Jalan ini sebenarnya sudah saya ketahui agak lama, dan saya juga pernah mencoba jalan ini juga. Bukan jalan utama sebenarnya. Ini adalah sebuah jalan alternatif yang melewati beberapa wilayah yang tidak dilalui beberapa kendaraan besar dan ugal- ugalan seperti jalan yang biasanya saya lalui - yaitu jalan utama Jogja - Semarang. Ini merupakan jalan yang membimbing saya kepada sebuah perjalanan spiritual dan emosional pada sore hari ketika pulang dari Kampus, di Universitas Tidar Magelang.
Layaknya sebuah perjalanan wisata dan saya selalu menikmati perjalanan ini karena semua landscape yang ditawarkannya sangat sensasional dan mengagumkan. Saya memang terbiasa pulang sore - hampir Maghrib atau bahkan lewat Maghrib, dan perjalanan akhir- akhir ini yang saya ambil sungguh mempesona saya yang membuat saya tak ingin melewatkan satu moment pun. Saya selalu amaze dengan semuanya. Saya sangat paham betapa indahnya jalan- jalan sore melewati wilayah persawahan di kanan kiri kita, dengan pemandangan desa yang sungguh biasa tapi memberikan rasa dan betapa indahnya lagi ketika satu dua kali kita bisa menikmati sore dan senjanya. Pernah saya berhenti untuk mengambil sunset yang ada saat itu, padahal wkatu sudah maghrib. Dan mungking inilah yang akan menjadi hobi saya selanjutnya, selain keranjingan dengan gunung, saya juga berusaha mengembangkan diri saya menjadi Sun Set Seeker!! :D
Lalu sebenarnya apa yang saya cari dari perjalanan saya?
Jawaban saya TIDAK ADA. Saya tidak mencari apa- apa. Saya sebenarnya tidak mencari senja -senjalah yang mengawinkan saya pada moment itu. Dan kami saling terikat. Bukan saya mencarinya. Landscape persawahan dan pedesaan - juga bukan, karena kami saling jatuh cinta satu sama lain, dan tidak ada yang mendahuluinya. Semuanya berjalan natural tidak ada sebuah paksaan.
Lalu apa?
Sebenarnya inilah yang sedang saya gali dari kutipan Dee ( Dewi Lestari) pada novelnya Perahu Kertas. Seperti dalam kutipan novel tersebut yang menjadi salah satu novel andalah saya untuk berbagi kepada orang lain tentang sebuah filsafat sederhana hidup, dikatakan
" ... berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi."Lalu apa hubungannya?
Jalan yang saya lalui adalah jalan biasa, jalan pada umumnya. Jalan yang lain juga ada. Jalan yang sama membawa saya menuju rumah saya, melalui proses yang sama akan tetapi ditemani oleh teman yang berbeda. Jalan yang saya ambil adalah jalan yang sama sekali lagi. Membawa saya ke rumah, ke kamar saya, ke dapur di rumah saya, ke tempat sholat di kamar saya. Tetapi jalan yang saya ambil adalah jalan yang berbeda dengan yang sering saya lalui, lebih sedikit lama, dan lebih menghibur karena saya melaluinya dengan penuh ketenangan layaknya saya mengikuti kelas yoga karena pemandangan yang ditawarkannya, tapi sama saja, jalan adalah jalan. Jalan itu membawa saya ke rumah saya. Tapi prosesnya berbeda.
Inilah hidup seperti yang ingin dikatakan Dee dalam novelnya. Satu lagi, inilah pembelajaran universal tentang arti mengapresiasi hidup kita : menantang arus, membawa diri kita berputas pada suatu kondisi yang berbeda yang membawa kita kepada dunia kita pada harfiah yang sesungguhnya.
Sepertihalnya sebuah proses metamorfosis yang mengantarkan ulat menjadi wujud yang sangat indah dan mengagumkan, sebuah fase baru untuk menjadi cantik, menjadi diidolakan oleh semuanya. Tapi, sayang, untuk menjadi yang indah ulat harus menjadi yang buruk dulu, menjadi kepompong yang tak pernah dilirik -sebuah jalan baru untuk menjadi yang bukan dia, tapi mengantarkannya kepad suatu kondisi yang sangat diminati oleh semuanya.
Inilah sebuah esensi hidup sebenarnya. Perlu banyak jalan untuk menjadikan kita sesuatu yang sangat berarti. Walau kadang langkah itu akan terhalang karena kita kadang harus menjadi yang bukan kita, menjadi hal yang kadang kita benci, kadang kita tidak mau, tapi pada akhirnya, kita akan menemukan wajah baru dari kita, dari proses itu kita belajar bahwa tangan Tuhan tidak pernah terduga. Pelajarilah, karena "There will be a rainbow after the rain."
~Osy~
No comments:
Post a Comment