Wednesday, 29 August 2012

It's Time to See YOU!


It's may be more than just a couple days since I'd posted my last post on my blog. How are you guys anyway? I'm feeling good here when I let myself be in front of my netbook enjoying the WiFi in my office. It was so much interesting ya know!!

Well, beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke rumah salah satu teman saya yang ada di Temanggung, in fact I'm living in Temanggung too, but it's lil bit out of town, so when I miss one of my greatest friend, I've gotta move to the centre, sometimes it sounds silly.

Seperti biasanya, saya menikmati momen ini karena saya akan bertemu dengan teman lama saya, berbagi cerita atau hanya berkumpul saja, dan kadang berkuliner. Well, untuk yang terakhir tadi rasanya sangat bersyukur sekali ketika saya masih bisa menikmati kuliner di Temanggung, dan saya merasa bahwa hampir semua orang terlalu mencintai hal yang satu tadi. Culinary brings us more than just happiness but also something good else, sharing, stories, or even just gathering - just to see that we have someone else on this earth! :)

Dan dari pertemuan saya itu, saya terlampau sangat bersyukur hingga saat ini, karena terbukti walau hanya dengan sekedar bertemu ternyata it brings joy and excitement. Saya akhirnya bisa mendapatkan satu pencerahan dari kuliah singkat Ayah dari teman saya tersebut. Dan saya sudah menduganya. Sering dari sekedar obrolan biasa kemudian dengan tiba- tiba Ayah teman saya mengeluarkan jurusnya -mengeluarkaan kalimat puitis kadang bernada sinis atau romantis, untuk membumbui obrolan kami agar lebih hangat dan lebih menggigit saja.

Well, kalau kemarin saya mendapatkan sebuah cerita yang memang sangat bermanfaat. Kisah tentang dua ekor burung yang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup di bumi. Yang satu adalah burung malas sementara yang satunya lagi adalah burung bodoh. Dua- duanya dianugrahi kesempurnaan sebagai salah satu ciptaan Tuhan yaitu sayap karena mereka adalah burung. Jadi, sudah barang mutlak ketika kita melihat dua ekor burung tersebut. Tidak ada yang kurang, semuanya perfect. 

Tapi amat sangat disayangkan. Both of them have their own wings, this means it'd possible for them to see the beauty of the world. Instead of being stucked on earth without knowing what to do or what you gotta do. 

Sama halnya dengan dua burung tersebut. Physically they are perfetc. Sayap ada, dan bisa digunakan untuk terbang. Mata juga ada yang bisa digunakan untuk melihat dan mengamati dunia, atau bahkan untuk melihat keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya sudah ada pada mereka. Jadi bukan barang mustahil lagi kalau mereka ingin terbang dan tinggal kepakkan sayap saja dan semuanya voi la!

Tapi semua hal yang ada di dunia memang kelihatannya sempurna dan indah, tapi belum tentu yang indah- indah dan sempurna itu bakalan menjadi sempurna dan indah di sisi lainnya. Let's see. Kedua burung itu memang sudah sempurna secara fisik, tapi burung yang satu adalah burung yang bodoh. Dia memiliki sayap, mata, kaki, dal lainnya tapi dia adalah burung yang bodoh. Dia adalah burung yang tidak tau bagaimana cara menggunakan apa yang melekat pada dirinya. Terlebih dia bahkan tidak tahu juga kalau dia adalah seekor burung. Hasilnya apa? Dia tidak bisa terbang, dan selamanya dia hanya berpijak saja pada kakinya. Tidak ada manfaaat yang dia bisa ambil dari takdirnya sebagai seekor burung. Jadi semua hal yang ada padanya -semua kesempurnaan fisik yang melekat padanya bakalan tidak berguna alias nothing untuknya karena dia sendiri tidak memahami takdirnya sebagai seekor burung.

Yang kedua adalah burung yang malas. Dia adalah burung yang secara fisik dan kasat mata sempurna. Fisik mendukung untuknya untuk terbang dan melihat indahnya dunia. Tapi sayang sekali, dia bukanlah kategori burung yang mau mengerti keadaan juga. Berbeda dengan burung yang pertama, burung yang kedua ini adalah burung yang tahu bagaiaman cara mengepakkan saya sehingga dia bisa melayang dan terbang. Dia tahu bagaimana cara menggunakan sayapnya, matanya bahkan juga kakinya. Jadi sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak terbang karena semuanya ada. Yang disayangkan hanyalah satu. Dia adalah burung yang pemalas. Burung yang tahu semuanya tapi malas untuk memanfaatkan apa yang dipunya.Dia mengerti bagaimana caranya untuk terbang. Dia tahu bagaimana caranya untuk melihat dunia, tapi lagi- lagi karena dia malas, jadinya tidak ada yang perlu diambil dari semuanya. Alhasil, dia juga stuck in a moment. Tidak ada progress yang berarti dari dia.

Saya cukup terkesima dengan cerita burung tersebut. Kedengarannya memang simple dan sederhana saja, tapi setelah kita kaji lebih dalam semuanya sangat berguna. 

Dari dua kisah burung tersebut saya sendiri bisa menyimpulkan, bahwa ada banyak tipe makhluk di bumi ini sebagai ciptaan dari Sang Khalik. Dua cerita burung dan dua karakter burung di atas sudah mewakili salah satu dari banyak karakter manusia yang ada di bumi. Ada banyak dari kita yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sehingga dari potensi tersebut akan tercipta sebuah hal lain yang sama besarnya yang kedepannya akan membuka peluang lain yang jauh lebih besar. Tapi sayangnya kita terlalu bodoh dan naif untuk melihatnya, kita terlalu merunduk sehingga segala potensi yang ada tersebut berasa sia- sia saja dan kelihatannya jauh di bawah sempurna, padahal kalau kita mau melihatnya lebih dalam akan menjadi berbeda ceritanya. Sama halnya dengan burung yang bodoh tadi, kalau saja dia tahu dan mengerti bagaimana caranya mengepakkan sayapnya, mungkin ketika dia dihadapkan pada predatornya, dia akan memiliki kesempatan besar untuk bisa menghindarinya dan menyelamatkan dirinya.

Sementara dari kisah kedua yang ada, kita bisa mengambil pemahaman bahwa banyak dari kita yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, dan masing- masing dari kita juga tahu bahwa kita bisa untuk menjadi besar dengan potensi itu. Sayang sekali, kita terlalu malas untuk move on. Terlalu mudah untuk merasa kecil sehingga untuk sedikit berpikir dan bergerak. Hasilnya sama dengan yang pertama, dia tidak memiliki progress yang besar untuk melihat dunia, untuk menjadi yang baru dan menjadi a brand new one. 

Dua karakter itu sudah sangat mewakili dari berjuta pasang mata yang ada di dunia. Ada dari kita yang terlalu malas untuk bergerak sehingga ketika yang lainnya sudah bergerak jauh kita masih stuck saja dan tidak ada perubahan berarti yang maksimal padahal anadai saja kita mau sedikir memikir lagi, kita masih bisa mengambil langkah baru lagi untuk bisa menjadi berbeda.

Maka dari itu, kenalilah diri kamu, temuilah potensi yang ada padamu, dan menjadilah orang pertama yang sangat memahami kamu sehingga segala yang ada pada kamu dapat dengan mudah kamu dekati dan kamu kembangkan. Tidak ada yang terlahir dengan tidak ada potensi yang melekat padanya. Semua yang lahir dan menginjakkan kaki di bumi, memiliki bakat dan potensi lebih untuk bisa dikembangkan, hanya masalahnya kita terlalu bodoh atau kita terlalu malas saja.

Thanks for visiting,

~Osy~



No comments:

Post a Comment