Thursday, 10 May 2012

Dear Someone

Melihatmu sama seperti menikmati senja di sore hari. Meresapi setiap teriknya. Memandang halus setiap bulir cinta sore matahari. Dan itu canduku.


Seperti saat ini. Berdiri di antara orang-orang yang memesan satu paket makanan cepat saji yang menu utamanya ayam goreng, aku menghempaskan pikirku sejenang ke selayang senja yang menggelitik perhatianku. Wajar saja jika aku merindukanmu. Senja adalah canduku. Canduku yang mengisap sepiku dan menggantikannya dengan amukan rindu akan kamu. Sudah aku empas jauh-jauh rindu ini. Tapi seiring dengan semakin berderunya sinar senja menghujani setiap sudut tempat makan ini, bahkan sinar temaram sorenya menyentuh lantai-lantainya menciptakan bayang panjang sore, aku jadi semakin yakin bahwa kau adalah sinar soreku. Tapi biarlah toh aku juga menikmatinua.


Tiba giliranku sekarang. Aku meneasan satu paket nasi lengkap dengan ayamnya dan juga coke. Semuanya lengkap untuk mengusir sore ini. Apalagi ingatanku akan kamu. Oh lupakan-lupakan. Sudah ayo segera bergegas membawa nampan ini dan mencari tempat makan yang seru.


Pikirku sekilas tertuju pada jam di cashier tadi. 17.17. Lucu juga ya. Pengulangan angka yang sama. Sama seperti dulu. Sering juga aku dan kamu berlomba mencari pengulangan waktu seperti sore ini. Dan kamu selalu jadi yang pertama. Kamu lebih dahulu menemukan kombinasi angka yang sama pada jam digitalmu. Aku mencemburui itu.


Akhirnya aku mendapatkan satu kursi di ujung yang sepertinya akan menjadi penghabisanku sore ini. Senja itu telah menyita perhatianku, membuat tingkat kelaparanku lebih tinggi dari biasanya. Memang benar. Sekali kau menyita aku, sekalian juga aku merasa lapar. Mungkin ini bodh. Tapi ini natural. Dan aku berterimakasih akan hal itu, karena dengan begitu aku akan menjadi lebih gemuk sedikit.


Tanganku terasa lebih cepat tanggap kali ini. Buktinya nervosaku baru saja memberikan stimuli sekejap, tanganku sudah meremas ayam goreng itu. Dan yang terjadi kemudian adalah pembantaian di meja makan ini. Tapi biarlah. Toh aku lagi-lagi menikmatinya.


Senja semakin merendah. Aku diuntungkan. Karena musim kemarau ini membuatku lebih ganas menikmatinya. Tanpa ampun. Langut semakin keemasan. Aku semakin berniat menghabisi makananku.


Sesaat aku ragu.


Tiba-tiba ini menyeruap.


Kamu begitu jelas. Dan aku semakin tersiksa. Berulabng kali aku katakan dan aku kuatkan. Sekali kau membayangiku. Aku bertekuk lutut. Sepertinya kamu memang lebuh tangguh dari aku.


Nasiku sudah habis. Tapi siksaanmu lebih dalam. Menusuk lebih dalam. Ah.. Kau. Senja semakin turun. Aku semakin yakin bahwa saat ini langit kebih keemasan lqgi. Tapi aku memilih untuk tidak melihatnya.


Kamu memang lebih jago dari aku. Kamu lebih bisa membuatku tersiksa saat harus merindumu. Dan ini sudah meyiksaku.


Pukul 18.00


Maghrib telah lewat. Dan aku belum beranjak. Semakin aku menikmati senja, disatu sisi aku terbakar akan nasibku sebagai tukang rindu.  Di sisi lain aku merasa senja bersahabat. Emasnya lebuh terasa sampai Ke dalam.


Sejenak aku hendak beranjak. Dalam kebesaran hati menerima kekalahan ini. Aku mencoba menyikapinya dengan dewasa. Tapi lagi-lagi aku harus kalah.


Kembali aku dudukan aku yang kalah ini. Menikmatinya. Sakitnya.


Pada akhirnya aku merasai. Kesepian ini membunuhku. Tapi sudahlah. Karena pada dasarnya aku harus mengalah. Mengalah pada rindu akan keberadaanmu. Tapi itu hanya sebuah stigma belaka. Kali ini aku benar- benar beranjak dari tempatku duduk. Meninggalkan piring kosong dan sisa- sisa tulang ayam. Gelas coke-ku sudah kosong. Dan aku berangkat.


Sesaat aku menengok jam digital di cashier tadi. Pas.


18:18


***

Pukul 18:18

Di saat yang sama ...


Dear kamu,

Aku tahu. Kali ini aku menang lagi. Tak bisa kau pungkiri lagi. Karena aku selali kebih beruntung dari kamu. Angka ini mewakili perhelatan kita. Kamu kalah. Aku menang.


Published with Blogger-droid v2.0.4

No comments:

Post a Comment