Friday, 31 August 2012

I am Happy and You?


Saya bingung ingin memulai dari mana, tapi yang jelas saya merasa bahwa semua orang berhak memiliki dan menikmati kebahagiaan mereka masing- masing, tidak peduli bagaimana kerasnya mereka harus meraihnya, yang jelas ketika kebahagiaan mereka itu sudah menjadi satu hal yang real, akan sangat memungkinkan bagi mereka untuk menikmati kebahagiaan mereka itu.

Sadar atau tidak tapi saya merasa bahwa ini benar. 

Saya pun juga tidak begitu tahu kenapa saya tiba- tiba ingin sekali menuliskan tentang ini. Jujur saja, saat ini saya sedang bingun, kalau boleh meminjam istilahnya Cherry Belle saya sedang dilema, dan galau. Bukan lantaran saya harus memilih manakah yang akan menjadi pasangan hidup saya, tapi lebih ke arah harus memilih provider manakah dompet saya akan bertambat karena saya merasa akhir- akhir ini tarif internet bulanan semakin mencekik leher saya, padahal bagi saya modem adalah hal yang paling intense dekat dengan saya. Bagaimana tidak coba, ketika saya harus mengirimkan email ke Dosen saya, akan sangat repot sekali kalau saya harus mencari warnet, apalagi kalau saya harus menyusun tugasnya wah bisa berabe kalau saya harus jauh dengan koneksi internet. 

Saya merasa internet sangat memahami saya dengan baiknya. Bayangkan saja ketika saya butuh soal- soal untuk latihan murid- murid saya, dengan lapangnya internet memberikan saya untuk berbagi. Ketika saya sedang galau atau bahkan sedang jenuh, saya bisa menuangkannya melalui blog saya ini no matter what they are going to say about my writing. Just that!

Tapi akhir- akhir ini provider internet tempat saya berlangganan kok saya rasa semakin mahal saja. Saya jadi bingung. Saya sempat browsing ke sana sini dan menemui bahwa tarifnya bahkan malah sudah naik. Wah, ini jadi sangat merugikan sekali bagi saya. Oke, saya memang pelanggan yang kurang berterimakasih kali ya. Padahal dengan tarif yang memang agak dinaikkan dan mencekik dompet saya yang sudah berkali- kali berteriak, saya akan mendapatkan banyak kemudahan dan kelonggaran. Jujur ya, saya sangat menyukai provider yang satu ini, karena jaringan dan koneksinya sangat juara, tapi mahalnya juga juara deh. 


Mungkin ini yang namanya hukum keseimbangan. When you want to get something, at least you've gotta give something in return. 


Jadi semuanya akan berjalan dengan indahnya.  Masalahnya adalah ini soal biaya dan keadaan finansial saya yang kadang melepuh dan kadang mengembang yang tak tentu musimnya. Memikirkan pilihan manakah saya akan berlabuh, maksudnya pada provider seluler manakah, sangat sulit sekali. Seperti layaknya mau memasukkan anak kita ke perguruan tinggi favorit kita. Maklumlah, keinginan sangat tinggi, tapi ketika melihat kenyataan seperti layaknya dijatuhkan dari tebing bahkan mungkin langit yang tinggi kemudian masih diinjak- injak dengan ganasnya.

Tapi inilah yang disebut dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Kalau kemudian saya pikir- pikir lagi wajarlah ketika tarif internet seluler dinaikkan. Pasalnya, sekarang ini demand-nya sangat tinggi juga. Jadi tidak heranlah ketika harganya naik karena pasar banyak yang memintanya. Inilah yang kemudian disebut dengan hukum permintaan. Kalau dibuat kurvanya akan semakin menaik mungkin kali ya, sayang saya bukan mahasiswa ekonomi, tapi sedikit- sedikit saya masih ingat pelajaran ekonomi ketika saya SMA.

Dan sangat wajar sekali ketika kita sedang anget- angetnya dengan gadget dan sedang panas- panasnya memanfaatkan internet tapi kemudian kita banyak mengumpat karena tarif internet yang melambung tinggi karena kita mungkin harus menghadapi kenyataan bahwa we're no longer could touch the internet service as usual. 

Termasuk saya juga. Saya sekarang ini sedang gentar- gentarnya memikirkan manakah expense yang harus dipangkas sehingga saya masih bisa menikmati koneksi internet dengan modem saya itu. 

Kemudian saya bertanya- tanya, kenapa ya internet itu mahal bagi saya? 

Wajar mungkin ya mahal, karena semuanya ada di internet. Kita tidak usah direpotkan dengan semua hal ketika kita bisa mengakses internet. Kebahagiaan bagi kita inilah.

Saya merasa kebanyakan orang akan sangat bahagia ketika telah berteman dengan yang namanya internet. Baru saja saya membuka akun Facebook saya. Dan voi la. Banyak rupa dan karakter muncul di sana. Gara- gara internet juga semuanya. Saya merasa orang- orang di Facebook sangat bahagia dan bersyukur bisa berkenalan dengan internet, karena semuanya dipermudah. Bisa pasang foto baru yang sangat eksis kadang terlalu narsis juga, bisa lebih merasa rapuh sekali dengan statusnya yang seolah sinetron sekali, sangat tersiksa dan sangat meronta- ronta padalah biasa saja mungkin.

Dengan internet kita juga bisa berkenalan dengan orang baru yang sepenuhnya belum pernah kita temui, kemudian kita ajak kenalan. Berawal dari sekedar kenalan yang kemudian menjalar menjadi lebih dekat sedekat kopi darat dan lebih mendalam lagi sampai diajak kencan. Sangat fantastis sekali ya.

Bahkan ada juga yang menuai hasil di sana. Berawal dari sekedar hobby bernyanyi yang kemudian dipajang di youtube yang kemudian dilihat oleh jutaan pasang mata dan seketika itu juga membuka peluang lain untuk berkenalan dengan orang lain yang berkecimpung di dunia bisnis entertainment yang berjanji akan melambungkan namanya dan berhasil. Ada banyak aktris sampai penyanyi yang juga jebolan salah satu situs sosial di internet yang laris manis itu.

Terserah orang mau berkomentar apa, tapi inilah kebahagiaan mereka. Sepenuhnya mereka berhak untuk mendapatkannya. Sepenuhnya mereka pantas, karena ada usaha dibalik semua itu. Bayangkan saja, untuk bisa meng-upload foto kita, harus ada pengorbanan yang harus diambil. Mulai dari pose kita yang harus 100% cute dan narsis. Sampai usaha besar untuk mengkoneksikan komputer kita dengan jaringan internet sehingga foto kisa bisa terpajang dengan narsisnya di Facebook. Jadi, sudah sewajarnya mereka bahagia karena ada berbagai tahapan yang harus ditempuh, dan inilah mungkin kebahagiaan mereka. 

Kalau mereka kemudian berteriak lantang merasakan kebahagiaan mereka wajarlah ini. 

Saya sering mendengar teman- teman saya merasa bahagia dengan semua pencapaian mereka saat ini. Mulai dari cerita teman saya yang sangat bahagia sekali bisa menapakkan kakinya di puncak gunung, atau cerita teman saya yang senang sekali karena telah mendapatkan pekerjaan dan gajinya lumayan. Atau cerita lainn dari teman saya yang sedang kasmaran dengan gebetannya yang baru padahal sudah memiliki pasangan, atau hanya sekedar cerita teman saya tentang kuliahnya yang sudah mau selesai. Semuanya kedengarannya bagus dan enak di dengar. Jadi dari semua itu saya simpulkan. Semua cerita yang berbau kebahagiaan pasti enak di dengar dan disimak. 

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan itu. Saya sendiri berkata demikian. Kalau kebahagiaan yang kamu rasakan itu adalah hasil jerih payahmu untuk meraihnya, itu sangat wajar. Dan sudah sepantasnya kamu merasakannya. Jadi ketika ada yang bercerita tentang kebahagiaannya di saat- saat dia menjalani pekerjaannya saat ini, saya sangat bersyukur sekali. Kenapa? Karena itu artinya dia menjalankan profesinya dan kegiataannya dengan sepenuh hati. Tidak peduli dengan apa yang akan dia dapat. 

Saya berkeyakinan satu hal. Mungkin nilai 7 di ulangan Matematika kita pada saat kita dulu sekolah adalah nilai yang pas pasan saja. Bagus iya, tapi kurang cukup untuk dibilang indah. Tapi akan jauh sempurna sekali ketika nilai yang hanya sekedar 7 yang mungkin sangat mepet sekali dengan KKM kita di sekolah dulu, tapi nilai tersebut kita peroleh dengan perjuangan yang panjang, dan kita jalani dengan penuh keikhlasan. Jadi ketika hasilnya keluar kita akan merasa sangat bersyukyur karena walau pun hanya 7 yang ketika disejajarkan dengan nilai 9 akan jauh lebih terpuruk tapi kalau prosesnya berawal dari ikhlas dan jujur saya rasa ini sebuah kebahagiaan.

Semuanya pantas berbahagia. Tinggal bagaimana saja kita menapaki dan menikmatinya.

Jadi, ketika saya sedang bingung seperti sekarang ini dengan provider apa yang akan saya pilih, mungkin akan menjadi kebahagiaan bagi orang lain untuk membuat saya galau dan bingung untuk memilih. Bagi providernya akan sangat bahagia sekali melihat saya bingung. Tapi ada juga yang bahagia di lain pihak, seperti para penjual voucher pulsa isi ulang yang laris manis saat ini. Tapi itulah kebahagiaan mereka untuk menikmatinya, dan ini juga kebimbangan saya.

Thanks for reading!

Salam
~Osy~

No comments:

Post a Comment