahwa kita salah dan mereka yang benar, dan itu benar. Kita boleh pada anggapan bahwa kitalah orang atau pihak yang salah karena kita akan menjalan sebuah misi kedepannya yang kita sendiri tidak tahu apa- apa! Selukbeluknya mungkin kita tahu, tapi pengalaman? Bidang yang kita miliki? Apakah semuanya sudah suit pada posisi itu? Tentunya jika latar belakang kita bukan pada lahan yang akan kita ambil akan sangat sulit menjalankannya. Tapi, apa yang terjadi pada Dahlan Iskan? Beliau bukanlah orang yang ahli dalam bidang kelistrikan seperti yang saya kutip kalimatnya pada salah satu tulisan di buku INDONESIA: Habis Gelap, Terbitlah Terang. Beliau bukan orang yang mungkin "mumpuni" dalam menangi listrik dan setrum menyetrum. Latar belakang karier terakhir beliau sebagai orang yang mumpuni dalam bidang media, beliau adalah CEO dari Jawa Pos Group yang sangat melegenda itu. Tapi bayangkan saja, tiba- tiba beliau kemudian harus berurusan dengan hal yang berkaitan dengan listrik, bukankah ini sangat berbeda dengan lahan yang sebelumnya beliau arungi bersama teman- temannya di Jawa Pos Group? Sangat berbeda!
Tapi inilah yang ingin dikatakan oleh Dahlan Iskan melalui posisinya saat ini. Orang boleh meremahkan beliau lewat latar belakang karier yang pernah beliau geluti, boleh saja orang mengatakan bahwa beliau bukanlah orang tepat untuk memimpin perusahan negara yang memiliki porsi terbesar kedua di Indonesia dilihat dari pengalaman beliau dalam memimpin media, singkatnya boleh saja orang berargumen he is not the right man on the right place!
Tapi Dahlan Iskan berkata lain. Dalam buku terbitan mizan itu saya menangkap sisi lain dari Dahlan Iskan. Meski bukan Dahlan Iskan sendiri yang menulis tapi saya berasumsi bahwa Dahlan Iskan adalah orang yang berkomitmen tinggi terhadap posisi yang telah diberikan oleh orang lain. Meskipun banyak orang akan mencaci, bahkan mendemonya saat pelantikan jabatan sebagai CEO PLN. Dari buku ini saya belajar menerima kenyataan banyak hal yang sering orang alami dalam hidup yang serba indah dan lelah ini.
Dahlan Iskan boleh saja bukanlah orang yang tepat, tapi beliau membuktikan bahwa dia juga 'mampu' memenuhi target yang telah ditawarkan kepadanya dan juga segala rupa tanggung jawab yang melekat pada dirinya. Inilah sisi positif yang ingin ditunjukkan oleh Dahlan Iskan. Saya sangat menyetujui hal ini. Orang akan sangat dangkal berpendapat saat ini jika kamu tidak memiliki gelar atau pangkat atau apalah yang dapat mendukung kinerja kamu dalam bidang yang kamu ambil, kamu bukanlah orang yang 'profesional' yang mumpuni untuk mengerjakan tanggung jawab itu. Tapi itu semua salah dimata Dahlan Iskan. Walau kamu tidak berkompeten dalam bidang itu, listrik misalnya, asalkan kamu mempunyai komitmen tinggi untuk menjunjung tinggi dan memperjuangkan jabatan atau posisi kamu saat ini, semuanya akan ada dalam lindungan Tuhan dan akan diperlancar jalanmu.
Saya masih ingat di awal semester 3 ketika kuliah, saat itu saya ingin pindah kelas dari kelas reguler ke kelas sore lantaran saya harus bekerja di pagi harinya sebagai guru di sekolah menengah. Salah satu pegawai di Kantor Administrasi Kampus menanyakan alasan saya kenapa pindah, langsung saja saya jawab, ya karena paginya saya bekerja Bapak. Tapi tanggapan dari Bapak itu masih melekat di benak saya ketika Bapak itu berkata:
"O.. uwis payu to semester 3!"
Saya tidak memahami pada awalnya, tapi saya yakin beliau sedang meragukan posisi saya yang juga sebagai guru di saat saya berada di semester 3. Inilah paradigma masyarakat yang perlu dirubah. Saat semuanya tidak cocok alias mismatch kamu bukanlah orang yang pas. Tapi semua itu salah, meski saya bukanlah sarjana pada saat itu dan hingga sekarang karena saya belum lulus S-1 dari perguruan saya belajar, tapi kalau saya berniat baik untuk mengamalkan ilmu yang saya miliki dan saya berkomitmen untuk mengangkat komitmen saya ini tinggi- tinggi saya yakin tang di atas lebih tahu dari pada Anda!
Sudah selayaknya mainstream ini kita rubah. Buat apa kita memperdebat hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan, melainkan ditunjukkan! Sudah selayaknya kita memikirkan posisi dan jabatan yang kita miliki sekarang. No matter what we are asalkan kita memperjuangkan alasan kita dan komitmen kita mengapa kita berada pada posisi seperti saat ini, saya yakin jalan saya, jalan Anda akan diperlancar! Terimakasih.
~Osy~

No comments:
Post a Comment